Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19

Tapi untuk menjadi familiar tidak harus lewat pandemi.

Makan nasi goreng pakai paper pack sepertinya akan mulai familiar. Sejak pandemi cafe murah meriah yang terkenal tempat saya makan ini menggunakan alat makan sekali pakai.

Sendok logam diganti dengan sendok plastik. Dikemas dalam satu sachet dengan tissue. Gelas dan cangkir berganti dengan paper cup, piring menjadi paper box.

Tapi saya kurang nyaman dengan paper boxnya. Kali ini isinya nasi goreng. Saya merasa seperti makan pakai kontainer. Untuk menyendok harus melongok dalam.

Continue reading “Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19”

Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer

Sesekali WFO dimasa WFH ini membuat saya melihat perjalanan ke kantor dengan berbeda. Tak lagi membosankan. Saya malah merasa seperti mendapatkan pertunjukan langsung dengan panggung sepanjang 7 kilometer. Itulah jarak rumah saya ke kantor.

Dulu saat setiap hari berangkat dari rumah, rutinitas di pom bensin nampak seperti biasa. Konsumen datang, antri, lalu dilayani. Petugas melayani setelah sebelumnya memasukkan harga beli yang dipesan konsumen, menerima pembayaran, memberikan kembalian jika ada, dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata, panjangnya antrian akan lebih pendek jika petugas yang melayani ber baju putih bawahan hitam. Dia pegawai baru yang sedang dalam training. Rupa-rupanya konsumen mempertimbangkan hal ini dalam memilih antrian.

Continue reading “Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer”

Kucing Tiga

Saya merasa bersalah dengan ketiga kucing kami. Mereka sekeluarga awalnya berdelapan. Bapak, Ibu, dengan 6 anak. Yang 5 ekor sudah diadopsi –semoga mereka sehat.

Tersisa 3 sudah berkandang masing-masing. Hari-harinya lebih banyak disana. Makan dan tidur. Si anak suka mengeong saat sendirian.

Mendengarnya berkali-kali sering membuat saya merasa dia sedang menyampaikan sesuatu. Mengingat usianya yang baru 6 bulan.

Continue reading “Kucing Tiga”

Orang-Orang Yang Menulis

Saya kagum dengan beberapa orang rajin menulis. Mereka bisa menyiapkan waktu untuk menyusun huruf demi huruf menjadi bermakna. Mengalirkan isi hatinya kepada setiap huruf untuk bisa disampaikan ke pembaca.

Saya pun kagum dengan mereka yang walaupun sudah menulis bertahun-tahun tapi tetap mampu seperti itu bahkan lebih. Mungkin mereka adalah penulis atau orang yang konsisten.

Pun saya juga kagum dengan orang-orang yang sesekali saja menulis karena kesibukannya tetapi mampu menulis dengan baik. Tulisannya menjelaskan topik dengan gamblang semudah mengajarkan ABC kepada anak kecil.

Continue reading “Orang-Orang Yang Menulis”

Buang Sampah, Jangan Sembarangan !

Saya tertawa geli membaca berita yang satu ini. Ada orang yang membuang peti mati kosong ke sungai Bello Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan (Beritanya di Kompas.com).

Menurut keterangan, karena ‘penghuninya’ sudah dikuburkan lama, maka peti itu harus disingkirkan. Kok ya kebetulan sungai jadi pilihan.

Cuma mungkin pelakunya lupa, publik belum terbiasa melihat peti mati hanyut. Dan jika hanyutnya dalam keadaan tertutup, tentu mengidentifikasi kosong atau tidak secara visual cukup sulit.

Continue reading “Buang Sampah, Jangan Sembarangan !”

Mimpi Damai Kota Kecil

Jam handphone saya baru menunjukkan pukul 20 tapi jalanan sudah lebih banyak gelap. Lampu tempat-tempat publik sudah banyak padam. Tanda mereka sudah mengakhiri layanannya.

Istri saya sempat berkomentar seperti sedang kemalaman di jalan. Saya tahu, dia sedang rindu mudik. Membelah malam melewati belasan kota kearah pulau Jawa bagian timur.

Padahal kami cuma membelah kota ini dengan bermobil. Mengobati kangen melihat dunia luar rumah. Kebetulan istri rehat sejenak, tidak menyalakan kompor malam ini.

Jalanan sepi sungguh kontras dengan padatnya lalu lintas 3 bulan lalu. Saat pandemi belum ditetapkan.

Continue reading “Mimpi Damai Kota Kecil”

Hindari Konflik Kepentingan

Rasanya tidak ada yang lebih berat daripada konflik kepentingan. Saya lebih memilih untuk menghindari kondisi-kondisi tersebut. Biarpun dikatain bodoh karena tidak dapat memanfaatkan peluang.

Misalnya seorang ketua panitia lomba anak-anak yang mana anaknya sendiri juga terdaftar sebagai pesertanya. Sebagai ketua punya peluang untuk mengarahkan agar segala perangkat lomba meringankan salah satu peserta.

Pada kondisi tertentu bukan hanya memanfaatkan, tapi dapat menciptakan peluang. Contohnya ketua panitia lomba tadi bisa saja memberikan sinyal-sinyal yang dapat diartikan bahwa dapat membantu salah satu peserta lomba.

Continue reading “Hindari Konflik Kepentingan”

Kreatifnya Kita

Sekarang ini waktunya orang kepepet. Presiden kepepet agar segera menyelesaikan huru-hara pandemi. Gubernur, walikota, Pak Camat dan pimpinan daerah yang lain kepepet untuk segera memberikan bantuan ke warganya. Warga kepepet tidak bisa memenuhi kebutuhan seperti biasa.

Saya menyamakan kepepet ini dengan terdesak. Insyaallah tidak akan menimbulkan polemik seperti mudik dan pulang kampung itu. Tentu karena saya bukan presiden dan bukan siapa-siapa. Apalagi cebong dan kampret. BTW apa kabarnya mereka sekarang ya ?

Continue reading “Kreatifnya Kita”

Iklan Di Mana ?

Tidak terasa saya dan istri makin mahir belanja online. Selama #dirumahaja hampir tiap minggu ada paket yang datang. Kadang lebih dari sekali.

Sampai sampai anak lelaki saya cemburu. Dia tidak pernah kebagian paket. Hanya menjadi penerima dari kurir di depan rumah.

Tetangga-tetangga juga mirip. Kadang paket kadang go food. Hingga kami bisa tahu akan ada rumah yang mendapat kiriman hanya dengan mendengarkan suara motor kurirnya. Selalu pelan ketika memasuki jalan di sepanjang rumah kami.

Continue reading “Iklan Di Mana ?”