Udara pagi

Sudah 2 minggu ini saya mengalami gangguna pernapasan, efek dari flu yang sempat menyerang. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang menyebabkan susah menelan makanan disambung rasa panas pada malam hari. Puncaknya yang paling terasa panas ketika bangun tidur. Beruntung ini hanya saya alami 2 malam saja.

Tapi penderitaan bukan kelar, gangguan beralih ke hidung. Lobang kanan mampet! Ambil napas jadi tidak lancar, ngobrol ndak enak. Meler berat, tidur ndak nyaman. Perlu satu jam sebelum bisa tidur pulas karena kelelahan bolak balik badan diatas tempat tidur.

Sudah beberapa tahun ini saya tidak mau mengkonsumsi obat ketika flu menyerang. Alasannya karena memang belum ditemukan obat untuk mengatasinya hingga sekarang. Yang ada hanyalah vitamin untuk meningkatkan daya tahan dan lawan tubuh.  Hingga tubuh mampu melawan penyakit itu dengan kekuatannya sendiri.

Maka saya lebih memilih untuk ‘memaksakan diri’ berolahraga di bawah sinar matahari pagi ketika alarm tubuh sudah menunjukkan ada yang tidak beres. Ketika badan saya fit, sekali  atau dua kali olahraga gejala flu yang terasa akan sudah hilang. Tapi. ketika level fitness menurun, seperti beberapa minggu belakangan ini, maka perlu waktu yang agak panjang untuk menstimulasi tubuh agar mampu melawan.

Dimasa seperti itu, bantuan asupan sehat cukup bermanfaat. Sayur dan buah jadi motor penggerak tubuh untuk menumbuhkan pertahanan yang akan mampu memukul balik penyakit. Selain itu, bantuan udara pagi diperlukan !

Ya, ketika tenggorokan mulai terasa tidak enak atau hidung buntu sebelah, sebisa mungkin ketika bangun tidur saya segera keluar rumah menghirup udara bersih pagi. Sehabis subuh favorit saya, sekitar jam 5-6 pagi. Dengan hanya beberapa tarikan napas, dahak dan ingus bisa dikeluarkan dengan gampang. Tidak perlu pakai obat ataupun ‘kilik-kilik’ hidung hingga bersin.

Murah-meriah dan cespleng …. !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *