Selamat Pagi Tetangga

Masih cerita tentang pagi, saat dimana hidup mulai berjalan. Ada yang pelan sambil menggeliat malas,  ada yang penuh drama, ada pula yang bersemangat. Paginya sama, tapi mungkin tidak sama isinya bagi setiap orang.

Beberapa tetangga saya senang mengisi paginya dengan jalan kaki keliling komplek.  Selepas subuh berjamaah di masjid, jalan pagi dimulai. Kadang berdua, kadang juga hingga berenam. Masih gelap hingga terang. Ada yang berbaju koko, ada yang bersarung, pun juga yang berjaket. Cukup lumayan jarak tempuhnya, sekelilingan bisa sampai 2,5 km dengan rute naik turun. Walau jalan kaki, keringat bisa mengucur.

Ketika pagi makin terang dan jamaah jalan subuh –begitu saya sering menyebut sudah kembali ke rumah masing-masing, satu-dua motor sudah menyusur jalan ke luar komplek. Anak tetangga yang berseragam SMA biasanya sudah berangkat menuntut ilmu. Jarak ke pusat kota memang tidak jauh, tapi lalu lintas padat membuat banyak siswa sekolah harus menembus dingin agar tidak terlambat.

Ini berlaku juga untuk tetangga saya yang anaknya masih di SD tapi sekolahnya di tengah kota sementara kantor ayahnya agak kepinggir. Jadilah setiap pagi, sekitar jam 06.00 Ayah, kakak dan adik sudah siap di atas motor. Karena adik masih kecil, duduk diantara ayah dan kakak. Ibunya mengikatkan kain panjang ke badan ayah dan adik agar tidak jatuh.

Berjarak beberapa rumah dari sana, anak tetangga saya cepat-cepat berlari keluar rumah memanggil penjual roti keliling yang suaranya tidak asing lagi karena setiap pagi berkeliling dengan lagu yang sama dan diwaktu yang sama pula. Pilih-pilih sebentar lalu menyerahkan uang setelah mendapatkan rotinya dan berlari masuk rumah kembali.

Sementara tukang roti melanjutkan berkeliling yang makin lama suaranya makin tidak terdengar karena menjauh, mobil tetangga yang lain pelan berjalan menggelinding untuk membawa penumpangnya menuju tempat kerja. Tetangga yang lainpun susul-menyusul, satu persatu menuju tempat kerja masing-masing. Tersisa suara burung gereja yang mulai bercanda menyambut panas mentari.

Dan saya mulai sarapan setelah capek berkeliling ……

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *