Berkunjunglah sesekali

Sesekali berkunjunglah ke rumah sakit. Sekadar menengok saja, jangan sakit. Bertemu orang yang sakit, keluarga pasien yang terkantuk-kantuk lelah. Bertemu dengan wajah-wajah lesu di ruang perawatan. Hari-harinya terus berjalan, tapi merasa merasa tidak.

Tidak lagi berbicara mau apa besok. Tidak juga mau kemana besok. Semua berhenti sejenak, maju tidak bisa, geser tidak mampu. Hingga nanti sehat kembali pulih. Tapi bukan berlari, terseok perlahan untuk kemudian berjalan, hingga nanti kembali melaju lagi.

Menapaki koridor panjang ini saya makin mengerti. Murah sekali hidup ini, hanya diberi cuma-cuma oleh Yang Maha Pemurah. Hingga kadang terlupakan karena terlalu murah. Contohnya bernapas. Menurut kita yang sehat adalah hal biasa dan mudah. Tapi tidak bagi mereka yang sesak, paru-paru tenggelam dalam cairan yang harus di keluarkan secara berkala lewat jarum suntik. Ya…. paru-paru disuntik! Entah gimana rasanya, semoga saya tidak pernah merasakannya.

RSUP Persahabatan, 22092018

Persekutuan mengalahkan saya

Sebenarnya sudah sudah bulat tekad ini untuk segera melakukannya. Menghilangkan hal yang menurut saya sebagai ancaman bahkan bisa membahayakan orang lain. Sekarang boleh jadi tidak, tapi mungkin lain kali dia akan bertingkah. Begitu yang ada di kepala saya. Dan ketika suatu saat dia bertingkah, boleh jadi akan ada korban.

Tapi beberapa minggu ini kebulatan saya tadi perlahan sirna. Suatu pagi di bulan September –bulan yang seharusnya sudah berbasah-basah entah kenapa kali ini setetes hujanpun belum turun– perlahan dia berusaha menyerang kebulatan tekad saya. Pagi itu dia tersenyum menyapa saya ketika membuka pintu rumah. Melemparkan setangkai bunga kuning terang. Ah sayapun terpesona.

Keesokan harinya terjadi lagi. Kali ini tidak cuma satu, tapi lima tangkai bunga kuning cerah dilemparnya. Mulai banyak tingkah dia, begitu pikir saya. Tapi tanpa disadari, tumbuh penasaran di hati, apa besok dia akan melakukannya lagi. Ah inikah pengaruh pesona ?

Di hari ketiga sepertinya dia mulai bertingkah memaksa. Tidak terhitung lagi yang dia lemparkan. Saya makin bingung, tindakannya sudah tidak lagi linear, barangkali lebih tinggi dari eksponensial. Halaman depan rumah saya menguning dengan runtuhan bunga. Bunga di bulan September. Saya jadi curiga bahwa dia sebelumnya sudah merayu hujan agar tidak terburu datang. Bersekutu rupanya mereka!

Hari ke empat dan seterusnya, saya benar-benar luluh. Dia makin ganas menyerang kebulatan. Makin tak terkalahkan. Pucuk-pucuknya menguning berkelopak indah. Beberapa pucuk lain saya yakin akan segera menyusul karena sudah muncul bulatan-bulatan kecil. Raungan lebah yang menari di antara bunga-bunga yang belum dilemparkan bagai doa syukur pagi hari diiringi nyanyian indah. Tambah satu sekutu, lebah. Ah sayapun makin terpesona!

Bulat sudah tekad saya untuk menikmati indahnya warna-warnanya tanpa gerutu, tanpa khawatir dia suatu saat akan rebah. Beberapa ekor burung gereja berceloteh riang diantara dahan-dahannya yang sudah miring. Semut hitam berbaris-baris menuju setiap kembang yang mekar. Sekutu makin banyak. Dan saya sekarang masuk didalamnya. Lupa sudah niatan untuk menebang, luluh dengan bunga-bunga kuning indahnya. Ah… saya mengaku kalah.

Pagiku Pagimu

Pagi diciptakan untuk menjadi tanda saatnya orang mulai bergerak kembali setelah istirahat malamnya. Makhluk hidup yang lain pun demikian. Jika kita mau memperhatikan, Ternyata cukup banyak aktivitas menarik yang terjadi di waktu pagi tersebut.

Seperti pagi tadi ketika dalam perjalanan menuju ke kantor. Ada Sekuriti komplek yang dengan sigap membalas senyum saat aku melintas didekatnya. Beberapa ratus meter darinya kulihat seorang ibu sibuk melayani pembeli di meja jualan daging ayam segar. Dengan bersemangat dia memotong dan membungkus serat menyerahkan daging ayam pesanan ke pembeli didepannya. Tak lupa senyum disisipkan disela ucapan terima kasih.

Di ujung gang, sekelompok pria berjaket merah berjajar rapi di sela barisan sepeda motornya. Mereka adalah tukang ojeg pangkalan yang siap mengantar siapa saja kemana saja. Tentu sesuai dengan urutan yang sudah diatur oleh ketua kelompoknya.

Di perjalanan pendek ini saja, aku sudah bertemu banyak orang. Mereka semua sedang melakukan pekerjaan masing-masing dengan semangat. Sungguh Allah menciptakan pagi-pagi yang penuh semangat. Lalu pagi-pagimu bagaimana Kawan ?

Saya Perlu!

Saya perlu suara Adzan diperdengarkan !!! Terserah bagi yang ndak perlu. Jadi sangat sayang kalau ada beberapa pihak menginginkan Adzan tidak menggunakan pengeras suara dengan alasan mengganggu. Dijaman seperti ini, saya merasa malah perlu. Karena suara adzan adalah pengingat buat saya. Mengingatkan siapa saya dan kemana saya akan berakhir.

Pengingat yang paling simple adalah sebagai pengingat waktu untuk menjalankan syariat shalat. Kenapa harus diingatkan ? Gampang saja, karena punya kecenderungan lupa. Lupa akan jati diri karena terlena dengan kehidupan dunia.

Pengingat yang kedua adalah sebagai pengingat agar terus melakukan syariat karena syariat mengikat akidah. Sekali meninggalkan, maka untuk yang kedua kali akan menjadi lebih mudah meninggalkan. Begitu seterusnya hingga benar-benar meninggalkan seutuhnya. Kenapa bisa begitu ? Ya karena setan yang selalu menebar godaan.

Pengingat yang ketiga adalah sebagai pengingat siapa saya sehingga harus terus melaksanakan syariat. Ini akan memudahkan seseorang dalam menjalani kehidupan dunia. Semacam sebuah peta yang menunjukkan panduan arah dan rambu-rambu perjalanan yang memberikan panduan berhati-hati ketika berjalan.

Karenanya saya belum dapat memahami jika ada yang tidak suka adzan. Apalagi hanya karena terasa terganggu dengan suaranya. Saya sama sekali tidak terganggu!