Persekutuan mengalahkan saya

Sebenarnya sudah sudah bulat tekad ini untuk segera melakukannya. Menghilangkan hal yang menurut saya sebagai ancaman bahkan bisa membahayakan orang lain. Sekarang boleh jadi tidak, tapi mungkin lain kali dia akan bertingkah. Begitu yang ada di kepala saya. Dan ketika suatu saat dia bertingkah, boleh jadi akan ada korban.

Tapi beberapa minggu ini kebulatan saya tadi perlahan sirna. Suatu pagi di bulan September –bulan yang seharusnya sudah berbasah-basah entah kenapa kali ini setetes hujanpun belum turun– perlahan dia berusaha menyerang kebulatan tekad saya. Pagi itu dia tersenyum menyapa saya ketika membuka pintu rumah. Melemparkan setangkai bunga kuning terang. Ah sayapun terpesona.

Keesokan harinya terjadi lagi. Kali ini tidak cuma satu, tapi lima tangkai bunga kuning cerah dilemparnya. Mulai banyak tingkah dia, begitu pikir saya. Tapi tanpa disadari, tumbuh penasaran di hati, apa besok dia akan melakukannya lagi. Ah inikah pengaruh pesona ?

Di hari ketiga sepertinya dia mulai bertingkah memaksa. Tidak terhitung lagi yang dia lemparkan. Saya makin bingung, tindakannya sudah tidak lagi linear, barangkali lebih tinggi dari eksponensial. Halaman depan rumah saya menguning dengan runtuhan bunga. Bunga di bulan September. Saya jadi curiga bahwa dia sebelumnya sudah merayu hujan agar tidak terburu datang. Bersekutu rupanya mereka!

Hari ke empat dan seterusnya, saya benar-benar luluh. Dia makin ganas menyerang kebulatan. Makin tak terkalahkan. Pucuk-pucuknya menguning berkelopak indah. Beberapa pucuk lain saya yakin akan segera menyusul karena sudah muncul bulatan-bulatan kecil. Raungan lebah yang menari di antara bunga-bunga yang belum dilemparkan bagai doa syukur pagi hari diiringi nyanyian indah. Tambah satu sekutu, lebah. Ah sayapun makin terpesona!

Bulat sudah tekad saya untuk menikmati indahnya warna-warnanya tanpa gerutu, tanpa khawatir dia suatu saat akan rebah. Beberapa ekor burung gereja berceloteh riang diantara dahan-dahannya yang sudah miring. Semut hitam berbaris-baris menuju setiap kembang yang mekar. Sekutu makin banyak. Dan saya sekarang masuk didalamnya. Lupa sudah niatan untuk menebang, luluh dengan bunga-bunga kuning indahnya. Ah… saya mengaku kalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *