Dampak Mesin Pencari Bagi Siswa

Siapa sih sekarang ini yang tidak terbantu dengan kehadiran mesin pencari di internet. Sebut saja Google. Sampai-sampai dapat predikat ‘Mbah’. Mungkin karena selalu jadi tempat bertanya. Dan dibenak orang kita, seorang ‘Mbah’ kaya akan pengetahuan.

Sebegitu besarnya pengaruh keberadaan mesin pencari sampai bisa mengubah pola interaksi sosial. Misal ketika dijalan kebingungan mencari suatu lokasi. Beberapa orang memilih menggunakan mesin pencari daripada bertanya ke orang yang ada disekitarnya.

Saya terbantu sekali dengan ‘tools’ ini. Khususnya ketika menyelesaikan sekolah dulu. Mencari data, menelusur jurnal-jurnal, komparasi penelitian dan potongan-potongan buku. Tapi tidak serta-merta hasilnya bisa digunakan untuk menjadi referensi karya tulis ilmiah.

Karena informasi yang bisa diakses di internet belum tentu semuanya valid. Tergantung penulisnya. Minimal tergantung website yang mencantumkannya. Apalagi yang sifatnya User Generated Content (UGC). Web 2.0 memicu tumbuh cepatnya UGC ini.

Continue reading “Dampak Mesin Pencari Bagi Siswa”

Malu Meminta

Waktu kecil dulu saya pernah bilang ke Ibu tentang cita-cita. Tentu lebih banyak ke bentuk fantasi. Sesuai umur. Duduk-duduk uang datang sendiri. Begitu yang saya sampaikan.

Ibu tersenyum dan bertanya balik. “Cuma itu saja ?” Saya jawab, “Iya.”

Masih dengan tersenyum Ibu memberitahu. “Yang kerjanya duduk-duduk saja lalu uang datang sendiri adalah pengemis”.

Di kota kecil saya waktu itu ada beberapa pengemis yang duduk di trotoar depan toko. Didepannya ada kaleng bekas yang beisi uang pemberian dari orang-orang yang lewat.

Saya tersenyum kecut. Ibu tertawa menggoda. Tentu saya menolak. Cita-citanya bukan menjadi pengemis. Tapi Ibu tidak keliru. Mereka hanya duduk sepanjang hari. Uang datang sendiri.

Continue reading “Malu Meminta”

Rumah Kosong

Ini bukan tulisan horor. Walau saya percaya bahwa jika suatu tempat jarang dikunjungi oleh manusia maka disitu menjadi tempat kesukaan mahkluk lain tinggal atau bermain. Tikus, laba-laba, kelelawar, ular, atau yang tidak terlihat. Tapi saya lebih tertarik dengan cerita yang menyertainya. Kebetulan sekali di lingkungan tinggal sekarang beberapa rumah tetangga dibiarkan kosong.

Ada satu rumah yang kosong karena penghuni terakhirnya tidak memperpanjang sewa. Dia pindah ke rumahnya sendiri setelah renovasi usai.

Yang satunya lagi memang sengaja tidak dijadikan tempat tinggal. Dibeli, dipermak sesuai keinginan, diisi perabotan, ditinggal ke Jakarta. Sesekali datang orang suruhan untuk ‘bebersih’ taman. Cuma akhir-akhir ini jarang.

Ada yang lebih parah, dibeli, diperbaiki, ditinggalkan begitu saja. Belum kelar. Sekarang engsel pintu depannya lepas. Para tetangga mengikatnya ke tiang teras. Supaya kucing tidak bebas keluar masuk. Maling juga.

Rumah kosong lainnya lebih beruntung. Dibeli untuk anaknya yang baru lulus sekolah. Sempat ditinggali selama beberapa bulan. Lalu pindah karena anaknya diterima kerja dan penempatan di Jakarta. Sekarang tinggal di BSD.

Yang aneh ada. Kavling tanah kosong dibangun. Pondasi sudah. Dinding bata sudah naik. Dua lantai. Ditinggalkan begitu saja tanpa atap. Sekarang dijual. Senilai rumah jadi 2 lantai.

Saya juga pernah punya rumah kosong. Karena pindah kota lokasi kerja. Dikontrakkan. Tidak diperpanjang. Hingga tidak terurus. Menyisakan tagihan air hampir 2 juta. Sekarang sudah dijual.


NB: sebenarnya lebih pas disebut sebagai rumah tak berpenghuni daripada rumah kosong yak.


Laboratorium Hidup

Memelihara tiga ekor kucing cukup merepotkan sekaligus mengasyikkan. Merepotkan pada bagian bersih-bersih. Jelas! Tetangga saya sampai minta diajari cara yang paling gampang melakukannya ketika kucingnya baru datang. Selain bersih-bersih, memberi makan dan minum secara rutin juga bisa merepotkan. Apalagi ketika harus ditinggal mudik.

Bagian mengasyikkannya tidak lain adalah bisa bermain-main dengannya. Apalagi yang masih anak-anak. Energinya besar, untuk bermain-main. Melatih daya tarung sejak anak-anak. Maklum selucu apapun juga, kaum bertaring ndak akan lupa sifat dasarnya. Nanti saat dewasa, mereka yang jantan sangat membutuhkan skill bertarung yang sarat dengan cakar dan taring. Dan yang betina harus mampu mempertahankan anak-anaknya dari gangguan.

Memelihara kucing tanpa pengetahuan sebelumnya juga mengasyikkan. Mencari perilaku kebiasaannya cukup menantang. Tujuannya untuk memudahkan dalam perawatannya. Dari tiga ekor yang saya pelihara, jika dipersonifikasi masing-masing mempunyai perilaku yang berbeda.

Si Micil, jantan abu yang sudah berumur suka makan. Seporsi menggunung. Jika kurang, dia pasti mengeong setiap ada yang lewat. Baru berhenti jika diberi tambahan makanan atau di cuekin masuk kedalam rumah. Dia hafal bunyi kotak makanannya. Kalau saya ingin dia balik ke kandang, tinggal goyang-goyang kotak itu sampai berbunyi. Ndak lama biasanya dia nongol di dekat kaki.

Lain lagi Si Leri, betina putih tulang yang tidak suka dipegang. Senang menyendiri. Tapi selalu merebut tempat jika tahu Si Micil sedang di garuk-garuk bulunya. Leri memang senang di garuk-garuk, cuma ketika itu saja dia mau mendekat.

Mereka berdua berkongsi menghasilkan Si Mumun. Anak kucing penuh energi yang kejanya bermain. Sesuai umurnya, 13 bulan. Taring-taringnya masih kecil tapi tajam. Bikin lengan perih jika dia menggigit gemes. Mainan favoritnya sobekan kertas yang di bentuk seperti bola. Dasar anak-anak.

Sampai dengan bisa menyimpulkan itu butuh waktu. Kadang direvisi sampai beberapa kali. Karena waktu berubah. Atau cara menelitinya yang keliru. Tapi itu semua bagian dari asyik yang menyenangkan. Seperti penelitian di laboratorium hidup.

Antri

Saya berkesempatan mengunjungi tempat praktek penyembuhan tradisional untuk keluhan tulang, sendi dan otot. Di dalam gang tapi masyhur. Pemiliknya dulu adalah tim kesehatan klub sepakbola besar di Bandung. Sekarang prakteknya dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Beberapa piagam penghargaan, ucapan terima kasih, dan berita dari media massa terpajang di ruang tunggu kecil. Tempat prakteknya berupa rumah yang dialihfungsikan.

Kebetulan waktu itu ruangan penuh. Antri. Sesuai dengan waktu datang masing-masing. Tidak ada pengaturan menggunakan nomor, print out antrian, ataupun sekuriti yang membantu.

Yang baru datang harus menengok sekeliling. Hitung sendiri berapa banyak pasien yang sudah hadir sebelumnya. Lalu pantau terus pergerakan antrian hingga saatnya tiba untuk masuk ke ruang praktek. Tidak akan dipanggil nama. Paling-paling banter ada kepala nongol dari pintu ruang praktek sambil bilang “siapa berikutnya ?”.

Yang terbiasa dengan model antrian di tempat-tempat pelayanan umum modern pasti kebingungan. Celingak-celinguk ketika datang. Tidak ada tempat khusus yang diberi tanda sebagai pusat informasi. Orang-orang yang sudah hadir disanalah satu-satunya sumber bertanya. Maka malu bertanya sesat di antrian haha…

Saya pikir inilah kearifan lokal yang semakin hilang. Dengan sistem antrian yang tidak tertulis, tahu sama tahu, orang akan terpancing untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dulu ini berjalan lancar. Saya masih teringat bertapa mudahnya orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya pada sebuah kumpulan tak dikenal. Seperti antrian ini.

Sekarang susah sekali sepertinya orang mengobrol verbal. Candaan-candaan akar rumput menjadi barang yang langka. Ketika menunggu, orang memilih diam. Atau sibuk dengan Hapenya.

Belajar dari pahlawan

Hari Pahlawan sudah lewat beberapa waktu yang lalu.  Momentum mengenang jasa para pahlawan kita. Juga digunakan sebagai hari untuk menetapkan gelar pahlawan nasional.

Proses sampai dengan ditetapkan cukup panjang. Harus ada yang mengusulkan ke Departemen Sosial. Melalui banyak pengkajian oleh berbagai elemen masyarakat. Berjenjang dari tingkat bawah hingga ke pusat. Persyaratannya pun ketat dan diatur oleh Undang-undang (UU no 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan).

Saya yakin bahwa dari semua pahlawan yang sudah ditetapkan oleh negara tidak pernah mengusulkan dirinya sendiri. Pahlawan hanya berusaha sekeras mungkin. Memberikan yang terbaik buat orang lain. Buat Indonesia jika ingin lebih luas lagi. Tapi masih ada yang lebih luas lagi, buat kemanusiaan, buat kehidupan. Ndak peduli batas-batas yang dibuat manusia seperti negara.

Saya juga tidak mau mengusulkan diri agar mendapat gelar pahlawan. Tapi saya harus bisa mempunyai sifat-sifat pahlawan. Agar menjadi pahlawan bagi anak istri. Menjadi yang terbaik buat mereka. Diperjalanan hidup mereka yang panjang dunia-akhirat. yang hanya bisa diusahakan ketika saya masih hidup. Semoga ….!

Pertanyaan tentang Sirathal Mustaqim

Kepercayaan diri saya terusik beberapa hari belakangan. Bergelayut pertanyaan dipikiran, seputar Sirathal Mustaqim. Kenapa ada … buat apa …

Pengetahuan jadul saya tentangnya hanya sebatas pada gambaran sebuah jembatan yang lebarnya hanya selebar rambut di belah tujuh. Setiap orang akan melewatinya. Ada yang bersusah payah dengan bergantungan, merangkak, berjalan, berlari, bahkan terbang. Konon ada yang dibantu dengan naik punggung dari hewan yang dia kurbankan pada Idul Adha semasa hidupnya.

Yang berhasil sampai ke seberang, Surga sudah menunggu. Yang harus terpaksa jatuh langsung di lahap oleh api neraka yang membara. Yang sampai ke seberang yang punya pahala yang lebih banyak dari dosa. Yang jatuh berarti sebaliknya.

Maka muncullah semangat untuk menghindari jatuh dari jembatan karena terlalu berat dosa dan sedikitnya pahala. Maka ini cara efektif untuk membuat saya yang masih di Sekolah Dasar dulu memikirkan masa depan setelah hidup didunia ini berakhir. Banyak berbuat baik akan menambah pahala sekaligus mempermudah menyeberangi Sirathal Mustaqim.

Tapi apa iya sih jembatan tersebut digunakan sebagai alat seleksi siapa yang diberangkatkan ke Surga dan Neraka… Kenapa ada ‘adegan’ jembatan jika sudah ada hari hisab ? Mengapa Allah tidak mau langsung saja memasukkan ke surga dan neraka padahal Dia Sang Maha ?

Semakin tidak ditemukan jawabannya, semakin nyatalah kedangkalan pengetahuan yang saya miliki. Masih harus banyak belajar !

Jiplak Menjiplak

Saat sarapan istri saya cerita jika salah satu group di FB yang diikutinya sedang heboh dengan berbalas komen. Satu pihak menuduh yang lain menjipak karya seseorang. Yang dituduh tidak merasa karena pola untuk karya itu bisa didapat bebas di Pinterest. Semakin dibalas, komentar semakin panjang. Seperti meniup bara ditumpukan sekam. Bukannya padam malah makin panas.

Perseteruan berlanjut. Makin berkubu. Pihak yang dituduh menjiplak sudah meminta agar seseorang yang dimaksud oleh warganet karyanya dijiplak untuk angkat bicara.

Yang diminta tidak mau. Karena tahu tidak akan menyurutkan tuduhan dari warganet.

Ketika warganet bergejolak, apapun komentarnya pasti akan menambah gejolak. Seperti menenangkan riak air di ember. Disentuh makin bergoyang.

Dibiarkan saja yang benar. Entar juga berhenti sendiri. Capek mungkin. Seperti itulah alam warganet.

Kembali ke awal, apa sih yang sekarang ini tidak di jiplak ? Karena memang dasarnya pengetahuan ini tersedia dengan gratis dari Sang Maha Tahu pemilik segala pengetahuan.

Di dunia kreatif, lebih enak rasanya menggunakan istilah mencontoh yang ditambahkan dengan modifikasi. Amati Tiru Modifikasi, begitu kata orang.

Itu yang dilakukan oleh Cina. Pelajari dulu produk orang lain. Tiru dengan menambahkan fitur.

Yang ditiru juga ndak boleh berhenti kreatif.  Tetep berkarya. Daripada ngurusin orang yang menjiplak. Habis energi.