Jiplak Menjiplak

Saat sarapan istri saya cerita jika salah satu group di FB yang diikutinya sedang heboh dengan berbalas komen. Satu pihak menuduh yang lain menjipak karya seseorang. Yang dituduh tidak merasa karena pola untuk karya itu bisa didapat bebas di Pinterest. Semakin dibalas, komentar semakin panjang. Seperti meniup bara ditumpukan sekam. Bukannya padam malah makin panas.

Perseteruan berlanjut. Makin berkubu. Pihak yang dituduh menjiplak sudah meminta agar seseorang yang dimaksud oleh warganet karyanya dijiplak untuk angkat bicara.

Yang diminta tidak mau. Karena tahu tidak akan menyurutkan tuduhan dari warganet.

Ketika warganet bergejolak, apapun komentarnya pasti akan menambah gejolak. Seperti menenangkan riak air di ember. Disentuh makin bergoyang.

Dibiarkan saja yang benar. Entar juga berhenti sendiri. Capek mungkin. Seperti itulah alam warganet.

Kembali ke awal, apa sih yang sekarang ini tidak di jiplak ? Karena memang dasarnya pengetahuan ini tersedia dengan gratis dari Sang Maha Tahu pemilik segala pengetahuan.

Di dunia kreatif, lebih enak rasanya menggunakan istilah mencontoh yang ditambahkan dengan modifikasi. Amati Tiru Modifikasi, begitu kata orang.

Itu yang dilakukan oleh Cina. Pelajari dulu produk orang lain. Tiru dengan menambahkan fitur.

Yang ditiru juga ndak boleh berhenti kreatif.  Tetep berkarya. Daripada ngurusin orang yang menjiplak. Habis energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *