Pertanyaan tentang Sirathal Mustaqim

Kepercayaan diri saya terusik beberapa hari belakangan. Bergelayut pertanyaan dipikiran, seputar Sirathal Mustaqim. Kenapa ada … buat apa …

Pengetahuan jadul saya tentangnya hanya sebatas pada gambaran sebuah jembatan yang lebarnya hanya selebar rambut di belah tujuh. Setiap orang akan melewatinya. Ada yang bersusah payah dengan bergantungan, merangkak, berjalan, berlari, bahkan terbang. Konon ada yang dibantu dengan naik punggung dari hewan yang dia kurbankan pada Idul Adha semasa hidupnya.

Yang berhasil sampai ke seberang, Surga sudah menunggu. Yang harus terpaksa jatuh langsung di lahap oleh api neraka yang membara. Yang sampai ke seberang yang punya pahala yang lebih banyak dari dosa. Yang jatuh berarti sebaliknya.

Maka muncullah semangat untuk menghindari jatuh dari jembatan karena terlalu berat dosa dan sedikitnya pahala. Maka ini cara efektif untuk membuat saya yang masih di Sekolah Dasar dulu memikirkan masa depan setelah hidup didunia ini berakhir. Banyak berbuat baik akan menambah pahala sekaligus mempermudah menyeberangi Sirathal Mustaqim.

Tapi apa iya sih jembatan tersebut digunakan sebagai alat seleksi siapa yang diberangkatkan ke Surga dan Neraka… Kenapa ada ‘adegan’ jembatan jika sudah ada hari hisab ? Mengapa Allah tidak mau langsung saja memasukkan ke surga dan neraka padahal Dia Sang Maha ?

Semakin tidak ditemukan jawabannya, semakin nyatalah kedangkalan pengetahuan yang saya miliki. Masih harus banyak belajar !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *