Antri

Saya berkesempatan mengunjungi tempat praktek penyembuhan tradisional untuk keluhan tulang, sendi dan otot. Di dalam gang tapi masyhur. Pemiliknya dulu adalah tim kesehatan klub sepakbola besar di Bandung. Sekarang prakteknya dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Beberapa piagam penghargaan, ucapan terima kasih, dan berita dari media massa terpajang di ruang tunggu kecil. Tempat prakteknya berupa rumah yang dialihfungsikan.

Kebetulan waktu itu ruangan penuh. Antri. Sesuai dengan waktu datang masing-masing. Tidak ada pengaturan menggunakan nomor, print out antrian, ataupun sekuriti yang membantu.

Yang baru datang harus menengok sekeliling. Hitung sendiri berapa banyak pasien yang sudah hadir sebelumnya. Lalu pantau terus pergerakan antrian hingga saatnya tiba untuk masuk ke ruang praktek. Tidak akan dipanggil nama. Paling-paling banter ada kepala nongol dari pintu ruang praktek sambil bilang “siapa berikutnya ?”.

Yang terbiasa dengan model antrian di tempat-tempat pelayanan umum modern pasti kebingungan. Celingak-celinguk ketika datang. Tidak ada tempat khusus yang diberi tanda sebagai pusat informasi. Orang-orang yang sudah hadir disanalah satu-satunya sumber bertanya. Maka malu bertanya sesat di antrian haha…

Saya pikir inilah kearifan lokal yang semakin hilang. Dengan sistem antrian yang tidak tertulis, tahu sama tahu, orang akan terpancing untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dulu ini berjalan lancar. Saya masih teringat bertapa mudahnya orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya pada sebuah kumpulan tak dikenal. Seperti antrian ini.

Sekarang susah sekali sepertinya orang mengobrol verbal. Candaan-candaan akar rumput menjadi barang yang langka. Ketika menunggu, orang memilih diam. Atau sibuk dengan Hapenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *