Malu Meminta

Waktu kecil dulu saya pernah bilang ke Ibu tentang cita-cita. Tentu lebih banyak ke bentuk fantasi. Sesuai umur. Duduk-duduk uang datang sendiri. Begitu yang saya sampaikan.

Ibu tersenyum dan bertanya balik. “Cuma itu saja ?” Saya jawab, “Iya.”

Masih dengan tersenyum Ibu memberitahu. “Yang kerjanya duduk-duduk saja lalu uang datang sendiri adalah pengemis”.

Di kota kecil saya waktu itu ada beberapa pengemis yang duduk di trotoar depan toko. Didepannya ada kaleng bekas yang beisi uang pemberian dari orang-orang yang lewat.

Saya tersenyum kecut. Ibu tertawa menggoda. Tentu saya menolak. Cita-citanya bukan menjadi pengemis. Tapi Ibu tidak keliru. Mereka hanya duduk sepanjang hari. Uang datang sendiri.

Begitulah cara Ibu memberi menularkan pemahaman untuk mempunyai rasa malu meminta. Apalagi tanpa bekerja.

Sampai sekarang ilmu itu berusaha tetap saya pegang teguh. Keluarga saya juga. Seterpaksa apapun kondisinya.

Dalam berdoapun demikian. Saya malu rasanya untuk meminta ketika berdoa. Sejak kecil sampai tua segini ketika berdoa hanya minta ini dan itu. Walaupun ndak keliru sih sebenarnya. Allah sendiri yang memerintahkan untuk meminta hanya kepadaNya.

Cuma akan berbeda artinya jika tidak meminta kepada Nya karena hal lain. Bisa tergelincir kearah sombong. Karena manusia adalah hamba Allah. Tidak bisa lebih dari itu.

Saya malu meminta juga karena begitu banyak hal yang tidak dimintapun saya dapatkan. Bahkan tanpa usaha. Udara misalnya. Takut dinilai seperti orang tidak berpuas diri.

Tapi, ini adalah pendapat pribadi. Belum tentu sesuai dengan orang lain. Berbeda kondisi dan situasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *