Dampak Mesin Pencari Bagi Siswa

Siapa sih sekarang ini yang tidak terbantu dengan kehadiran mesin pencari di internet. Sebut saja Google. Sampai-sampai dapat predikat ‘Mbah’. Mungkin karena selalu jadi tempat bertanya. Dan dibenak orang kita, seorang ‘Mbah’ kaya akan pengetahuan.

Sebegitu besarnya pengaruh keberadaan mesin pencari sampai bisa mengubah pola interaksi sosial. Misal ketika dijalan kebingungan mencari suatu lokasi. Beberapa orang memilih menggunakan mesin pencari daripada bertanya ke orang yang ada disekitarnya.

Saya terbantu sekali dengan ‘tools’ ini. Khususnya ketika menyelesaikan sekolah dulu. Mencari data, menelusur jurnal-jurnal, komparasi penelitian dan potongan-potongan buku. Tapi tidak serta-merta hasilnya bisa digunakan untuk menjadi referensi karya tulis ilmiah.

Karena informasi yang bisa diakses di internet belum tentu semuanya valid. Tergantung penulisnya. Minimal tergantung website yang mencantumkannya. Apalagi yang sifatnya User Generated Content (UGC). Web 2.0 memicu tumbuh cepatnya UGC ini.

Bagi kalangan mahasiswa, memilah informasi yang muncul sebagai hasil dari mesin pencari sudah menjadi standar baku yang harus selalu dilakukan sebelum menjadikannya referensi dalam menyusun karya tulis atau sekedar menjawab tugas. Baca, analisa, lakukan komparasi, ambil kesimpulan.

Namun saya tidak yakin hal yang sama dilakukan oleh siswa. Contoh saja anak saya. Masih SMP. Sering sekali memanfaatkan Google untuk mencari jawaban tugas-tugasnya. Cepat. Langsung dapat jawaban dari soal yang sedang dikerjakan.

Tapi saya mulai khawatir. Akan kedalaman materi yang akan dimilikinya jika hanya jawaban sebuah persoalan yang dia baca. Penjelasan komplit ataupun pengetahuan lainnya akan terlewat. Apalagi tipikal anaknya yang lebih memilih cara cepat untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapi.

Kemampuan mencari dan merangkai data secara offline saya yakin akan menurun drastis. Berganti dengan kemampuan untuk memilih keyword yang tepat sebagai input mesin pencari.

Dan entah ada kaitannya atau tidak, kegigihan dalam melakukan pencarian didunia nyata sangat rendah. Misal saja mencari kaos kaki atau kaos olah raga. Begitu tidak ditemukan di lemari baju, dia memilih meminta pertolongan mesin pencari. Ibunya!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *