Menghalangi Rejeki Orang Lain

Group WA komplek tempat saya tinggal menghangat. Topik lama. Muncul kembali. Untuk kemudian tenggelam kembali (biasanya). Satu persatu bersuara.

 Warga komplek kecewa karena Ojol tidak boleh masuk. Yang melarang Opang. Tidak cuma melarang. Menghalangi dan sesekali mencegat. Hingga beberapa kali terjadi perselisihan.

Warga nyaman dengan Ojol. Mudah, murah, dan pelayanan bagus. Karenanya selalu mengecam ulah Opang. Makin turunlah citranya di mata warga.

Sementara itu, lewat bantuan aparat keamanan, berkali kali diadakan mediasi. Ojol hanya boleh di jalan raya. Tidak boleh masuk ke jalan-jalan yang menuju perumahan.

Tentu warga tidak puas. Satu dua ada yang nekad untuk diantar Ojol hingga ke rumahnya. Ojolnya juga punya trik. Agar tidak dicegat. Macam-macam lah.

Menurut warga, Opang merasa rejekinya dihalangi Ojol. Sehingga khawatir pendapatannya berkurang. Ditambah kemudahan platform Ojol yang ‘mendekatkan’ ke customernya. Sementara Opang hanya menunggu customer datang.

Ada juga kabar bahwa sebenarnya yang paling dirugikan itu bukan driver Opang. Tapi oknum di belakang Opang. Yang selama ini ‘mengijinkan’ driver beroperasi.

Sementara di sisi Ojol sendiri bukan tanpa tantangan. Beberapa driver yang sempat saya tanya mengatakan sekarang makin susah. Tidak sebebas dulu. Makin ketat aturannya. 

Menurut saya wajar. Perusahaan manapun akan selalu memperbaiki sistem kerjanya. Mencegah kecurangan. Apalagi platform Ojol sarat teknologi.

Namun bagaimanapun juga, saya tidak setuju dengan anggapan bahwa ada pihak-pihak yang menghalangi rejeki orang lain. Anggapan ini subjektif. Tergantung siapa yang memandang.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa sebenarnya Allah tidak akan pernah salah memberikan rejeki. Kepada siapa dan dalam bentuk apa. Jadi jika suatu saat rejeki seseorang terhalangi, pasti itu memang bukan jalan rejekinya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *