Berani Tertawa Setelah Mencoba

Usia bukan halangan untuk mencoba hal-hal ekstrim. Tapi memang halangannya jadi berbeda. Dan jauh lebih banyak dari pada yang muda.

Dulu, orang kampung kami menyebutnya pasar malam. Sekelompok orang yang berpindah-pindah tempat menyelenggarakan taman hiburan malam. Tong Setan, Kuda-Kudaan, Ombak Banyu, jadi menu utama atraksi seminggu penuh. Dipinggir-pinggir area  dilengkapi stand mainan anak-anak, baju, dan gorengan. Malam-malam kami jadi terang.

Saya menikmati kuda-kudaan. Kuda kayu yang berbaris rapi melingkar dan berputar selama beberapa menit. Ombak Banyu lebih ‘menakutkan’ buat saya kecil. Berputar di kursi panjang dengan kaki terayun-ayun di udara. Untuk naik ke tempat duduk, saya harus di gendong dulu.

Di Tong Setan saya dan yang lainnya hanya menonton. Maklum atraksinya tidak untuk ditiru. Naik motor di sisi dalam tong besar. Untuk menontonnya Kami harus naik tangga ke bagian atas tong. Mirip seperti lihat ikan yang berputar di ember air. Cuma ini berisik minta ampun.

Waktu itu apa saja ingin dicoba. Dunia ini penuh dengan atraksi-atraksi menarik. Mungkin begitu dipikiran saya dulu. Tidak ada pikiran bakal pusing, mabok, muntah, malu dan lain sebagainya. Pokoknya menarik aja.

Jaman sekarang, pasar malam sudah lebih beragam. Sudah banyak yang permanen. Wahana hiburannya pun beragam dan canggih. Sensasi yang diciptakan lebih menantang. Tapi saya sudah tidak seperti dulu. Sebelum lihat wahana-wahana baru yang ekstrim sudah ribet pikiran. Gabungan dari kecepatan, putaran, ketinggian, dan perubahan ketiganya bikin ragu. Walau juga ada sedikit rasa tertantang.

Tantangan itu muncul saat saya lihat arena Air Race di JungleLand dua minggu lalu. Wahana ini terdiri atas tempat duduk berbentuk pesawat dengan 4 tempat duduk. Bisa berputar di 3 sumbu sekaligus. X,Y, dan Z. Bayangin aja sendiri ya. Atau lihat Youtubenya.

Bentuk badan pesawat berdimensi lucu ala kartun. Saya terkecoh, saya pikir efeknya hanya seperti wahana mainan anak-anak. Ternyata tidak. Salah satunya kami yang naik harus merasakan berputar dengan kepala dibawah dan dalam waktu sepersekian detik kemudian harus kembali ke atas. Itupun sambil berputar disumbu X dan Z. Badan saya otomatis melawan gaya gravitasi yang diterimanya. Hasilnya sungguh tidak nyaman.

Dua menit cukup sudah. Tidak akan saya ulangi lagi. Sedikit sulit untuk jalan lurus sesaat setelah turun wahana. Dunia dan seisinya masih berputar di kepala. Untung tidak muntah. Duh malunya jika terjadi. Inilah yang tidak saya rasakan waktu kecil dulu.

Haha … umur bertambah, pola pikir juga bertambah. Kadang juga sampai bablas yang seharusnya ndak perlu dipikir jadi dipikir dalam. Sambil duduk didekat arena, sedikit sesal muncul, kenapa juga pake acara naik wahana beginian. 

Tapi itu berubah secepatnya segera setelah Air Race berputar-putar dengan kencangnya. Dengan ‘pilot‘ rombongan setelah saya. Sayapun tertawa demi melihat ekspresi mereka. Rasain… !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *