Ujian Lelaki

Kalau para wanita bilang dia yang paling kuat karena harus melahirkan, coba bayangkan kaum lelaki dalam kondisi ini. Lelaki muda yang masih bernama bocah. Harus rela terluka. Di potong bagian tubuhnya. Ya… tulisan ini tentang lelaki.

Usia muda bukan halangan untuk menghadapi tantangan yang teramat besar. Berhadapan dengan pisau tajam atau belati dari kulit batang bambu –welat, orang kampung saya dulu bilang. Maka kami para bocah kampung harus melewati situasi monumental yang akan merubah sejarah.

Dari seorang bocah melangkah memasuki persiapan baligh. Masa dimana lelaki belajar mempersiapkan kehidupan yang harus ditanggungnya sendiri. Dosa dan pahala. Masa yang berat, harus penuh ke hati-hatian. Karena akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan setelah mati nanti. Fase dimana manusia tidak memungkinkan menambah pahala dan sekaligus dosa dengan usahanya sendiri.

Momentum ini sekaligus juga sebagai penyelesaian salah satu tugas dari orang tua. Inilah ajaran agama. Menapaktilasi Nabi Ibrahim AS (salah satu hadist yang menceritakannya http://hadits.in/bukhari/5824 ). Yang secara medis sudah dibuktikan manfaatnya. Menghilangkan tempat berkumpulnya kotoran yang mengganggu. Orang tua pun senang melaksanakannya.

Maka tak heran jika ada yang menjadikan hari itu sebagai hari dimana sang bocah menjadi raja. Ayah Bunda memberikan hadiah. Kakek nenek setia menunggui cucu hingga pulih. Om tante berlomba memberi senyum. Semua demi semangat si anak.

Baru-baru ini tetangga saya rela tidak kekantor untuk menemani anaknya yang tetiba saja minta dilaksanakan kewajiban ini. Tanpa babibu lagi, langsung dilaksanakan. Karena dalam hal ini, si anak meminta itu sudah jarang. Biasanya diiming-imingi bermacam hadiah atau janji hadiah.

Well, inilah dunia lelaki. Inilah ujian lelaki. Harus dihadapi. Setiap lelaki muslim. Disunat!

*Tulisan ini dibuat atas inspirasi Sunatan masal di kantor

@OmaMitoha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *