Kanvas Kota

Bandung gudangnya kreatifitas. Anak-anak mudanya terutama. Musik, film, tari, buku, gaya hidup, arsitektur, mode, aplikasi, games, fotografi, lukisan, dan yang lainnya. UNESCO pun mengakui Bandung sebagai kota kreatif.

Sayang rasanya jika tidak menikmatinya. Salah satu yang sering saya lihat di jalan Siliwangi. Karya lukis anak-anak seni rupa ITB. Di dinding beton penahan bukit diatasnya.

Lukisan dinding sudah seperti budaya kota. Ada alirannya sendiri. Grafitti atau mural. Bomber, sebutan pelakunya di Indonesia. Banyak yang tergabung. Hampir ditiap kota. Grafittinya juga.

Setiap ketemu lukisan ini, saya sempatkan melihat. Menebak ‘suara’ apa yang diteriakkan oleh pembuatnya. Persis lukisan, tapi ini kanvasnya tembok atau bahkan publik transport. Kanvasnya kota.

Continue reading “Kanvas Kota”

Demi Pelanggan Yang Selalu Penasaran

Awalnya tetangga saya yang cerita. Ada fasilitas baru di bandara. sebuah layar monitor besar yang menayangkan proses bag handling. “Itu bagus,” katanya “kopernya pake di lap dulu.”

Saya penasaran. Kebetulan beberapa waktu lalu ada kesempatan ke Surabaya. Lewat Bandara. Tapi di terminal keberangkatan saya tidak menemukannya.

Padahal saya sangat ingin tahu. Nasib koper-koper yang di titipkan ke bagasi setelah cek in. Bergerak sepanjang ban berjalan. Dari tempat cek in hingga luggage towing truck.

Continue reading “Demi Pelanggan Yang Selalu Penasaran”

Selera Spooky

Kawan saya langsung berkomentar. “Ih tempatnya spooky.” Dan memang benar. Jika yang dimaksud kawan saya dengan spooky itu adalah gedung dengan ornamen ketinggalan jaman, saya setuju.

Memang, kali ini kami akan mencicipi tempat menginap bernuansa alam di Bogor. Dibangun 1997. Dengan halaman yang sangat luas.

Pertama kesini 2014, sudah cukup lama. Tapi tidak banyak berubah. Halaman depan luas dengan kerbau. Patung seukuran kerbau beneran.

Loby terbuka tanpa dinding. Mirip balai desa diseberang rumah nenek. Kolam ikan dibeberapa sisi membuat adem. Walau sebenarnya pepohonan di halaman sudah mendatangkan hal itu.

Halaman belakang lebih luas lagi. Hampir mirip kebun raya. Tapi dengan penginapan dan segala fasilitasnya. Restauran, kolam renang, lapangan tenis, tempat fitness, playground.

Semuanya dibuat menyatu dengan alam. Terbuka. Kalaupun ada yang indoor tetap dengan kaca lebar. Agar yang didalam tetap merasa satu dengan luar.

Continue reading “Selera Spooky”

Kepepet itu baik atau buruk?

Kepepet itu terdesak dalam bahasa jawa. Bisa bermakna secara fisik seperti kondisi berhimpit. Atau juga bisa dimaknai secara non fisik seperti sedang seseorang yang punya pekerjaan begitu banyak tapi harus diselesaikan dengan singkat. Juga seperti tim sepak bola yang harus menang tapi sedang dalam posisi tertinggal dan waktu mendekati akhir.

Seperti Manchester United yang saya ceritakan tentang final liga Champion 1999 di tulisan saya ini. Dalam keadaan tertinggal 0-1 dan sudah memasuki injuri time mereka benar-benar kepepet. Tidak mampu merubah keadaan berarti piala melayang. Pesta buat lawannya. Tapi mereka ternyata mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan menyamakan kedudukan dan bahkan membalik kekalahan menjadi kemenangan. Menang 2-1 di menit ke 93.

Heroik, dari kalah berbalik menjadi menang. Salah satu penyebabnya karena kepepet. Tidak punya pilihan lagi selain memberikan yang lebih dari sebelumnya. Dimodali dengan motivasi untuk tidak menerima keadaan yang sekarang. Motivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Seperti Manchester United itu. Mereka tidak mau melepaskan gelar juara yang sudah didepan mata.

Continue reading “Kepepet itu baik atau buruk?”