Kepepet itu baik atau buruk?

Kepepet itu terdesak dalam bahasa jawa. Bisa bermakna secara fisik seperti kondisi berhimpit. Atau juga bisa dimaknai secara non fisik seperti sedang seseorang yang punya pekerjaan begitu banyak tapi harus diselesaikan dengan singkat. Juga seperti tim sepak bola yang harus menang tapi sedang dalam posisi tertinggal dan waktu mendekati akhir.

Seperti Manchester United yang saya ceritakan tentang final liga Champion 1999 di tulisan saya ini. Dalam keadaan tertinggal 0-1 dan sudah memasuki injuri time mereka benar-benar kepepet. Tidak mampu merubah keadaan berarti piala melayang. Pesta buat lawannya. Tapi mereka ternyata mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan menyamakan kedudukan dan bahkan membalik kekalahan menjadi kemenangan. Menang 2-1 di menit ke 93.

Heroik, dari kalah berbalik menjadi menang. Salah satu penyebabnya karena kepepet. Tidak punya pilihan lagi selain memberikan yang lebih dari sebelumnya. Dimodali dengan motivasi untuk tidak menerima keadaan yang sekarang. Motivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Seperti Manchester United itu. Mereka tidak mau melepaskan gelar juara yang sudah didepan mata.

Alur seperti ini banyak menjadi pilihan cerita dalam film. Lakon jagoan tidak menang sejak awal. Si jahat dibiarkan merajalela mengumbar nafsu. Mengambil harta orang lain, menghancurkan gedung, menyandera anak istri lakon, bahkan ada yang memusnahkan separuh manusia. Semuanya dengan tujuan membuat sang lakon kepepet nilai kemanusiaan, kebajikan, nurani. Ketika sudah memuncak, maka berbaliklah dia merubah keadaan. Berjuang!

Namun menurut saya, kepepet bukan sebuah strategi yang baik. Tidak boleh jadi pilihan. Baru bertindak jika sudah kepepet. Sangat besar resikonya. Karena setiap tindakan selalu ada 2 kemungkinan, sukses dan gagal. Di film, sangat jarang berakhir dengan gagal. Semuanya sukses. Karena film semacam penyampaian sebuah nasehat kepada pemirsanya. Pesan kegagalan biasanya sulit diterima. Apalagi film action.

Karena sangat besar resikonya, maka energi dan reaource yang dibutuhkan saat itu jauh lebih besar daripada biasanya. Misal ketika sebuah proyek dikejar waktu karena suatu sebab yang tidak diperkirakan sebelumnya. Pemilik dan pelaksana harus kerja lebih lama atau dengan lebih banyak orang. Bahkan bisa keduanya bersamaan. Juga masih ada resiko menjadi lebih kacau.

Menghindari situasi kepepet sangat diperlukan. Caranya dengan melakukan antisipasi segala kemungkinan yang dapat mengganggu kelancaran kegiatan pencapaian tujuan. Lalu dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Pelaksanaan yang dilakukan pada waktu yang sempit beresiko meningkatnya faktor kesalahan.

Jadi, kepepet bisa menjadi motivasi atau malah meruntuhkan. Mana yang lebih baik ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *