Ramadhan, Pintu-pintu Dibuka dan Ditutup

Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu

Cukup lama saya menyimpan pemikiran awam tentang hadist ini. Yang pastinya muncul karena keterbatasan pengetahuan saya tentang Ramadhan dan seluk beluknya.

Jika dilihat terjemahan hadist dalam bahasa diatas, nampak cukup jelas. Bahwa pintu-pintu surga di buka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan di belenggu.

Tapi saya malah terbawa logika. Setiap tahun Masehi selalu ada bulan Ramadhan. Ada ibadah wajib bagi muslim selama periode itu. Puasa. Yang berpuasa tentu muslim yang masih hidup.

Nah, surga dan neraka itu kan masih nanti. Logika saya menyentak. Lalu apa terjemahan tadi berarti menyejajarkan yang sekarang dengan yang akan datang. Jadi pintu-pintu yang dibuka dan ditutup itu buat siapa ? buat kapan ? Kan yang puasa masih hidup.

Di suatu kesempatan, seorang kawan memberi perspektif lain. Bahwa surga dan neraka itu bisa jadi bukan hanya nanti. Tapi ada juga ketika hidup.

Rasa bahagia bisa jadi adalah surga. Tidak kelaparan bisa jadi adalah surga. Tenang bisa jadi adalah surga. Keluarga yang utuh bisa jadi adalah surga. Sehat bisa jadi adalah surga.

Sedang kesulitan, kesedihan, sakit, bisa jadi adalah nerakanya. Yang berkesan negatif bisa jadi adalah nerakanya.

Tergantung perspektif masing-masing. Kawan saya buru-buru memberi batasan agar saya tidak ‘kebablas‘. Karena kadang sekarang negatif tapi beberapa waktu kemudian menjadi manfaat. Begitu kawan saya memperingatkan.

Karenanya saya menuliskan dengan ‘bisa jadi’. Selain Nabi Muhammad, belum ada manusia yang melihat surga dan neraka.

Saya merasa sudah sampai batas logika. Perspektif kawan saya tadi berhasil memberikan wawasan baru.

Maka saya yakin manfaat Ramadhan tidak hanya bisa di rasakan nanti setelah hari akhir, tapi juga saat manusia hidup. Saat menjalaninya. ‘Surga dan neraka’ yang sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *