Debat

Debat politik. Saya tidak paham salah satu ataupun keduanya. Tidak ada manfaat yang saya rasakan. Pelakunya tidak akan mendapatkan kemenangan. Rasa puas mungkin iya. Tapi tidak akan lama. Haus akan kepuasan lainnya menyusul.

Karenanya debat apapun sebisa mungkin akan saya hindari. Masih bisa hidup dengan nyaman kok meski tanpa debat. Ikut debat bukan hebat. Tidak ikut debat bukan juga berarti tidak hebat.

Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing

Cuplikan diatas saya ambil dari terjemahan KBBI daring untuk kata dasar ‘debat’. Jelas sekali tujuannya bukan untuk mencari titik tengah. Tapi mempertahankan pendapat. Tentunya yang baik adalah yang didukung dengan data dan fakta.

Dan makin jelas buat saya untuk tidak tertarik. Melakukan ataupun sekedar mengikuti. Mengapa bukan diskusi untuk berkompromi saja? apa karena kompromi berkesan negatif ?

Saya masih ingat ketika Sekolah Dasar (SD) dulu diajarkan bahwa Bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang ramah. Kekeluargaan menjadi basis dari segala penyelesaian permasalahan. Mikro maupun makro di level negara.

Saya yang masih SD itu cuma bisa membaca dan menghapal. Kemampuan memahami masih belum banyak. Maka ‘kekeluargaan’ itu jadi kata yang familiar tapi tanpa makna. Pokoknya baik dah. Masalah apapun, harus pakai alat solusi itu.

Namun kepositifan makna kekeluargaan ini bergeser setelah banyak terbongkar praktek-praktek solusi kekeluargaan ini diimplementasikan untuk tujuan negatif.

Misalnya untuk menyelesaikan problem pelanggaran aturan di jalan. Pelanggaran hak-hak umum. Dulu sekitar periode 80-90 an hal-hal ini disolusikan kekeluargaan sehingga ‘tidak berisik’.

Kekeluargaan yang kebablasan jika seperti itu. Sehingga tidak tercipta pemerataan. Dalam hal menikmati hasilnya. Ah… makin rumit saja. Memang harus ada batas yang jelas kekeluargaan yang baik itu seperti apa.

Kekeluargaan ini juga masih mendasari keyakinan saya bahwa sebenarnya bangsa ini sejatinya tidak menginginkan debat politik seperti debat calon presiden kapan hari.

Semua permasalahan negara bisa di selesaikan pastinya. Tentu dengan bekerjasama. Bukan dengan debat.

Bekerjasama membutuhkan para pelakunya berada dalam sisi yang sama. Pandangan yang sama. Persepsi yang sama. Bukan seperti debat. Pelakunya diposisi yang berseberangan.

Sayangnya, demokrasi yang kabarnya pilihan terbaik sistem yang kita anut ini mengharuskan ada yang berseberangan. Debat menjadi salah satu panggungnya.

Tapi saya yakin, tanpa debatpun keduanya bisa bekerja bersama membangun kejayaan bangsa ini. Tanpa saling mengalahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *