April Antusias

Saya antusias! Menanti April tiba. Bulan depan, tepatnya beberapa hari lagi. Karena ini sudah akhir Maret. Tapi bukan tentang tanggal 17. Bukan tentang hajatan besar bangsa ini. Yang KPU ditunjuk menjadi Event Organizernya. Yang pesertanya gaduhnya minta ampun.

Jujur saja saya bosan dengan kegaduhan seperti itu. Yang tidak tahu tempat. Mulai dari warung kopi hingga televisi. Yang tidak tahu waktu. Sejak orang bangun tidur hingga menjelang tidur. Mungkin juga dalam mimpi. Mimpinya mereka-mereka yang menjadi relawan. Dengan totalitasnya.

Saya malah ingin menyepi. Menjauh dari ramai. Menjauh dari suara-suara saling berebut kepercayaan. Suara-suara saling menjual diri. Suara-suara saling menjatuhkan. Suara-suara saling menyingkirkan.

Mendatangi suara-suara gesekan daun pinus. Angin yang membawa aroma kayu gunung. Belalang yang kaget beterbangan. Burung yang berkicau dengan gembira. Gemeretak kayu yang berselimut api.

Saya juga sudah memilih tanggalnya. Dan berbeda dengan pilihan KPU. Tujuh April nanti. Saya juga sudah menentukan tempatnya. Di Gunung Manglayang. Tidak jauh dari tempat saya tinggal.

Makin tidak sabar saya. Apalagi dengar tonggerek disana sini merengek setiap hari. Kata orang itu pertanda musim panas akan datang. Tidak lama lagi. Tapi sesungguhnya tidak tahu berapa hari atau jam kedepan.

Tapi tanda musim panas mulai datang menurut saya yang paling pas adalah jika di langit sore sudah banyak layang-layang. Selepas Ashar. Artinya anak-anak sudah bebas mengadu layang-layang. Tanpa takut tiba-tiba kehujanan.

Tapi kalau langit pagi-pagi sudah banyak layang-layang itu bukan tanda musim panas. Tapi tanda itu hari libur sekolah!

Sumber foto: https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2019/02/06/mengenal-tujuh-puncak-gunung-di-bandung-raya

Otodidak atau lewat lembaga pembelajaran ?

Saya masih meyakini untuk bisa menguasai pengetahuan atau keterampilan bisa dengan belajar sendiri. Karena setiap kita sudah dibekali kemampuan belajar yang canggih dari Allah. Sang Maha Pemurah dan Sang Maha Tahu.

Dalam beberapa hal, belajar sendiri (otodidak) berhasil saya lakukan untuk merubah dari yang tidak bisa menjadi bisa. Misal berenang. Dulu saya tidak bisa berenang. Masuk kolam renang pertama kali ketika SMA. Langsung tenggelam di 2 meter. Pakai di ketawain sama temen-temen. Terlalu malu untuk ikut belajar berenang. Takut dibarengin sama anak kecil-kecil. Hahaha…

Dengan tekat bulat akhirnya saya bisa berenang. Gaya Katak. Tujuh tahun kemudian. Ketika lebih sering ada kesempatan mengunjungi kolam renang. Saat sudah kelar kuliah. Belajar dari melihat orang yang sedang berenang. Amati kapan tangan bergerak dan kapan kaki bergerak. Coba dilakukan. Tersedak! Amati lagi kapan ambil napasnya. Begitu berulang-ulang.

Pun demikian awalnya ketika saya tertarik dengan panahan. Ketika sudah jaman Youtube. Saya banyak mengamati dari sana. Tarik busur, bidik, dan lepaskan. Itu yang dipelajari. Nampak gampang, seperti belajar berenang dulu. Prakteknya tidak seperti itu. Banyak hal yang saya lewatkan sebelum memulai menarik busur. Dan lebih banyak hal lagi yang terlewat.

Anak saya pun sama ketika belajar memanah. Memasuki bulan ke 3, tidak terlihat perkembangan yang berarti. Bulan pertama sudah bisa dikatakan bisa memanah. Tapi sampai bulan ke tiga masih di level bisa saja. Tidak terlihat lebih efisien, pencapaian skor lebih besar, dan lebih sedikit error.

Sampai disini saya mulai kepada kesimpulan bahwa tetap pada jalur otodidak bukan lagi jadi pilihan. Anak saya pun setuju mengikuti sekolah panahan. Selama tiga bulan. Hasilnya luar biasa. Perkembangan pesat didapat. Lebih dari hanya lewat video Youtube. Efisiensi gerak dicapai, kenaikan skor diraih, tinggat error menurun. Dan memang ada pengetahuan yang terlewat diamati dari video-video yang kami pelajari.

Kami merasakan perbedaan yang cukup signifikan dari proses belajar otodidak dan lewat lembaga. Lebih baik yang mana ? Menurut saya keduanya sama baiknya. Tinggal momentum dan kebutuhan seseorang yang menentukan. Yang jelas keduanya sama-sama perlu semangat untuk berkembang. Semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Salah satunya lewat self development.

Sumber foto: https://pixabay.com

Tidak Menyentuh Kacamata Renang Bagian dalam, Real atau Mitos ?

Kira-kira sudah lebih dari 5 kali saya membeli kacamata renang. Walau berenangnya cuma sesekali. Tapi sekalinya berenang, tanpa kacamata pasti pedih setelahnya.

Ada yang bilang iritasi akibat kandungan kaporit —kalsium hipoklorit— dari air kolam. Pengelola kolam biasanya secara berkala mencampurkan bahan ini ke air. Memberikan rasa aman dari bakteri kepada penggunanya. Kaporit adalah bahan pembasmi bakteri.

Kacamata berenang sekarang ini banyak modelnya. Minggu lalu saya lihat makin keren-keren. Mengikuti tren. Frame dengan warna-warni pastel untuk kaum hawa. Dominasi hitam untuk yang macho. Warna cerah untuk anak-anak.

Bentuknya pun tidak lagi dominan bulat lonjong seperti bentuk mata. Ada yang agak mengotak, atau bulat lebar. Tapi belum pernah saya lihat yang berbentuk segitiga pun bintang 😀

Kacanya juga sudah tidak lagi dominan hitam untuk menurunkan intensitas cahaya. Saya terbantu sekali dengan yang warna ini ketika berenang di kolam outdoor saat terik.

Warna biru memberi efek sejuk dimana. Senada dengan kebanyakan warna keramik kolam. Warna kuning membuat lebih terang. Enak dipakai bagi yang suka berenang setelah matahari tenggelam.

Untuk bagian ini umumnya punya fitur anti UV dan anti fog. Anti UV sebagai pencegah sinar Ultra Violet masuk ke mata. Anti fog mencegah terbentuknya kabut di kaca bagian dalam.

Penjelasan yang saya terima dari penjual tentang anti fog ini adalah tentang keberadaan lapisan tipis kasat mata yang berfungsi mengcegah pengkabutan. Entah teknisnya bagaimana.

Namun keterangan tentang anti fog itu selalu diakhiri dengan nasehat agar kaca bagian dalam jangan sampai tersentuh jari supaya anti fognya awet. Sehingga proses pengeringan harus tanpa dilap. Dibiarkan begitu saja supaya kering dengan sendirinya.

Dan sampai disini saya selalu bertanya-tanya. Apakah ini real atau cuma mitos? Karena saya susah sekali tidak menyentuh kaca bagian dalam. Karena saat memasangnya di kepala dan membuka harus melibatkan jari tangan. Atau cara memasangnya yang keliru ?

Hiking ke Curug Batu Templek Bandung

Letaknya tidak jauh dari rumah saya. Sekitar 6 km ke utara. Sebuah curug (air terjun) kecil. Di sebuah bekas tambang batu lokal yang sekarang mulai dialih fungsikan untuk menjadi destinasi wisata. Sebuah pergeseran yang baik menurut saya. Penambangan sudah pasti mengoyak lingkungan. Pariwisata bisa melestarikan.

Curug batu templek namanya. Dinamai seperti itu karena tempat itu dulunya penghasil batu berbentuk lempengan. Biasanya menjadi bahan bangunan untuk menghias tembok pagar ataupun pengganti keramik di area outdoor.

Batu bekas penambangan masih bisa di temukan di area sebelah kanan. Melalui jalan setapak mendaki hingga 20 meter. Tumpukan batu yang sudah dilepas dari dinding curug cukup banyak. Sebagian tertutup rimbun semak liar.

Tinggi curugnya sekitar 50 meter dengan kontur dinding menonjol di beberapa bagian. Menyebabkan air tidak langsung jatuh di bagian bawah. Tapi menyebar bercabang ke kiri dan ke kanan. Memberi aksen putih di antara dominasi warna dinding batu yang kecoklatan.

Anak-anak rombongan saya hiking suka sekali memanjat di curug ini. Karena memang bentuk batuannya berlapis-lapis sehingga mudah sekali di tapaki. Namun tetap harus berhati-hati apalagi di batuan tempat yang ada air mengalirnya.

Tempat ini sekarang juga menjadi tempat pelatihan vertikal rescue. Yaitu salah satu operasi Search and Rescue (SAR) dengan kegiatan fokus melakukan evakuasi pada medan vertikal. Pekerja tambang, pekerja ketinggian, regu penyelamat, dan kalangan militer membutuhkan kemampuan ini.

Nampaknya sudah banyak orang memanfaatkan tempat ini untuk berkumpul mengadakan kegiatan outbond atau hanya sekedar botram (makan bersama). Di sisi kiri bawah curug terdapat area agak rata yang digunakan sebagai panggung. Saya merasa seperti berada dihadapan sebuah altar alami. Apalagi jika hari masih pagi. Tenang, hanya suara air jatuh dan burung.

Selain pagi hari, jika ingin menikmati dengan duduk berlama-lama di hadapan ‘altar’ itu, datanglah pada waktu musim kemarau. Karena air curug tidak besar dan lebih jernih. Pada musim kemarau air keruh berwarna coklat.

Selain dengan hiking, lokasi ini juga bisa di kunjungi dengan motor atau mobil. Naik saja di jalan Pasir Impun ke arah Utara. Mendekati lokasi akan melewati jalanan makadam di lingkungan perkampungan warga. Jangan lupa siapkan biaya tiket masuk 5 ribu rupiah untuk weekday, dan 10 ribu rupiah untuk weekend.

Bagi yang ingin mengunjunginya dengan hiking bersama rombongan anak-anak, ada baiknya membaca catatan saya tentang Yang Harus di Pahami Ketika Hiking Bersama Anak-Anak.

Manfaat yang bisa didapat ketika menemani anak berlatih

Bagi para orang tua yang kerap menemani anaknya berlatih, menunggu selesainya waktu latihan bisa jadi membosankan. Cuma duduk sambil melihat dari kejauhan. Atau jika kekinian ya main hape. Tentu dengan melewatkan banyak hal yang bermanfaat.

Padahal mengamati perkembangan hasil latihan sangat bisa dilakukan saat tersebut. Walau dari pinggir lapangan, orang tua tetap bisa memperhatikan pergerakan anaknya. Kalau terlalu jauh, menggunakan alat bantu pengamatan juga bagus. Binocular atau monocular misalnya.

Anaknya sendiri bisa jadi lebih bersemangat. Berlatih dengan lebih keras. Untuk memberikan kesan positif terhadap dukungan ortunya. Asalkan komunikasi ortu anak terjalin dengan baik. Orang tua juga memahami kondisi anak. Dan tidak terlalu campur pada tahapan latihan. Biarkan itu menjadi tugas para coach.

Manfaat lain yang bisa didapat adalah mengetahui perkembangan klub tempat si anak latihan. Dengan mengamati infrastruktur yang disediakan misalnya. Atau berdiskusi dengan pengurus untuk hal-hal yang tidak dapat dirasakan langsung.

Berdiskusi dengan sesama ortu juga boleh. Melaluinya bisa jadi akan dapat berita-berita ‘underground’ yang penting. Misalnya saja berbagi jurus ortu memelihara semangat latihan anak-anaknya. Maklum, kadang anak juga bosan latihan.

Saya sering melakukannya. Belajar dari ortu lain yang sudah lebih dahulu pengalamannya. Tidak langsung ditiru mentah-mentah. Dimodifikasi agar cocok buat anak sendiri. Karena kondisi psikologis anak berbeda-beda.

Belajar dari para coach terkait dengan teknik yang perlu dikuasai anak, membantu saya menambah wawasan teknis. Sehingga ketika sang anak latihan mandiri dirumah, ortu bisa menggantikan peran coach.

Kalau sedang malas, ya waktu tunggu bisa dipakai untuk me time. Membaca buku di mobil, menulis blog, atau minum kopi di tempat yang nyaman. Tapi jangan sering-sering. Karena kehadiran ortu bagi anak adalah sangat berharga. Tanpa perlu berkomentar menggurui.

Review Buku : The Adventure of Sherlock Holmes Edisi Indonesia

Siapa yang tak kenal dengan Sherlock Homes ?! Tokoh detektif swasta yang telah banyak menyelesaikan kasus. Melakukan penyeledikian dengan gayanya sendiri. Kemampuan pengamatan yang sangat detil dan menghubungkannya menjadi modal untuk setiap pemecahan.

Tokoh fiksi inilah yang ada pada buku The Adventure of Sherlock Holmes yang diterbitkan oleh Immortal Publishing cetakan pertama tahun 2019. Berisi 12 cerita pendek yang tidak membosankan untuk dibaca.

Buku berjenis kumpulan cerpen seperti ini jadi pilihan saya jika ingin membaca materi-materi yang santai. Dibaca sewaktu-waktu. Dan ceritanya saling lepas.

Continue reading “Review Buku : The Adventure of Sherlock Holmes Edisi Indonesia”

Tumbler

Dikantor saya ada kampanye penggunaan tumbler. Sebagai pengganti penggunaan botol plastik air minum kemasan. Sebagai bentuk nyata mengurangi sampah plastik.

Kampanye dengan melibatkan tumbler sudah cukup banyak di Indonesia. Sebagian besar memang sebagai gerakan pengurangan sampah plastik. Karena tumbler dapat dipakai ulang. Sesuai dengan konsep penyelamatan lingkungan terhadap sampah plastik: reduce, reuse, dan recycle.

Continue reading “Tumbler”

Yang Harus di Pahami Ketika Hiking Bersama Anak-Anak

Anak-anak dalam rombongan hiking perlu perlakuan yang berbeda. Merekalah superstar perjalanan. Bukan pemandangannya. Langkah-langkah kecilnya membutuhkan perhatian lebih.

Ini terjadi di hiking bulan lalu. Sebuah curug kecil yang jadi tujuannya. Di ketinggian 940 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sekitar 5 kilometer dari komplek perumahan kami. Jadi total perjalanan bolak balik 10 km.

Continue reading “Yang Harus di Pahami Ketika Hiking Bersama Anak-Anak”