Yang Harus di Pahami Ketika Hiking Bersama Anak-Anak

Anak-anak dalam rombongan hiking perlu perlakuan yang berbeda. Merekalah superstar perjalanan. Bukan pemandangannya. Langkah-langkah kecilnya membutuhkan perhatian lebih.

Ini terjadi di hiking bulan lalu. Sebuah curug kecil yang jadi tujuannya. Di ketinggian 940 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sekitar 5 kilometer dari komplek perumahan kami. Jadi total perjalanan bolak balik 10 km.

Secara jarak tidak jauh memang, tapi perjalanan kali itu memakan waktu hingga 5 jam. Total, sudah termasuk durasi menikmati lokasi curug. Selain karena rute yang menanjak juga karena keberadaan anak-anak yang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat.

Secara teori, kecepatan rombongan akan sama dengan kecepatan anggota yang terpelan. Dalam perjalanan ini anak-anak menjadi weakness poin-nya. Dengan kaki yang masih kecil maklum yang ikut rata-rata kelas 4-6 sekolah dasar. Bahkan ada 2 anak yang masih kelas 1.

Selain postur, problem lain terkait dengan fokus. Segala sesuatu tentang bermain. Begitulah isi kepala anak-anak. Maka jadilah sepanjang perjalanan adalah tempat bermain. Teras toko, jembatan kecil, tanah becek bisa jadi pilihan. Rombonganpun terhenti. Toleransi 5 – 10 menit diberikan.

Godaan fokus lain adalah warung atau toko makanan ringan. Ini favorit banget buat mereka. Belum lagi keluar komplek perumahan saja sudah mampir. Satu kilometer berikutnya mampir lagi. Toleransi lebih lama diperlukan disini. Meski ada yang belanjanya cepat, tapi tetep butuh waktu untuk melahapnya.

Rombongan hiking seperti ini memerlukan pendamping orang dewasa yang cukup banyak. Polah anak-anak kadang tidak diduga. Sabar juga diperlukan. apalagi ketika menghadapi anak yang ngambek. Umumnya karena capek. Tapi ada juga yang disebabkan hanya tidak mau didahului temannya ketika berjalan.

Anak-anak yang lebih besar biasanya lebih kuat fisiknya. Ini membutuhkan penanganan tersendiri juga. Umumnya mereka ingin segera sampai tujuan. Jalannya cepat kadang juga berlari. Juga karena cepat bosan. Rombongan bisa terbelah menjadi group depan dan belakang. Pendamping yang kuat perlu disiapkan buat mereka.

Lain lagi anak-anak yang sudah di SMP. Mereka biasanya lebih mudah untuk menerima instruksi sehingga rombongan bisa tidak terbelah. Juga lebih mandiri sehingga tidak membebani kawan seperjalanan. Misal untuk perbekalan pribadi.

Keberagaman anggota hiking seperti yang saya ceritakan diatas itu memberikan tantangan tersendiri. Tapi tetap asyik jika dapat ditangkap pola perilaku masing-masing. Jadi jangan ragu untuk mengajak anak-anak melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *