Hiking ke Curug Batu Templek Bandung

Letaknya tidak jauh dari rumah saya. Sekitar 6 km ke utara. Sebuah curug (air terjun) kecil. Di sebuah bekas tambang batu lokal yang sekarang mulai dialih fungsikan untuk menjadi destinasi wisata. Sebuah pergeseran yang baik menurut saya. Penambangan sudah pasti mengoyak lingkungan. Pariwisata bisa melestarikan.

Curug batu templek namanya. Dinamai seperti itu karena tempat itu dulunya penghasil batu berbentuk lempengan. Biasanya menjadi bahan bangunan untuk menghias tembok pagar ataupun pengganti keramik di area outdoor.

Batu bekas penambangan masih bisa di temukan di area sebelah kanan. Melalui jalan setapak mendaki hingga 20 meter. Tumpukan batu yang sudah dilepas dari dinding curug cukup banyak. Sebagian tertutup rimbun semak liar.

Tinggi curugnya sekitar 50 meter dengan kontur dinding menonjol di beberapa bagian. Menyebabkan air tidak langsung jatuh di bagian bawah. Tapi menyebar bercabang ke kiri dan ke kanan. Memberi aksen putih di antara dominasi warna dinding batu yang kecoklatan.

Anak-anak rombongan saya hiking suka sekali memanjat di curug ini. Karena memang bentuk batuannya berlapis-lapis sehingga mudah sekali di tapaki. Namun tetap harus berhati-hati apalagi di batuan tempat yang ada air mengalirnya.

Tempat ini sekarang juga menjadi tempat pelatihan vertikal rescue. Yaitu salah satu operasi Search and Rescue (SAR) dengan kegiatan fokus melakukan evakuasi pada medan vertikal. Pekerja tambang, pekerja ketinggian, regu penyelamat, dan kalangan militer membutuhkan kemampuan ini.

Nampaknya sudah banyak orang memanfaatkan tempat ini untuk berkumpul mengadakan kegiatan outbond atau hanya sekedar botram (makan bersama). Di sisi kiri bawah curug terdapat area agak rata yang digunakan sebagai panggung. Saya merasa seperti berada dihadapan sebuah altar alami. Apalagi jika hari masih pagi. Tenang, hanya suara air jatuh dan burung.

Selain pagi hari, jika ingin menikmati dengan duduk berlama-lama di hadapan ‘altar’ itu, datanglah pada waktu musim kemarau. Karena air curug tidak besar dan lebih jernih. Pada musim kemarau air keruh berwarna coklat.

Selain dengan hiking, lokasi ini juga bisa di kunjungi dengan motor atau mobil. Naik saja di jalan Pasir Impun ke arah Utara. Mendekati lokasi akan melewati jalanan makadam di lingkungan perkampungan warga. Jangan lupa siapkan biaya tiket masuk 5 ribu rupiah untuk weekday, dan 10 ribu rupiah untuk weekend.

Bagi yang ingin mengunjunginya dengan hiking bersama rombongan anak-anak, ada baiknya membaca catatan saya tentang Yang Harus di Pahami Ketika Hiking Bersama Anak-Anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *