Berhitung

Berhitung adalah pekerjaan mudah dilakukan. Tapi perlu fokus tinggi. Karena jika ada kesalahan dalam berhitung bisa-bisa dituduh curang. Berhitung adalah bagian dari menciptakan kualitas. Karena hasilnya adalah ukuran. Satu kilo, dua liter, tiga buah, ataupun empat ratus suara sah. Tanpa adanya ukuran maka sebuah pekerjaan tidak bisa ditentukan kualitasnya. Termasuk di pemilu kemarin.

Perhitungan kertas suara di Pemilu 17 April lalu menggunakan teknik sederhana. Dengan melakukan pemeriksaan satu per satu lembar kertas suara. Ini untuk memastikan bahwa tidak ada yang terlewat hitung. Juga menentukan suaranya memilih siapa.

Di TPS saya perhitungan disaksikan oleh banyak orang, khususnya kotak abu-abu. KPPS, Banwaslu, Pamsung, saksi-saksi, pemilih yang sengaja ingin menjadi saksi sejarah dan anak-anak yang sedang suka dengan angka 01 atau 02. Setelah dipastikan semua kertas suara dikeluarkan diatas meja, perhitungan dimulai. Semua mata tertuju kepada petugas yang membuka satu persatu lembar kertas suara.

Banyaknya perhatian yang tertuju kepadanya membuat dia mengambil langkah hati-hati. Teledor sedikit saja bisa-bisa membuat keabsahan lembar suara dipertanyakan para saksi. Misal saja sobek ketika membuka lipatan. Berhitung sederhana tidak lagi menjadi sederhana.

Karena begitu pentingnya yang sedang dihitung dan kegunaan hasil perhitungannya nanti. Proses menghitungnya jadi serius. Semua orang yang terlibat jadi ikut-ikutan serius. Tidak mau ada kekeliruan karena masih ada 4 kotak suara lagi yang harus dihitung juga.

Mengganggu orang yang sedang serius berhitung berdampak buruk. Yang sudah pasti hasil hitungannya tidak akurat. Orang yang dianggap mengganggu juga bisa kena beribu omelan. Saya pernah merasakannya.

Pada waktu itu saya mendapat tugas dari ibu untuk membeli minyak tanah. Dulu kami masih mengandalkan kompor minyak tanah, belum ada program konversi gas. Bagi kami, gas itu hanya untuk orang-orang berduit. Karena menggunakan gas dalam tabung berarti juga harus membeli kompornya.

Singkat kata saya sampai ke toko tetangga tak jauh dari rumah. Minyak tanah ditempatkan di dalam drum logam yang besar —karena waktu itu badan saya kecil. Penjual akan memindahkan seliter demi seliter minyak dari drum besar itu ke tempat yang dibawa pembeli dengan gayung ukur terbuat dari besi. Tempat yang saya bawa waktu itu adalah jerigen.

Ibu penjual dengan cekatan memasukkan seliter demi seliter lewat corong yang telah dipasangkan ke wadah saya. Sambil menunggu saya mencoba ramah. Bertanya tentang harga snack yang tergantung. Si penjual menjawab dengan tetap menghitung jumlah liter yang telah dimasukkan.

Saya juga tidak ketinggalan. Tanya harga snack lain. Tetap dijawab. Hapal betul Ibu ini pikirku. Harga snack sebelahnya ikutan saya tanya. Si Ibu tetap menjawab. Tapi agak ketus. Saya yang masih anak-anak tetap saja bertanya.

Kali ini bukan harga yang dijawab ibu penjual. Dengan kesal dilepaskan corong dari jerigen. Dimuntahkan isi jerigen kembali ke tong besar sambil menghardik ,”Jangan diajak ngobrol terus Nak!”. Saya kaget. Rupa-rupanya dia beliau lupa sudah berapa liter yang masuk ke jerigen saya.

Mau tidak mau harus mengulang dari nol. Kalau di SPBU sekarang ini mbak-mbak yang melayani memulainya dengan berkata ramah ,”Dari nol ya Pak”. Tapi tidak dengan ibu penjual minyak yang sudah terlampau kesal.

Saya pun diam. Bahkan hingga pulang setelah menyerahkan uang pembeliannya. Yang memang pas, tidak ada sisa untuk beli snack.

Pentingnya Kepastian Untuk Pelanggan

Sebelnya saya minta ampun. Dicantumkan nomer Whatsapp (WA), tapi balasnya lama. Pertanyaan siang dijawab malam. Pertanyaan malam dibalas siang. Tapi Instagramnya aktif. Sebenarnya apa sih maunya toko ini? Pemberi Harapan Palsu (PHP) banget.

Pernah mengalami hal seperti ini juga sebagai pelanggan ? Benar-benar tidak enak rasanya. Apalagi jika itu untuk kebutuhan yang mendesak. Rasanya seperti sedang antri toilet saat sedang kebelet dan tidak jelas kapan yang sedang didalam akan segera keluar. Ingin marah tapi takut pertahanan bawah jebol. Tidak marah tapi nyebelin.

Sudah selayaknya pelanggan berharap segala pertanyaannya segera dijawab oleh customer service. Saya pikir untuk jaman sekarang ada banyak kemudahan melakukannya. Dan sudah seharusnya kecepatan tanggap itu menjadi standar pelayanan yang baku. Tujuannya satu, memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan. Customer experience istilahnya di marketing.

Pemberian kepastian pelayanan akan membentuk pengalaman tersendiri bagi pelanggan. Memastikan semua pertanyaan pelanggan dijawab adalah satu dari sekian banyak kepastian yang bisa dipraktekan. Jangan sampai pelanggan mempertanyakan apa gunanya kontak nomor WA dicantumkan di halaman promosi jika tidak dijawab.

Secara teori sepertinya mudah, namun tidak setiap penyedia layanan dapat melakukannya. Bagi usaha yang besar menyediakan sistem dan orang untuk menjalankan tugas tersebut tentu tidaklah sulit. Bagi usaha dengan ukuran sedang ataupun kecil barangkali perlu dikaji lebih lanjut. Khususnya dampaknya bagi penjualan.

Namun untuk toko online, ini adalah keharusan yang tidak dapat ditolak. Mengandalkan gambar dan deskripsi produk di etalase online saya pikir tidaklah cukup. Keduanya dengan mudah di copy dan paste dari berbagai sumber. Hingga tidak membuat calon pembeli mudah percaya. Menjalin komunikasi yang baik dengan mereka dapat membuat naiknya tingkat kepercayaan. Kecepatan respon jadi salah satu ukurannya.

Maka jika suatu saat nanti saya berkesempatan untuk memiliki toko online, segala cara untuk memberikan kepastian bagi pelanggan harus diupayakan dengan maksimal. Membalas pertanyaan, komentar, melayani transaksi dengan cepat, membuat aturan dan lain-lain.

Dengannya pelanggan akan menjadi percaya bahwa toko online tersebut akan memuaskannya. Sehingga dia tidak akan ragu untuk bertransaksi. Bahkan merekomendasikan ke kawan-kawannya. Bekal rekomendasi ini membuat seseorang lebih mudah percaya dan melakukan transaksi.

Pelanggan tidak mau di PHP-in …

Sumber gambar: https://unsplash.com

Lempar Bunga

Sepertinya hari-hari belakang ini bukan hanya musim kawin kumbang Tonggerek. Tapi juga musim kawin orang eh nikah. Minggu lalu saya menghadiri undangan resepsi pernikahan. Sehari ada 2 tempat dengan lokasi yang cukup berjauhan. Di luar kota pula. Jakarta tepatnya.

Resepsi pernikahan merupakan sarana memberitahukan kepada publik bahwa mempelai sudah berstatus suami istri. Bagi kedua orang tua merupakan tonggak sejarah keluarga bahwa secara resmi bertambahlah anggota keluarga dengan seorang menantu. Kedepan akan disusul dengan bermunculannya cucu.

Bagi undangan yang datang, resepsi menjadi sarana untuk turut bersuka cita atas kegembiraan mempelai dan keluarga. Acara ini juga menjadi sarana mempertemukan teman dan saudara yang lama tidak bersua. Dan yang tidak kalah penting adalah menikmati suguhan yang beragam. Sekarang ini juga jadi tempat eksis di media sosial (medsos) dengan foto-foto selfienya.

Tapi waktu resepsi pernikahan saya dulu, tahun 2004 selfie belum musim. Hubungan kamera dan handphone belum sedekat sekarang apalagi jadian. Instagram juga belum lahir. Jadi tidak bisa bikin laporan eksistensi via insta story. Foto cuma didominasi oleh tim fotografer yang disewa mempelai. Atau mereka-mereka yang mampu bawa kamera DSLR yang masih gendut-gendut ukurannya.

Yang tidak ada juga di resepsi pernikahan saya dulu adalah prosesi lempar bunga oleh mempelai yang kemudian ditangkap pengunjung yang sudah berkumpul. Yang dapat menangkap bunganya katanya akan segera menyusul mempelai. Pengunjung yang boleh ikutan adalah yang jomblo atau mengaku begitu.

Dua resepsi yang saya datangi melaksanakan hal tersebut. Master Ceremony (MC) menyampaikan penangkap bunga akan mendapatkan kado dari mempelai. Dan memang benar, pengunjung yang beruntung tersebut diminta naik ke panggung untuk berkenalan dan turun dengan membawa kotak bungkusan.

Ini tradisi orang-orang barat yang kabarnya untuk menggantikan tradisi mengambil kain gaun pengantin. Jomblo yang berhasil mendapatkan potongan kain dikatakan akan segera menyusul menjadi mempelai. Untuk kemudian kain gaunnya di jadikan rebutan juga hehe.

Pada tradisi pengantin Jawa, ada juga yang semacam ini. Istilahnya mengambil rangkaian bunga melati yang melilit pangkal keris yang disematkan di pinggang mempelai pria bagian belakang. Konon ini perlambang kegagahan dari Haryo Panangsang yang masih mampu berperang dengan usus terburai. Syaratnya, saat mengambil tidak boleh ketahuan alias dicuri. Dan untungnya usus terburai di lambangkan dengan bunga melati yang dirangkai, bukan usus binatang.

Didaerah lain kemungkinan juga ada tradisi seperti ini. Tidak persis sama tapi mirip-mirip. Secara keseluruhan menambah kekayaan budaya bangsa. Namun juga berpotensi menjadi pro kontra dimasyarakat. Antara tradisi dan religi.

Umumnya tradisi diikuti dengan kepercayaan tertentu. Contohnya ya acara lempar bunga itu. Jika diyakini hal tersebut akan membuat penerimanya segera akan menjadi pengantin juga maka masuk kedalam syirik. Bukan acaranya, bukan tradisinya, tapi meyakininya yang menjadi problem disini. Ini murni pendapat saya.

Ketika bertemu dengan hal ini, satu hal yang mudah dilakukan agar dapat menghindari adalah mereview niat. Salah satunya dengan melihat tujuan apa yang ingin didapat dengan mengikuti kegiatan tradisi tersebut. Berlaku juga untuk penyelenggaranya.

Seperti salah satu kawan saya dulu. Karena berniat ingin menolong yang sedang jomblo, dia sarankan mengambil rangkaian bunga melatinya saat dia pura-pura tidak tahu. Saya pun tidak tahu apakah yang ditolong sekarang sudah tidak jomblo.

Pejuang Bangsa

Masih banyak hati yang bersih nan tulus dan penuh tanggung jawab pada bangsa ini. Yang bersedia mengerahkan apa yang dimilikinya agar bangsa ini terus maju ke arah yang lebih baik. Dan itu terjadi ditengah-tengah riuh orang lain yang berebut kekuasaan. Berebut agar dipilih menjadi pemimpin.

Pukul 6 pagi dikala warga yang lain masih menghangatkan badan di rumahnya, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) komplek perumahan saya sudah hadir dengan baju batik masing-masing. Di sebuah pertigaan jalan yang disulap menjadi kantor mereka untuk hari ini. Tempat pemungutan suara atau TPS.

Untuk pemilihan umum (PEMILU) tanggal 17 April 2019 kemarin, KPPS di tempat saya ini baru mengakhiri pekerjaannya pada jam 2 pagi tanggal 18. Iya! Satu hari setelah hari pemungutan suara. Ditandai dengan diserahterimakannya kotak-kotak suara yang jumlahnya 5 buah itu. Lengkap dengan isi didalamnya sesuai dengan ketentuan petunjuk pelaksanaan yang telah diajarkan pada saat kegiatan bimbingan teknis seminggu sebelum hari pencoblosan.

Lamanya proses perhitungan ini sudah diperkirakan sebelumnya. Karena ada 5 jenis pemilihan yang dilakukan pada waktu yang sama. Yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Pewakilan Daerah (DPD), anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRD I), dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRD II).

Tetapi lamanya proses tak menyurutkan langkah tetangga-tetangga saya anggota KPPS itu. Jam 21 berhasil menyelesaikan perhitungan surat suara untuk kotak terakhir. Dilanjut dengan pengisian formulir laporan yang begitu banyak jenis dan rangkapnya. Kesemuanya dengan tanda tangan basah. Oleh masing-masing anggota KPPS dan saksi. Lalu memasukannya kedalam sampul-sampul dokumen yang tepat seperti panduan. Sampul yang harus ditandatangani secara basah pula. Oleh setiap anggota KPPS pula.

Saya pikir, orang-orang yang bekerja seperti mereka ini yang seharusnya menjadi wakil rakyat. Merekalah yang menunjukkan kegigihan menjalankan tanggung jawab yang diberikan. Dengan sumpah diawal pembukaan TPS. Dengan kemeja batik dari jam 6 pagi hingga 2 pagi esoknya. Kemeja batik yang sama. Walau rumah dekat dengan TPS, menyelesaikan tugas lebih dari segala-galanya.

Jika masing-masing TPS mempunyai anggota 7 orang anggota KPPS dan 2 petugas pengamanan langsung (Pamsung) dan 1 petugas Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) ini berarti, secara keseluruhan Bangsa Indonesia ini memiliki setidaknya 8,13 juta orang pahlawan Pemilu —kalau boleh saya sebut begitu— dari 813 ribu TPS. Ini belum terhitung orang-orang pendukung dibelakang mereka seperti istri, anak, ibu-ibu yang mensuplai kebutuhan makan petugas ketika hari H, bapak-bapak yang menyiapkan tenda ataupun petugas kebersihan.

Saya tidak main-main dengan sebutan itu. Karena mereka benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, kesehatan yang di dorong hingga batas maksimum karena harus bekerja hingga lebih dari 24 jam non stop. Bahkan tidak sedikit yang harus merelakan nyawa satu-satunya. Sudah banyak media mainstream yang memberitakannya.

Melihat hal ini, maka saya sangat heran jika melihat fenomena masyarakat dalam keadaan yang saling bermusuhan. Apalagi selama masa kampanye kemarin dengan munculnya begitu banyak kabar negatif. Negatif buat sebelah sana, dibalas dengan negatif ke sebelah seberangnya lagi. Begitu seterusnya tidak pernah berhenti.

Saya pikir itu semua akan berhenti setelah tanggal 17 April hari pencoblosan. Ternyata tidak. Gugurnya pahlawan-pahlawan Pemilu karena kelelahan kalah ramai dengan lempar-melempar tuduhan kecurangan. Meski sudah banyak tokoh yang menghimbau agar masyarakat tenang. Tapi apa lacur, tuduhan sudah disebar. Gaduhnya bukan kepalang.

Jika ini tidak segera berhenti, saya bayangkan betapa sedihnya para pelaksana penyelenggara pemilu itu. Acara yang mereka selenggarakan dengan segenap jiwa raga. Pagi hingga pagi lagi. Saya berharap, sikap-sikap mereka inilah yang menjadi contoh yang lain. Sikap bertanggung jawab untuk ikut mendukung tentramnya bangsa ini. Sikap-sikap pejuang bangsa.

Menjadi Pendamping

Selalu ada rasa bahagia ketika saya berhasil menyempatkan waktu untuk mendampingi anak di lomba yang sedang dijalaninya. Seperti perlombaan panahan kemarin. Cuti dua hari dari kantor adalah pilihan terbaik. Istri pun tak ketinggalan. Ambil cuti dari semua urusan dapur dan pakaian kotor. Kami menyusul rombongan anak-anak yang telah lebih dahulu berangkat ke lokasi pertandingan, sekitar lima jam perjalanan menggunakan bus yang disewa oleh klub. 

Saya dan istri sengaja menggunakan kendaraan pribadi. Memisahkan diri, memberi keleluasaan bermain bersama teman-teman dan coachnya. Demi menjaga suasana hati gladiator muda kami yang sudah berlatih keras bersama timnya. Tak palang tanggung, hampir setiap sore sepulang sekolah mereka mempersiapkan diri. Bukan untuk menjadi pemenang, tapi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Podium dan medali hanyalah bonus tambahan.

Walau tidak pernah terucap janji apalagi tertulis, nampaknya saya dan istri sepakat bahwa hari perlombaan anak kami adalah hari yang istimewa. Kesempatan emas untuk mengikuti perkembangan teknis dan psikis anak. Bersiap menjadi tempat penyaluran sampah emosi jika dia sedang kecewa dengan hasil kerja kerasnya. 

Bagi saya, kisah ayah Derek Redmond yang turun ke lintasan lari dan memberikan support anaknya yang mendadak cidera hamstring kanan saat menjalani semifinal Olimpiade Barcelona 1992 hingga garis finis menjadi motivasi untuk selalu hadir disetiap perlombaan anak. Walau tidak berharap kejadian yang seperti itu menimpa, saya merasakan kehadiran orang tua sangat bermanfaat.

Kami dapat belajar mengukur jarak antara ekspektasi dan realita atas kemampuan anak. Sejauh bumi dan mentari kah ? Bumi dan rembulan kah ? Atau malah seperti asam dari gunung dan garam dari laut yang telah berpadu di sebuah mangkuk sup ? Tentu untuk kemudian berdamai dengan apapun hasil ukurnya. Sehingga lebih mudah untuk menentukan langkah pengembangan kedepan. 

Saya berusaha berhati-hati ketika menetapkan ekspektasi. Tidak ada ukuran yang pasti buat hal ini. Tapi orang tua punya kewajiban untuk membuatnya seimbang dengan realita. Ini demi menjaga semangat anak untuk tetap menekuni bidang yang dilatihnya. 

Ekspektasi terlalu tinggi dapat membuat anak merasa tertekan dan beranggapan “aku melakukannya karena disuruh oleh orang tuaku”. Sebaliknya, terlalu rendah akan menyebabkan under estimate pada kemampuannya. Ketidakseimbangan ini berpotensi menjauhkan rasa percaya, dari orang tua maupun anak. Apalah artinya jika anak mengikuti kegiatan tapi tidak mendapatkan kepercayaan. Ketulusan hatinya tak akan muncul. Pada kegiatan apapun, tanpa itu dari pelakunya, maka hasilnya akan nol besar.

Keseimbangan mudah didapatkan jika orang tua dan anak dekat. Dalam makna fisik ataupun komunikasi. Hingga perubahan emosi sekecil apapun dapat saling dipahami. Hadir pada momen-momen penting bagi anak bisa jadi salah satu jalan pendekatan itu. Hadir dalam bentuk, waktu, dan ruang. Saya rasa ini tantangan bagi kita semua para orang tua. Apalagi di era teknologi maju seperti sekarang ini. Yang katanya kebutuhan serba meningkat dengan cepat. Yang katanya jarak bukan masalah karena teknologi mampu menjembataninya. Tidak sadar kita menjadi lebih sibuk dan lebih repot. 

Tapi ketika tangan saya mampu mengelus punggung anak atau mengusap kepalanya tepat ketika dia usai bertanding ada perasaan yang sangat berharga. Belum ada teknologi jarak jauh yang mampu mengantikan rasanya. Seperti juga ketika dia berlari kecil mendekati ibunya selepas turun dari podium pertamanya bulan lalu sambil berbisik ,”Bu … dapat amplop ada isinya.” Dan sesaat berikutnya benda itu lebih penting dari orang-orang di sampingnya. Termasuk saya.

Note: Tulisan ini merupakan tugas akhir di Kelas Art Writing Prie GS. Saya dedikasikan untuk semua orang tua yang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Terlewat

Tujuh April sudah lewat. Rencana saya menikmati alam pegunungan tertunda. Semoga hanya sementara saja. Mumpung masih semangat. Semangat untuk mencari pengobat lelah dengan berisiknya kota.

Adalah hujan yang masih turun menyebabkan rencana tertunda. Tidak enak rasanya tidur ditenda ketika tanah basah. Lembab dan dingin menjadi tantangannya. Sepertinya kumbang tonggeret dan BMKG sepakat terhadap musim. Tonggeretnya sudah berteriak sekencang-kencangnya setiap hari. Masa kawin mereka di akhir musim hujan. Dan BMKG masih rajin dengan prakiraan hujannya.

Sebetulnya bukan hujan yang menyebabkan, tapi saya memutuskan untuk tidak melaksanakan rencana berkegiatan luar ruang. Alam tidak pernah salah karena dia mahluk yang patuh kepada penciptanya. Yang sering keliru itu reaksi saya. Namun karena keegoisan, saya sebut alamlah yang keliru.

Ah rupanya gunung Manglayang begitu menggoda. Setiap hari berhasil membius saya. Setiap hari masuk lewat jendela ruang kerja. Saya suka sekali mengamatinya. Terlebih jika udara sedang tidak kotor. Punggungan Manglayang, Puncak Palasari dan Bukit Tunggul di belakangnya nampak jelas. Kalau sudah begini, rasanya ingin sesegera mungkin menapakkan kaki disana. Menikmati aroma rumput dan pepohonan.

Saya harus bersabar dan menahan diri hingga beberapa saat kedepan. Sisa April ini akan sangat melelahkan. Dipenuhi dengan kegiatan kantor dan hajatan negara. Saya bayangkan setelahnya akan lebih tenang. Kesempatan menikmati alam lebih besar. Semoga…

Kail

Beberapa kali saya merasakan manfaat ketidaktahuan. Kebodohan, jika ingin lebih dramatis. Bersikap dan bertindak terhadapnya sungguh menguntungkan. Menolong saya beralih dari kegelapan ke posisi yang lebih terang.

Misal saja ketika saya menulis. Meski sudah dilakukan bertahun yang lalu, saya masih merasakan kesulitan. Satu demi satu kesulitan datang. Tidak punya ide, tidak yakin dengan kualitas hasilnya, mau diapakan setelahnya, dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Intinya saya tidak cukup percaya diri dengan proses dan hasil menulis itu. Akibatnya semangat menulis menjadi timbul tenggelam tak beraturan. Pernah tenggelam hingga bertahun lamanya. Padahal sudah beberapa personal blog yang saya buat tapi tidak diteruskan. Di WordPress, di Blogspot, di Multiply, di note Facebook, dan di self hosting. Beralih-alih terus.

Usut punya usut saya sadari bahwa hal tersebut disebabkan karena saya tidak tahu bagaimana menulis yang baik. Saya tidak tahu tulisan-tulisan untuk apa. Saya juga tidak tahu karena apa saya menulis. Menjawabnya bikin kerepotan. Keberanian untuk jujur memahami diri sendiri tidak segera saya temukan.

Syukurnya, kondisi ini menggugah kemauan belajar saya. Setiap situasi ketidaktahuan mendorong kemauan belajar muncul. Saya yakini ini salah satu cara Allah memberikan petunjuk. Bukan dengan jawaban dari tantangan yang saya hadapi. Tapi jalan untuk mencari jawabannya.

Saya teringat nasehat “kail akan membuat orang lebih kuat daripada ikan”. Karena dengan kail orang belajar cara mendapatkan ikan. Pengetahuan ini tak akan hilang selama masih diingat dan digunakan. Tidak seperti ikan yang dijadikan lauk. Sekali disantap akan habis tak bersisa.

Maka saya membutuhkan kail untuk menulis dengan baik. Saya perlukan pengetahuan bagaimana memanfaatkan kail itu. Untuk kemudian menghasilkan tangkapan ikan-ikan. Syukur jika ada orang lain yang ikut menikmatinya.

Tentang bagaimana mendapatkan kailnya, membuatnya secara otodidak atau belajar dari orang lain silakan baca tulisan saya yang ini ya….

Sumber gambar: Pixabay.com