Terlewat

Tujuh April sudah lewat. Rencana saya menikmati alam pegunungan tertunda. Semoga hanya sementara saja. Mumpung masih semangat. Semangat untuk mencari pengobat lelah dengan berisiknya kota.

Adalah hujan yang masih turun menyebabkan rencana tertunda. Tidak enak rasanya tidur ditenda ketika tanah basah. Lembab dan dingin menjadi tantangannya. Sepertinya kumbang tonggeret dan BMKG sepakat terhadap musim. Tonggeretnya sudah berteriak sekencang-kencangnya setiap hari. Masa kawin mereka di akhir musim hujan. Dan BMKG masih rajin dengan prakiraan hujannya.

Sebetulnya bukan hujan yang menyebabkan, tapi saya memutuskan untuk tidak melaksanakan rencana berkegiatan luar ruang. Alam tidak pernah salah karena dia mahluk yang patuh kepada penciptanya. Yang sering keliru itu reaksi saya. Namun karena keegoisan, saya sebut alamlah yang keliru.

Ah rupanya gunung Manglayang begitu menggoda. Setiap hari berhasil membius saya. Setiap hari masuk lewat jendela ruang kerja. Saya suka sekali mengamatinya. Terlebih jika udara sedang tidak kotor. Punggungan Manglayang, Puncak Palasari dan Bukit Tunggul di belakangnya nampak jelas. Kalau sudah begini, rasanya ingin sesegera mungkin menapakkan kaki disana. Menikmati aroma rumput dan pepohonan.

Saya harus bersabar dan menahan diri hingga beberapa saat kedepan. Sisa April ini akan sangat melelahkan. Dipenuhi dengan kegiatan kantor dan hajatan negara. Saya bayangkan setelahnya akan lebih tenang. Kesempatan menikmati alam lebih besar. Semoga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *