Menjadi Pendamping

Selalu ada rasa bahagia ketika saya berhasil menyempatkan waktu untuk mendampingi anak di lomba yang sedang dijalaninya. Seperti perlombaan panahan kemarin. Cuti dua hari dari kantor adalah pilihan terbaik. Istri pun tak ketinggalan. Ambil cuti dari semua urusan dapur dan pakaian kotor. Kami menyusul rombongan anak-anak yang telah lebih dahulu berangkat ke lokasi pertandingan, sekitar lima jam perjalanan menggunakan bus yang disewa oleh klub. 

Saya dan istri sengaja menggunakan kendaraan pribadi. Memisahkan diri, memberi keleluasaan bermain bersama teman-teman dan coachnya. Demi menjaga suasana hati gladiator muda kami yang sudah berlatih keras bersama timnya. Tak palang tanggung, hampir setiap sore sepulang sekolah mereka mempersiapkan diri. Bukan untuk menjadi pemenang, tapi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Podium dan medali hanyalah bonus tambahan.

Walau tidak pernah terucap janji apalagi tertulis, nampaknya saya dan istri sepakat bahwa hari perlombaan anak kami adalah hari yang istimewa. Kesempatan emas untuk mengikuti perkembangan teknis dan psikis anak. Bersiap menjadi tempat penyaluran sampah emosi jika dia sedang kecewa dengan hasil kerja kerasnya. 

Bagi saya, kisah ayah Derek Redmond yang turun ke lintasan lari dan memberikan support anaknya yang mendadak cidera hamstring kanan saat menjalani semifinal Olimpiade Barcelona 1992 hingga garis finis menjadi motivasi untuk selalu hadir disetiap perlombaan anak. Walau tidak berharap kejadian yang seperti itu menimpa, saya merasakan kehadiran orang tua sangat bermanfaat.

Kami dapat belajar mengukur jarak antara ekspektasi dan realita atas kemampuan anak. Sejauh bumi dan mentari kah ? Bumi dan rembulan kah ? Atau malah seperti asam dari gunung dan garam dari laut yang telah berpadu di sebuah mangkuk sup ? Tentu untuk kemudian berdamai dengan apapun hasil ukurnya. Sehingga lebih mudah untuk menentukan langkah pengembangan kedepan. 

Saya berusaha berhati-hati ketika menetapkan ekspektasi. Tidak ada ukuran yang pasti buat hal ini. Tapi orang tua punya kewajiban untuk membuatnya seimbang dengan realita. Ini demi menjaga semangat anak untuk tetap menekuni bidang yang dilatihnya. 

Ekspektasi terlalu tinggi dapat membuat anak merasa tertekan dan beranggapan “aku melakukannya karena disuruh oleh orang tuaku”. Sebaliknya, terlalu rendah akan menyebabkan under estimate pada kemampuannya. Ketidakseimbangan ini berpotensi menjauhkan rasa percaya, dari orang tua maupun anak. Apalah artinya jika anak mengikuti kegiatan tapi tidak mendapatkan kepercayaan. Ketulusan hatinya tak akan muncul. Pada kegiatan apapun, tanpa itu dari pelakunya, maka hasilnya akan nol besar.

Keseimbangan mudah didapatkan jika orang tua dan anak dekat. Dalam makna fisik ataupun komunikasi. Hingga perubahan emosi sekecil apapun dapat saling dipahami. Hadir pada momen-momen penting bagi anak bisa jadi salah satu jalan pendekatan itu. Hadir dalam bentuk, waktu, dan ruang. Saya rasa ini tantangan bagi kita semua para orang tua. Apalagi di era teknologi maju seperti sekarang ini. Yang katanya kebutuhan serba meningkat dengan cepat. Yang katanya jarak bukan masalah karena teknologi mampu menjembataninya. Tidak sadar kita menjadi lebih sibuk dan lebih repot. 

Tapi ketika tangan saya mampu mengelus punggung anak atau mengusap kepalanya tepat ketika dia usai bertanding ada perasaan yang sangat berharga. Belum ada teknologi jarak jauh yang mampu mengantikan rasanya. Seperti juga ketika dia berlari kecil mendekati ibunya selepas turun dari podium pertamanya bulan lalu sambil berbisik ,”Bu … dapat amplop ada isinya.” Dan sesaat berikutnya benda itu lebih penting dari orang-orang di sampingnya. Termasuk saya.

Note: Tulisan ini merupakan tugas akhir di Kelas Art Writing Prie GS. Saya dedikasikan untuk semua orang tua yang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *