Pejuang Bangsa

Masih banyak hati yang bersih nan tulus dan penuh tanggung jawab pada bangsa ini. Yang bersedia mengerahkan apa yang dimilikinya agar bangsa ini terus maju ke arah yang lebih baik. Dan itu terjadi ditengah-tengah riuh orang lain yang berebut kekuasaan. Berebut agar dipilih menjadi pemimpin.

Pukul 6 pagi dikala warga yang lain masih menghangatkan badan di rumahnya, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) komplek perumahan saya sudah hadir dengan baju batik masing-masing. Di sebuah pertigaan jalan yang disulap menjadi kantor mereka untuk hari ini. Tempat pemungutan suara atau TPS.

Untuk pemilihan umum (PEMILU) tanggal 17 April 2019 kemarin, KPPS di tempat saya ini baru mengakhiri pekerjaannya pada jam 2 pagi tanggal 18. Iya! Satu hari setelah hari pemungutan suara. Ditandai dengan diserahterimakannya kotak-kotak suara yang jumlahnya 5 buah itu. Lengkap dengan isi didalamnya sesuai dengan ketentuan petunjuk pelaksanaan yang telah diajarkan pada saat kegiatan bimbingan teknis seminggu sebelum hari pencoblosan.

Lamanya proses perhitungan ini sudah diperkirakan sebelumnya. Karena ada 5 jenis pemilihan yang dilakukan pada waktu yang sama. Yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Pewakilan Daerah (DPD), anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRD I), dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRD II).

Tetapi lamanya proses tak menyurutkan langkah tetangga-tetangga saya anggota KPPS itu. Jam 21 berhasil menyelesaikan perhitungan surat suara untuk kotak terakhir. Dilanjut dengan pengisian formulir laporan yang begitu banyak jenis dan rangkapnya. Kesemuanya dengan tanda tangan basah. Oleh masing-masing anggota KPPS dan saksi. Lalu memasukannya kedalam sampul-sampul dokumen yang tepat seperti panduan. Sampul yang harus ditandatangani secara basah pula. Oleh setiap anggota KPPS pula.

Saya pikir, orang-orang yang bekerja seperti mereka ini yang seharusnya menjadi wakil rakyat. Merekalah yang menunjukkan kegigihan menjalankan tanggung jawab yang diberikan. Dengan sumpah diawal pembukaan TPS. Dengan kemeja batik dari jam 6 pagi hingga 2 pagi esoknya. Kemeja batik yang sama. Walau rumah dekat dengan TPS, menyelesaikan tugas lebih dari segala-galanya.

Jika masing-masing TPS mempunyai anggota 7 orang anggota KPPS dan 2 petugas pengamanan langsung (Pamsung) dan 1 petugas Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) ini berarti, secara keseluruhan Bangsa Indonesia ini memiliki setidaknya 8,13 juta orang pahlawan Pemilu —kalau boleh saya sebut begitu— dari 813 ribu TPS. Ini belum terhitung orang-orang pendukung dibelakang mereka seperti istri, anak, ibu-ibu yang mensuplai kebutuhan makan petugas ketika hari H, bapak-bapak yang menyiapkan tenda ataupun petugas kebersihan.

Saya tidak main-main dengan sebutan itu. Karena mereka benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, kesehatan yang di dorong hingga batas maksimum karena harus bekerja hingga lebih dari 24 jam non stop. Bahkan tidak sedikit yang harus merelakan nyawa satu-satunya. Sudah banyak media mainstream yang memberitakannya.

Melihat hal ini, maka saya sangat heran jika melihat fenomena masyarakat dalam keadaan yang saling bermusuhan. Apalagi selama masa kampanye kemarin dengan munculnya begitu banyak kabar negatif. Negatif buat sebelah sana, dibalas dengan negatif ke sebelah seberangnya lagi. Begitu seterusnya tidak pernah berhenti.

Saya pikir itu semua akan berhenti setelah tanggal 17 April hari pencoblosan. Ternyata tidak. Gugurnya pahlawan-pahlawan Pemilu karena kelelahan kalah ramai dengan lempar-melempar tuduhan kecurangan. Meski sudah banyak tokoh yang menghimbau agar masyarakat tenang. Tapi apa lacur, tuduhan sudah disebar. Gaduhnya bukan kepalang.

Jika ini tidak segera berhenti, saya bayangkan betapa sedihnya para pelaksana penyelenggara pemilu itu. Acara yang mereka selenggarakan dengan segenap jiwa raga. Pagi hingga pagi lagi. Saya berharap, sikap-sikap mereka inilah yang menjadi contoh yang lain. Sikap bertanggung jawab untuk ikut mendukung tentramnya bangsa ini. Sikap-sikap pejuang bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *