Lempar Bunga

Sepertinya hari-hari belakang ini bukan hanya musim kawin kumbang Tonggerek. Tapi juga musim kawin orang eh nikah. Minggu lalu saya menghadiri undangan resepsi pernikahan. Sehari ada 2 tempat dengan lokasi yang cukup berjauhan. Di luar kota pula. Jakarta tepatnya.

Resepsi pernikahan merupakan sarana memberitahukan kepada publik bahwa mempelai sudah berstatus suami istri. Bagi kedua orang tua merupakan tonggak sejarah keluarga bahwa secara resmi bertambahlah anggota keluarga dengan seorang menantu. Kedepan akan disusul dengan bermunculannya cucu.

Bagi undangan yang datang, resepsi menjadi sarana untuk turut bersuka cita atas kegembiraan mempelai dan keluarga. Acara ini juga menjadi sarana mempertemukan teman dan saudara yang lama tidak bersua. Dan yang tidak kalah penting adalah menikmati suguhan yang beragam. Sekarang ini juga jadi tempat eksis di media sosial (medsos) dengan foto-foto selfienya.

Tapi waktu resepsi pernikahan saya dulu, tahun 2004 selfie belum musim. Hubungan kamera dan handphone belum sedekat sekarang apalagi jadian. Instagram juga belum lahir. Jadi tidak bisa bikin laporan eksistensi via insta story. Foto cuma didominasi oleh tim fotografer yang disewa mempelai. Atau mereka-mereka yang mampu bawa kamera DSLR yang masih gendut-gendut ukurannya.

Yang tidak ada juga di resepsi pernikahan saya dulu adalah prosesi lempar bunga oleh mempelai yang kemudian ditangkap pengunjung yang sudah berkumpul. Yang dapat menangkap bunganya katanya akan segera menyusul mempelai. Pengunjung yang boleh ikutan adalah yang jomblo atau mengaku begitu.

Dua resepsi yang saya datangi melaksanakan hal tersebut. Master Ceremony (MC) menyampaikan penangkap bunga akan mendapatkan kado dari mempelai. Dan memang benar, pengunjung yang beruntung tersebut diminta naik ke panggung untuk berkenalan dan turun dengan membawa kotak bungkusan.

Ini tradisi orang-orang barat yang kabarnya untuk menggantikan tradisi mengambil kain gaun pengantin. Jomblo yang berhasil mendapatkan potongan kain dikatakan akan segera menyusul menjadi mempelai. Untuk kemudian kain gaunnya di jadikan rebutan juga hehe.

Pada tradisi pengantin Jawa, ada juga yang semacam ini. Istilahnya mengambil rangkaian bunga melati yang melilit pangkal keris yang disematkan di pinggang mempelai pria bagian belakang. Konon ini perlambang kegagahan dari Haryo Panangsang yang masih mampu berperang dengan usus terburai. Syaratnya, saat mengambil tidak boleh ketahuan alias dicuri. Dan untungnya usus terburai di lambangkan dengan bunga melati yang dirangkai, bukan usus binatang.

Didaerah lain kemungkinan juga ada tradisi seperti ini. Tidak persis sama tapi mirip-mirip. Secara keseluruhan menambah kekayaan budaya bangsa. Namun juga berpotensi menjadi pro kontra dimasyarakat. Antara tradisi dan religi.

Umumnya tradisi diikuti dengan kepercayaan tertentu. Contohnya ya acara lempar bunga itu. Jika diyakini hal tersebut akan membuat penerimanya segera akan menjadi pengantin juga maka masuk kedalam syirik. Bukan acaranya, bukan tradisinya, tapi meyakininya yang menjadi problem disini. Ini murni pendapat saya.

Ketika bertemu dengan hal ini, satu hal yang mudah dilakukan agar dapat menghindari adalah mereview niat. Salah satunya dengan melihat tujuan apa yang ingin didapat dengan mengikuti kegiatan tradisi tersebut. Berlaku juga untuk penyelenggaranya.

Seperti salah satu kawan saya dulu. Karena berniat ingin menolong yang sedang jomblo, dia sarankan mengambil rangkaian bunga melatinya saat dia pura-pura tidak tahu. Saya pun tidak tahu apakah yang ditolong sekarang sudah tidak jomblo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *