Semarak Jalan Pulang

Jalanan mendekati jam 17 semarak. Walaupun jam kerja Ramadhan berakhir pada pukul 16. Mungkin tidak semua bisa lamgsung meninggalkan tempat kerja.

Bandung tempat saya tinggal memang tidak sepadat Jakarta. Namun tetap saja padat. Karena lebar jalannya lebih banyak hanya 2 ruas. Sementara yang lewat bertambah. Kendaraan jumlahnya naik terus.

Bukan hanya orang yang pulang kerja saja yang memenuhi jalan. Hadirnya pedagang makanan buka puasa musiman menambah semarak. Jalanan hidup menjadi lebih hidup.

Penjual kolak dan candil mewabah. Kadang berjejer dengan tukang es buah. Mamang es cendul tak mau kalah. Tetap pakai tulisan “Dawet Ayu” walau yang jual lelaki bersarung.

Menyusur lebih jauh ketemu dengan penjual kelapa muda. Satu dua kendaraan yang berhenti untuk membelinya. Tidak seperti tukang cingcau eskrim di ujung jalan itu. Anak dan orang tua berkerubut. Senyum penjualnya sampai tidak nampak tertutup pembeli.

Tapi tukang gorengan tetap favorit. Kriuk dan hangat banyak yang suka untuk berbuka. Walau katanya itu kurang baik. Anak-anak di komplek saya selalu memburunya jika ada yang bersedekah takjil jenis ini.

Kehadiran pedagang dadakan itu seperti cahaya dalam gelap. Menarik laron-laron mendekat. Kami-kami pengendara pulang kantor yang jadi laronnya. Mengerubuti penjual itu.

Kadang sampai tidak memperhitungkan pengendara yang lain. Yang terhambat karena kendaraan yang berhenti untuk ‘shoping’ itu. Atau juga yang sekedar mengambil ta’jil gratis yang biasanya dibagikan oleh lembaga sosial.

Jalan memang mengasyikkan untuk dibaca. Banyak interaksi. Yang terjadi disana. Semaraknya jalanan.

Sumber gambar : https://unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *