Tantangan Dakwah Di Era Globalisasi

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 10 oleh Buya Mujib di Masjid Daarurrahman.

Jika mendengar kata dakwah, sekarang ini seolah-olah kegiatan tersebut menjadi tugas ustad atau kiai atau ulama. Ini berawal dari pemahaman dakwah itu diartikan sebagai ceramah.

Padahal, kata dakwah mempunyai arti yang lebih luas. Yaitu sebuah proses melakukan perubahan-perubahan menuju yang lebih baik. Sehingga ceramah hanya menjadi sebagian dari luasnya arti dakwah.

Dikarenakan dakwah adalah sebuah proses, maka kegiatan ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  • Dakwah nafsiah yaitu dakwah kepada diri sendiri atau . Dari oleh dan untuk diri sendiri. Nabi Muhammad SAW melakukan ini sebelum memulai tahapan berikutnya.
  • Dakwah fardiah atau dakwah antar pribadi yang dekat dengannya. Dapat dilihat bagaimana Nabi SAW kita melakukan dakwah ini kepada istrinya Kadijah RA, pamannya, saudara-saudara terdekatnya.
  • Dakwah fiah yaitu dakwah di kelompok kecil.
  • Dakwah ammah yaitu dakwah di kelompok yang lebih luas secara menyeluruh di tengah masyarakat.
  • Dakwah antar komunitas besar antar lembaga.
  • Dakwah antar bangsa-bangsa.

Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, tahapan – tahapan tersebut menjadi makin mudah dan cepat. Studi terbaru tentang Al-Qur’an di Mesir misalnya, dapat dengan cepat diketahui di seluruh dunia secara online. Tabligh akbar di Jakarta bisa langsung diikuti umat muslim di seluruh Indonesia lewat bantuan teknologi.

Namun kemudahan dan kecepatan ini tidak datang sendirian. Tantangan juga hadir seiring dengan mereka. Contohnya adalah tentang penyaringan informasi yang diterima. Setiap menit ada informasi baru yang datangnya bisa dari manapun. Ini membutuhkan kemampuan untuk menentukan apakah informasi tersebut benar. Sebelum sampai pada keputusan untuk meyakini ataupun meneruskan kabar tersebut ke pihak lain.

Beruntungnya kita, jauh sebelum teknologi menjadi seperti sekarang Allah sudah menyiapkan jurus untuk melakukan penyaringan informasi. Yaitu melalui surat Al Hujurat ayat 6.

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. QS. Al-Hujurat[49]:6

Maka sudah menjadi kewajiban bagi muslim untuk melakukan pengecekan kebenaran atau tabayun terhadap semua informasi yang datang. setelah yakin akan kebenarannya barubisa di bagikan kepada orang lain. Dengan ini maka kedamaian akan bisa terwujud dengan baik.

Wallahu a’lam bishawab…

Sumber gambar : freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *