Kolam Restoran

Saya tidak terlalu nyaman dengan kolam renang yang dibuat berdampingan dengan tempat makan. Ini saya temui di beberapa tempat menginap. Expose terlalu berlebihan saya rasakan. Apalagi jika jaraknya cukup dekat hingga bersebelahan.

Saya pikir ini karena kolam renang adalah tempat membuka diri. Dalam makna yang sebenarnya. Dan tempat makan entah itu kedai, rumah makan, restoran, atau kafe bukan tempat yang tepat untuk terbuka seperti itu.

Tapi memang sebuah kolam renang memiliki banyak fungsi. Beberapa menjadikannya sebagai tempat berlatih. Sebagian lain menggunakannya sebagai tempat terapi. Yang lain mungkin sebagai tempat relaksasi dan rekreasi. Menikmati airnya ataupun hanya foto-foto untuk update status.

Maka jika ada yang merasa biasa-biasa saja dengan kolam renang yang dekat tempat makan saya pikir mereka menganggapnya sebagai tempat rekreasi. Ataupun hanya mendampingi putra-putrinya yang sedang latihan atau sekedar bermain.

Anak-anak selalu suka dengan air. Berbasah-basahan, berlomba mencari koin yang tenggelam, hujan-hujanan, saling menciprat dan yang lainnya. Barangkali hanya anak kucing yang tidak suka air. Itu tak lebih karena induknya yang sudah tidak suka air sebelumnya.

Juga tidak suka makan di restoran.

Tinggal Atau Berkeliling

Dua pilihan yang sangat menggoda setiap kali saya berkunjung ke sebuah kota untuk beristirahat sejenak ditengah perjalanan ritual mudik.

Empuknya kasur hotel sering menggoda saya untuk berlama-lama diatasnya. Ditambah selimut lembut dan air panas kamar mandi. Penyejuk ruangannya pun terus-terusan menyemburkan hawa nyaman.

Tapi berkeliling juga menggoda. Dahaga akan pengetahuan tempat-tempat baru mendorong manusia untuk selalu bergerak. Meninggalkan zona nyaman nan berselimut nikmat.

Keduanya datang disaat yang bersamaan. Menempatkan saya pada posisi memilih. Meninggalkan kenyamanan atau berkeliling mendapatkan hal baru.

Kali ini saya putuskan untuk berkeliling. Menemukan hal-hal baru. Mencoba keberanian untuk agak jauh dari nyaman. Berteman dengan ketidakpastian namun berbekal referensi.

Maka jadilah kami mengukur jalanan, naik turun lembah bermandi panas. Anda juga bisa memilih seperti saya. Atau opsi yang lainnya.

Yang penting bahagia.

Shaum Dan Pendidikan Karakter Muslim

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 19 oleh Ustadz Nandang Koswara di Masjid Daarurrahman.

Karakter muslim menjadi sorotan Ustadz Nandang mengingat pentingnya karakter yang baik dan kuat bagi kehidupan pribadi dan sosial. Bahkan karakter seorang muslim yang baik akan mampu membawa pertolongan bagi yang memilikinya.

Kisah tiga orang yang sedang bertadabbur alam dan terjebak di dalam gua yang tanpa sengaja tertutup oleh batu yang katih daru gunung menjadi contoh dari kekuatan karakter yang baik mampu menjadi perantara turunnyabpertolongan Allah SWT. Hadist lengkap dari kisah ini dapat dibaca di http://hadits.in/bukhari/2111

Dari kisah tersebut setidaknya terdapat 3 karakter yang bisa dijadikan pelajaran nersama yaitu:

  • Berbuat baik terhadap orang tua. Salah satunya dengan mengutamakan kepentingan beliau.
  • Meyakini bahwa Allah itu ada sehingga menghindarkan diri dari berbuat maksiat.
  • Selalu menanamkan sifat kejujuran.

Ramadhan sebagai bulan latihan menahan diri juga mampu memperbaiki karakter seseorang yang melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Maka dapat dikatakan jika ingin tahu shaum seseorang berhasil atau tidak maka dapat dilihat dari perubahan karakternya setelah ramadhan.

Semoga pendidikan karakter yang dilakukan pda ramadhan kali ini mampu dicapaindengan hasil yang maksimal agar selepas ramadhan kita termasuk umat terbaik disisiNya.

Wallahu a’lam bishawab

Sumber gambar: freepik.com

Lebarannya Desa

Tahun ini saya berlebaran di desa. Di tempat kelahiran Ibu. Sebuah desa yang juga menjadi pusat kecamatan di kota paling ujung Jawa Timur.

Berlebaran yang saya maksud adalah tinggal dan menginap selama beberapa hari di rumah masa kecil Ibu. Rumah yang kecil. Selama 2 malam. Lebih lama dari sebelum sebelumnya. Yang biasanya cuma semalam. Bahkan pernah hanya 1 siang.

Terasa istimewa dengan kehadiran Buyut putri yang masih segar. Di usia yang tidak segar lagi untuk ukuran umum. Dengan ingatan yang masih tajam di usia 89 tahun. Sungguh Allah telah melebihkan beliau.

Beliau senang sekali duduk-duduk di teras depan sambil memandangi jalanan yang makin ramai. Memang desa ini tidak jauh dari tujuan wisata yang sudah terkenal internasional. Blue Fire, yang kabarnya hanya bisa ditemui ketika sebelum dini hari.

Pariwisata di kota ini memang sedang berkembang. Potensinya besar. Ada laut di timur hingga ke selatan. Ada gunung di utara dan barat. Budaya masyarakatnya juga unik. Dengan bahasa khas. Tarian yang khas pula. Paduan Jawa dan Bali.

Keramahan penduduknya bukan isapan jempol. Ataupun retorika pertunjukan saja. Beberapa kali saya berjalan-jalan melewati rumah didalam gang disambut senyuman pemilik ketika bertemu pandang.

Mereka tak segan menyapa dan mempersilakan mampir. Padahal mereka sama sekali tidak tahu siapa kami. Kami hanya tamu di desa itu. Bahkan ada yang mengajak makan ketupat sambil menunjukkan segerombol ketupat di tangannya ketika saya dan istri melintasinya saat jalan pagi.

Ketupat memang menu utama di daerah ini saat Idul Fitri. Ditemani sayur semur daging pedas yang saya selalu menghindarinya. Jumlah cabe dan daging dalam satu panci sayur itu selalu menang cabenya. Paten buat yang memang selera pedas. Dan paten pula buat yang tidak suka pedas namun sedang membutuhkan penguras isi perut dengan cepat.

Itu belum seberapa. Masih ada yang lebih. Yaitu ketika budaya keramahan dan menghormati tamu berkolaborasi dengan kawanan ketupat dan sayur pedas itu. Setiap rumah yang dikunjungi saat lebaran selalu menyuguhkan menu tersebut. Sudah menjadi kebiasaan bahwa ajakan tuan rumah tidak baik jika di tolak oleh tamu.

Saat lebaran biasanya saya dalam satu hari berkunjung ke 3 rumah saudara di desa ini secara beruntun sebelum di rumah terakhir yang memang menjadi tujuan menginap. Maka sudah sangat kenyang sekali dengan ketupat. Dan sayur pedasnya itu.

Jika rumah saudaranya ada tujuh…. entahlah…

Saling Memaafkan

Dalamnya hati siapa yang tahu. Pun juga dibalik kiriman-kiriman ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri yang disambung dengan permohonan maaf lahir dan batin.

Bahkan dibeberapa kasus cukup hanya disebutkan lahir batin ya. Umumnya mereka-mereka yang punya kedekatan sangat akrab. Dengan kalimat yang tidak panjang cukup bagi mereka untuk paham maksudnya.

Saya teringat pada nasehat KH Athian Ali yang beberapa kali sempat disampaikan dalam kajian selepas Idul Fitri beberapa tahun silam. Saling bermaafan antar manusia bukan hanya formalitas tanpa makna. Pemanis bibir saja.

Maaf memaafkan haruslah jelas perihal apa yang perlu dimintakan maaf dan diberikan maaf. Karena urusan antar manusia ini tidak akan mendapat ridlo Allah sebelum yang bersangkutan saling meridloi.

Ketika teknologi sudah seperti sekarang ini, permohonan maaf lahir dan batin mudah saja dilontarkan lewat jemari kepada orang lain ataupun sekelompok orang, saya pikir urgensi untuk menjelaskan detil apa yang di maaf maafkan masihlah diperlukan.

Saya rasa ini mirip sekali dengan sebuah akad. Yang mana harus ada kejelasan dan tidak saling mendolimi. Permintaan maaf yang disertai paksaan agar pihak yang lain memaafkan tentu bukanlah termasuk didalamnya. Demikian juga dengan permintaan maaf yang tanpa penjelasan apa yang dimintakan maaf.

Maka kita harus selalu berhati-hati agar terhindar dari menyakiti orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja. Apalagi bila kecenderungan lupa membayangi. Sungguh akan bermasalah di akherat nanti jika tiba-tiba ada seseorang yang menuntut di pengadilan Allah Yang Maha Adil. Duuuh…

Lalu pesan-pesan WA yang sudah berdatangan harus diapain?

Yang jelas pengirimnya ya silakan dibalas. Yang tidak jelas pengirimnya juga boleh. Itung-itung sebagai menjalin petemanan baru. Jika mau. Sebagai yang dimintai maaf tidak lain dan tidak bukan ya memberi maaf. Bukankah Nabi kita orang yang pemaaf? Bukankah Allah Maha Pemaaf?

Semoga dengan mudahnya memberi maaf bagi yang lain maka kita diberi kemudahan juga ketika meminta maaf. Bahkan sudah dimaafkan sebelum meminta maaf.

Selamat hari raya Idul Fitri, semoga Allah menerima amal ibadah kita selama ramadhan kemarin dan dipertemukan dengan ramadhan berikutnya.

Sumber gambar : freepik.com

Buku Panduan Orang Hidup

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 17 oleh Ustadz Ali Sadikin di Masjid Daarurrahman.

Ketika membeli sebuah mobil, selain mendapatkan mobilnya juga disertai dengan buku manual yang berisi keterangan lengkap bagi pemilik agar dapat mengoperasikannya dengan baik.

Hidup ibarat sebuah mobil. Juga mempunyai buku manual yang berisi tuntunan menjalankannya dengan baik. Buku manual tersbut adalah Al-Qur’an.

Al-qur’an sebagai pedoman hidup yang diturunkan Allah pada 17 Ramadhan sungguh spesial dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Salah satunya adalah mampu memberikan ketenangan kepada pembacanya. Meski dibaca tanpa tahu artinya.

Karenanya seorang muslim harus mampu membaca panduan hidup ini. Namun pada kenyataannya orang yang sudah mengetahui hal tersebut tidak mau membaca. Ini semata-mata karena dia tidak atau belum memahami nilai keutamaan Al-Qur’an.

Semoga melalui Ramadhan kali ini semua muslim mampu untuk berlatih mendekat kepada Al-Qur’an, mempelajarinya baik sendiri maupun bersama-sama.

Wallahu a’lam bishawab

Ibu Bangsa Berpulang

Semua sudah tahu, mantan Ibu negara, istri mantan presiden RI ke 6 berpulang. Hari Sabtu kemarin. Setelah berjuang melawan sakitnya selama 3 bulan. Indonesia, bangsa besar ini berduka.

Saya juga. Pun ketika istri Pak Habibie, Ibu Ainun meninggal 22 Mei 2010 dulu. Juga ketika Ibu Tien Soeharto mangkat pada 28 April 1996. Seorang Ibu tidak akan pernah tergantikan.

Bagi saya meninggalnya Bu Ani punya arti tersendiri buat bangsa ini. Keriuhan sosial yang makin menjadi pasca pemilu 17 April lalu seolah sontak terhenti. Media massa dan mungkin media sosial tiba tiba tidak gaduh. Semua teralihkan kepada peristiwa tersebut.

Saya senang. Sebab terlalu lelah membaca berita yang saling menyalahkan. Berpotensi memecah persatuan. Menghancurkan keindahan dan kebajikan sosial. Seolah nilai luhur hidup terkubur dalam-dalam.

Berpulangnya Bu Ani membuka mata persamaan kita. Sama-sama kehilangan. Sama-sama sadar bahwa kita sebangsa. Baik 01 maupun 02. Baik simpatisan maupun KPU. Baik pendemi maupun aparat.

Satu hal yang saya sadari, insyaallah Bu Ani orang yang baik. Sampai-sampai meninggalnyapun memiliki arti bagi bangsa ini.

Apa yang bisa melebihi itu semua? Saya rasa tidak ada. Orang baik, meninggalnya pun masih bermanfaat bagi orang lain.

Selamat jalan Ibu.

Sumber gambar: shutterstock.com

Pahala Puasa Yang Tidak Sempurna

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 26 di Masjid Al Barokah Gudang Utara.

Dalam sebuah hadist diceritakan Nabi pernah menyampaikan bahwa ada orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Tiada sedikitpun pahala puasa baginya.

Hadist ini mengingatkan kita bahwa puasa lebih dari sekedar menahan makan dan minum. Masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan agar puasa mendapatkan tujuan yang diinginkan. Termasuk pahala langsung dari Allah.

Setidaknya ada 4 indikasi puasa yang tidak mendapatkan pahala ataupun pahalanya tidak sempurna, antara lain :

  • Puasa ramadhan yang tanpa niat. Imam Syafi’i mengatakan bahwa niat merupakan bagian dari rukun puasa. Niat dapat dibaca malam hari ataupun menjelang sahur.
  • Puasanya orang yang tidak mampu menjaga mulut dan pikirannya. Mulut dari mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak baik. Pun pikiran dari pikiran buruk.
  • Puasa yang tidak ditutup dengan menunaikan zakat fitrah. Sebuah hadist menyatakan bahwa pahala puasa tergantung antara langit dan bumi kecuali telah membayar zakat fitrah.
  • Puasanya orang yang tidak saling memaafkan. Orang- orang itu adalah suami istri, orang tua dan anak, muslim dengan muslim yang lainnya.

Dengan demikian puasa ramadhan ini adalah latihan menyeluruh bagi umat muslim. Latihan memahan segala kebutuhan fisik dan latihan menahan jiwa.

Semoga ramadhan kali ini mampu menjadikan kita orang yang masuk kedapam golongan umat yang sabar.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar: freepik.com