Lebarannya Desa

Tahun ini saya berlebaran di desa. Di tempat kelahiran Ibu. Sebuah desa yang juga menjadi pusat kecamatan di kota paling ujung Jawa Timur.

Berlebaran yang saya maksud adalah tinggal dan menginap selama beberapa hari di rumah masa kecil Ibu. Rumah yang kecil. Selama 2 malam. Lebih lama dari sebelum sebelumnya. Yang biasanya cuma semalam. Bahkan pernah hanya 1 siang.

Terasa istimewa dengan kehadiran Buyut putri yang masih segar. Di usia yang tidak segar lagi untuk ukuran umum. Dengan ingatan yang masih tajam di usia 89 tahun. Sungguh Allah telah melebihkan beliau.

Beliau senang sekali duduk-duduk di teras depan sambil memandangi jalanan yang makin ramai. Memang desa ini tidak jauh dari tujuan wisata yang sudah terkenal internasional. Blue Fire, yang kabarnya hanya bisa ditemui ketika sebelum dini hari.

Pariwisata di kota ini memang sedang berkembang. Potensinya besar. Ada laut di timur hingga ke selatan. Ada gunung di utara dan barat. Budaya masyarakatnya juga unik. Dengan bahasa khas. Tarian yang khas pula. Paduan Jawa dan Bali.

Keramahan penduduknya bukan isapan jempol. Ataupun retorika pertunjukan saja. Beberapa kali saya berjalan-jalan melewati rumah didalam gang disambut senyuman pemilik ketika bertemu pandang.

Mereka tak segan menyapa dan mempersilakan mampir. Padahal mereka sama sekali tidak tahu siapa kami. Kami hanya tamu di desa itu. Bahkan ada yang mengajak makan ketupat sambil menunjukkan segerombol ketupat di tangannya ketika saya dan istri melintasinya saat jalan pagi.

Ketupat memang menu utama di daerah ini saat Idul Fitri. Ditemani sayur semur daging pedas yang saya selalu menghindarinya. Jumlah cabe dan daging dalam satu panci sayur itu selalu menang cabenya. Paten buat yang memang selera pedas. Dan paten pula buat yang tidak suka pedas namun sedang membutuhkan penguras isi perut dengan cepat.

Itu belum seberapa. Masih ada yang lebih. Yaitu ketika budaya keramahan dan menghormati tamu berkolaborasi dengan kawanan ketupat dan sayur pedas itu. Setiap rumah yang dikunjungi saat lebaran selalu menyuguhkan menu tersebut. Sudah menjadi kebiasaan bahwa ajakan tuan rumah tidak baik jika di tolak oleh tamu.

Saat lebaran biasanya saya dalam satu hari berkunjung ke 3 rumah saudara di desa ini secara beruntun sebelum di rumah terakhir yang memang menjadi tujuan menginap. Maka sudah sangat kenyang sekali dengan ketupat. Dan sayur pedasnya itu.

Jika rumah saudaranya ada tujuh…. entahlah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *