Review Buku: Melihat Diri Sendiri, Refleksi Dan Inspirasi

Membaca buku ini seakan diajak menjelajah waktu kembali ke Indonesia 20 tahun silam. Saat dimana orde baru yang sudah cukup lama hidup menjalani hari-hari terakhirnya. Hingga kemasa negeri Paman Sam mencari musuh baru, bosan tidak ada lawan sejak Uni Sovyet bubar.

Penulisnya adalah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus yang Asli Rembang Jawa Tengah. Tulisan-tulisan beliau banyak di muat di media massa. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan dengan periodisasi yang saya tulis sebelumnya.

Sekarang beliau juga aktif menilis di Twitter dengan account @gusmusgusmu dengan 2 juta pengikutnya. Insyaallah tidak akan pernah muak membaca celotehan beliau jika Anda masih manusia. Maaf….

Dari tulisan yang ada di buku ini Saya menemukan kondisi yang mirip dengan yang saat ini sedang terjadi di Republik tercinta ini. Dari rakyatnya, dari pemerintahnya, dari politiknya, dari pikirannya, dan dari yang lainnya. Saya jadi bertanya-tanya, setelah sekitan tahun berlalu -sejak tulisan itu dibuat- kondisi yang digambarkan masih relevan dengan yang sekarang, apakah ini berarti selama ini kita belum berubah banyak?

Jika iya, sudah barang tentu tidak sesuai dengan nasehat Nabi agar hari ini lebih baik dari pada kemarin. Jika tidak, mungkin cuma kebetulan situasinya sama atau mirip. Tapi disinilah menariknya buku ini.

Bab yang berjudul Kemaruk misalnya. Gusmus mengingatkan kita bersama tentang sifat yang selalu ingin mendapat banyak. Selalu merasa kurang. Kurang jabatan, kurang harta, kurang wewenang. Sampai sekarang masih ada kan ?

Pada bab Kekelompokan Jahiliyah, beliau menyinggung fanatisme berlebihan yang menyebabkan kita bergolong-golongan yang kelewat batas. Sehingga gampang sekali dimasuki kepentingan yang bermacam-macam. Agama, politik dan nafsu. Sampai saat ini masih juga ada kan?

Maka sangat tepat jika buku ini mengambil judul Melihat Diri Sendiri karena sebagian besar isinya jadi cermin masyarakat saat ini. Sekaligus menyadarkan bahwa persoalan-persoalan yang ada sekarang memang sudah ada sebelumnya. Obatnya pun juga dijelaskan oleh Gusmus. Seperti yang ditulis pada ‘Kembali ke Allah’, membersihkan diri sambil mengagungkan yang Maha Agung misalnya.

Menurut saya buku ini bisa membantu menyadarkan siapa saja yang membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *