Bukit Kemenangan

Jika sebuah kemenangan atau kesuksesan dianggap sebuah gunung yang harus didaki untuk mencapai ke puncaknya, maka cara yang paling mudah untuk menjalaninya adalah membuat kemenangan-kemenangan kecil diantaranya. 

Fungsinya adalah sebagai batu loncatan dari yang mudah, menengah, hingga ke puncak. Karenanya di gunung selalu ada Pos 1 terbawah, Pos 2 lebih diatasnya, Pos 3 makin keatas, dan Pos 4, 5 dan seterusnya yang sudah barang tentu lebih keatas lagi.

Secara mental, kemenangan kecil-kecil ini akan membangun kepercayaan diri pelakunya. Tidak jarang jika langsung memandang ke puncaknya yang tinggi dan tertutup awan membuat munculnya perasaan drop. “Apa?! Saya harus sampai setinggi itu?!  Harus sejauh itu ?!” (Baca dengan visualisasi sinetron ya…) Kalimat – kalimat ini bisa muncul untuk kemudian melelahkan secara mental.

Maka buatlah bukit-bukit dengan puncak yang lebih rendah mudah diraih namun tetap pada jalur yang membawa ke puncak sesungguhnya. Misal jika puncak kemenangannya adalah mampu lari 5KM nonstop dibawah 1 jam dalam 4 minggu kedepan, maka bukit kemenangan ke 1 adalah lari 3KM nonstop di minggu pertama. Lalu 4KM nonstop di minggu kedua. Dilanjut dengan 5KM nonstop di minggu ketiga.

Once bisa mencapai bukit yang pertama, jangan lupa lakukan evaluasi apa yang membuat berhasil dan apa yang bisa ditingkatkan. Begitu juga untuk yang kedua dan seterusnya. Insyaallah akan ditemukan emas dalam diri yang selama ini ada namun tidak disadari.

Dan ketika itu ditemui, mental pun akan menguat. Kepercayaan diri meningkat. Berkat bukit-bukit kemenangan. 

Jangan lelah untuk berlatih!

#RoadToBandungRun #TimIcikiwir #SelfReminder

Lari Dari Rumah Jilid 3

Alhamdulillah, #LARIDARIRUMAH #RUNTOOFFICE jilid 3 berhasil saya selesaikan. Tepatnya Jumat pagi yang lalu. Persiapannya memang sudah lebih lancar dari jilid 1 dan 2 sebelumnya. Namun bukan berarti tanpa catatan untuk peningkatan di jilid-jilid berikutnya.

Masih ada perasaan terburu-buru mengawali start agar tidak kesiangan dijalan. Ini membuat pemanasan jadi tidak optimal. Memang kemarin meskipun jam masih menunjukkan 05:30, langit sudah lebih terang. Karena rute yang saya lewati adalah juga rute orang beraktifitas, biasanya jika pagi lebih cepat terang jalanan juga lebih cepat ramainya.

Perubahan rute dari yang direncanakan. Lebih karena agar sinkron dengan kegiatan teman-teman kantor yang pagi itu berencana jalan pagi sekaligus sarapan. Saya menemui mereka di titik temu yang telah disepakati. Jadi kegiatan pribadi bisa juga lho disinkronisasi dengan kegiatan kantor.

Secara waktu tempuh, jika dibandingkan dengan jilid 2 sebelumnya, kali ini catatan saya lebih lama sekitar 5 menit. Kurang seringnya berlatih, kondisi tidak fit karena masih ada sisa flu, dan sempat sedikit pusing ketika bangun tidur membuat saya harus menjaga agar tidak terlalu memaksakan diri.

Maka detak jantung saya batasi agar bisa berada lebih banyak di zona 3 sampai 4. Melalui fitur HRM yang terkoneksi di jam saya pantau sejak kilometer 2. Meskipun begitu, sempat ada di beberapa ruas yang sempat naik ke zona 5. Kalau sudah begini, mau tidak mau harus menurunkan kecepatan (yang memang tidak saya tidak pernah cepat) bahkan berhenti ambil napas sejenak.

Berlari adalah tentang mengenali diri. Latihan adalah proses melakukan pengenalan dari waktu ke waktu. Saya tidak mau niatan untuk menjadi sehat malah berakhir dengan sesuatu yang fatal. Karenanya lawan terberat ketika berolah raga lari adalah diri sendiri.

Insyaallah akan ada jilid-jilid berikutnya.

Sumber gambar: Filip Mroz @ Unsplash.com

Merasa Hidupmu Sulit, Coba Lihat Dia

Namanya Angga (11), anak pemulung yang sempat disangka meninggal karena kelaparan karena tidak merespon ketika dipanggil-panggil. Tidak lama videonya menyebar. Viral. Sayapun jadi latah menuliskannya. Dari media massa didapat informasi bahwa dia telah meninggalkan rumahnya sejak dua hari sebelum lebaran (Kompas).

Saya yakin betapa pedihnya hati orang tua ketika mendapati anaknya tidak kembali kerumah. Apalagi sampai hampir tiga bulan. Saya tidak tahu bagaimana kedua orang tua Angga bertahan menghadapi kondisi tersebut.

Apalagi saat lebaran. Momen dimana umumnya keluarga memilih untuk berkumpul. Merayakan kegembiraan. Merayakan kemenangan setelah berhasil menyelesaikan puasa sebulan. Coba saja simulasikan kondisi itu pada diri kita masing-masing.

Makin hancur hati orang tuanya ketika tiba-tiba setelah sekian bulan muncul kabar anaknya ditemukan meninggal dunia. Walau kemudian diketahui itu tidak benar. Tapi tetap saja hati orang tua sempat hancur.

Saya tidak akan kuat menghadapinya. Anak pergi mabit di sekolah saja sudah kangennya minta ampun. Sungguh berharap tidak ingin terjadi pada Kami sekeluarga. Semoga Allah mengabulkan.

Namun kabar ini membuka mata kita bersama. Ada seorang anak sebelas tahun bukanlah usia pekerja. Mereka seharusnya bermain. Seharusnya duduk di kelas 4 sekolah dasar. Namun kondisi berkata lain. Angga harus memulung untuk mencari tambahan biaya hidup. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Ada orang tua yang kehilangan anggota keluarganya. Anaknya. Tanpa kabar jelas. Di era komunikasi dan informasi yang mudah didapat ini. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Lalu jika masih mengeluh bahwa hidup ini sulit, pasti ada yang salah dengan cara bersyukur saya. Cara memandang hidup. Cara memandang persoalan.

Saya berharap tidak ada lagi keluarga yang kehilangan anaknya. Ataupun anggota keluarganya. Tidak ada lagi keluarga yang berpisah-pisah. Pun tidak kesulitan hidup. Semoga Allah meridloi.

Lanjut Usia

Kadang saya bertanya pada diri sendiri, ketika lanjut usia nanti bagaimana akan menjalaninya? Karena karyawan tidak akan seterusnya menjadi karyawan. Dia akan digantikan. Oleh alat, sistem, maupun orang lain.

Saya akan sangat merasa beruntung jika saat itu tidak merepotkan siapapun. Bahkan anak-anak sendiri. Persis seperti orang tua dan mertua sekarang ini. Mereka memilih untuk hidup dengan mandiri. Walau anak-anaknya tidak akan merasa keberatan sedikitpun jika harus merawat beliau-beliau.

Alhamdulillah sampai sekarang semuanya diberikan kesehatan yang luar biasa. Tidak pernah sakit. Semoga Allah selalu melindunginya. Begitulah harapan kami anak-anaknya. Apalagi yang harus tinggal jauh.

Di Indonesia, lanjut usia didefinisikan sebagai orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Itu menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Masih menurut UU tersebut, terdapat istilah Usia Lanjut Potensial yaitu lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa. Sedang Usia Lanjut Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Kalau ditanya ingin menjadi kelompok yang mana saat lanjut usia nanti, tentu saja saya akan memilih Usia Lanjut Potensial. Agar tidak tergantung kepada siapapun. Termasuk anak-anak. Biarlah mereka membangun dan melestarikan kehidupannya. Menjadi bermanfaat bagi sesamanya. Pun lingkungan.

Tidak ada yang lebih baik selain menjadi bermanfaat bagi orang lain bukan ?

Merdeka!

Minta ampun ribetnya. Jika sudah berurusan dengan warga. Dalam hal ini warga komplek perumahan. Yang notabene sudah pasti pinter-pinter. Tak jarang urusan yang seharusnya bisa mudah menjadi lebih berkelok. Bahkan bisa lebih banyak dari pada kelok 44 di Sumatra Barat sana.

Apalagi yang terkait dengan dana. Dana kas RW tepatnya. Yang saya tidak tahu cerita awalnya. Namun jadi tahu sekarang. Setelah ditugaskan pak RW menjadi penyelenggara peringatan Hari Kemerdekaan ke 74. Dan apa boleh buat, pertunjukan tetap harus berjalan.

Sekali merdeka tetap merdeka! Alhamdulillah. Beberapa tetangga masih sudi untuk urun rembug dan tenaga. Beberapa lainnya urun dana. Lomba anak-anak pun tidak mengecewakan. Tidak hanya anaknya yang bergembira. Orang tuanya ikut bersuka cita.

Bersama-sama itu bisa merumitkan sekaligus bisa memudahkan. Asal dengan modal pengetahuan, komunikasi aktif, kepercayaan, dan kesabaran. Ditambah keberanian mengambil resiko. Dan Berserah diri kepadaNya.

Negara ini saja bisa merdeka dari penjajahan, apalagi yang cuma mengisinya. Allah pasti menyertai orang-orang yang berjuang dengan kesabaran. Insyaallah.

Terpaksa Rehat

Kata orang bijak, sesuatu sering kali disadari besar nilainya ketika sudah tidak ada lagi. Cukup banyak contohnya. Dari hal yang dekat-dekat bisa jadi contoh bagus.

Misalnya saja ketika saya dulu punya sepeda. Jarang digunakan. lebih banyak parkir dibawah tangga. Ketika sudah dijual, muncul perasaan kenapa dulu tidak aktif digunakan.

Begitu juga dengan kesehatan. Seringnya ketika sehat lupa jika harganya sangat mahal. Kalau sedang sakit baru sadar. Tidak bisa berkegiatan. Harus istirahat. Belum lagi jika harus beli obat.

Sekarang saya sedang merasakannya. Flu menyerang. sebenarnya sudah 2 minggu yang lalu merasakan gejala-gejalanya. Buru-burulah pasang kuda-kuda perlawanan.

Tapi sepertinya terlambat. Perlakuan korektif seperti olah raga, mengatur makanan memang kurang efektif. Antisipasilah yang paling ampuh.

Dan memang, beberapa bulan terkahir ini untuk 2 hal itu sedang mengalami kemunduran. Olahraga sedang tidak bersemangat. Makan makan menjadi-jadi.

Semoga flu kali ini menjadi titik yang lebih menyadarkan saya. Sehingga tidak terlalu sering terpaksa rehat karena sakit. Sungguh tidak enak.

Sumber gambar : unsplash.com

Review Buku: Kelakar Madura Buat Gus Dur

Lagi-lagi saya membaca buku baru dengan tulisan lama. Cetakan pertama buku ini sih Januari 2018. Namun bukunya sudah muncul 2001. Rupanya yang saya pegang adalah versi republish (saya belum tahu istilah yang tepat).

Di buku ini, H. Sujiwo Tedjo menuliskan beberapa cerita dengan latar belakang kehidupan orang-orang Madura yang memang unik. Apalagi terkait dengan persepsi mereka terhadap sosok Gus Dur yang pada masa itu menjadi presiden RI.

Kenapa Madura ? Menurut saya karena penulis memang paham dengan budaya Madura. Yang memang penulisnya juga punya darah tersebut yang diturunkan dari Ayahnya. Cukup banyak kisah-kisah jenaka yang muncul sejak saya kecil dulu terkait dengan budaya ini. Kadang digunakan untuk menunjukkan hal positif ataupun sebaliknya.

Namun di buku ini, Penulisnya mampu meracik dengan baik antar kelakar atau humor, Madura, dan Gus Dur dengan baik. Sehingga tidak akan ada pihak yang tersinggung. Begitu menurut saya yang membacanya di jaman sekarang ini. Tidak tahu ketika masa-masa dulu saat buku ini muncul pertama kali.

Kenapa begitu ? Walaupun isinya kelakar, buku ini banyak mengambil setting kondisi masyarakat dan politik saat presidennya Gus Dur. Banyak sekali pro kontra pada saat itu. Bahkan sampai-sampai menjadi masalah hukum yang cukup ramai.

Membaca buku ini akan lebih mudah memahami jika sudah tahu latar budaya Madura sebelumnya. Tapi jika tidak pun tak mengapa. Minimal jadi tahu jalan pikiran orang-orang Madura secara umum.

Tapi bukan berarti kesemuanya seperti itu. Saya yakin Mbah Tedjo punya makna-makna lain terhadap penggambaran personifikasi yang digunakan pada cerita-ceritanya. Jadi tidak untuk di generalisir ke semua orang Madura.

Saya sendiri setelah membaca buku ini jadi tertarik untuk mencari informasi lebih dalam. Bagaimana bisa penduduk pulau Madura yang tidak jauh dari Pulau Jawa (sekarang terhubung dengan jembatan 5 km) tetapi hidup dengan bahasa yang sangat berbeda dengan Jawa Mataraman ataupun Malangan. Malah dengan Surabaya saja sudah jauh berbeda.

Begitulah sebuah buku. Bisa memberikan insight-insight. malah juga pertanyaan yang bikin penasaran lebih jauh.