Ciut Di Stasiun Gilingan De Tjolomadoe

Bulan sabit tipis menggantung di langit ketika kami tiba. Tidak susah mencari tempat parkir karena halamannya begitu luas dan terbuka. Kebetulan juga ada yang sedang sesi pemotretan prewed tak jauh dari situ.

Revitalisasi bekas pabrik gula Tjolomadoe ini nampaknya berhasil. Arsitektur bangunan jaman Belanda yang di poles rapi oleh kerjasama beberapa BUMN menarik untuk diabadikan. Apalagi dipadukan dengan mobil retro dan balutan flash ala strobist serta pasangan prewed yang sedang berbahagia.

Tapi tidak semuanya sedang berbahagia. Anak saya seperti enggan untuk keluar dari mobil. Entah kenapa. Sementara cerobong pabrik nan gagah menyambut setiap orang yang hadir dan selfie bersamanya. Siraman cahaya kuning sepanjang badannya yang menjulang dilangit malam sungguh menarik perhatian.

De Tjolomadoe —nama baru bekas pabrik gula yang pernah berdiri sejak 1861— sebenarnya tidak ada pada daftar kunjungan dalam perjalanan mudik dan balik kami tahun ini. Namun ketika mereview rute tol lintas Jawa yang sudah beroperasi, nama ini menarik perhatian saya. So mumpung lewat didekatnya, kenapa tidak sekalian mampir.

Stasiun Gilingan langsung menyambut kami. Ruangan pertama yang pengunjung masuki begitu melewati gerbang pengecekan tiket. Bekas mesin giling tertanam di tengah-tengah ruang yang luas. Kokoh di lantai semen yang dibuat mirip seperti panggung. Kami menikmati ruangan ini. Menikmati sepinya. Walau sudah direstorasi, tapi malam-malam di bekas pabrik itu sudah cukup bikin merinding disko.Nyali sedikit ciut. Lihat saja sepinya di foto yang ada di sini.

Sepasang pengunjung baru datang. Mengobati perasaan saya. Tapi cuma sebentar. Setelah foto sana sini, mereka segera berlalu ke ruangan besar yang lain. Saya merinding disko lagi. Dua kali lipat yang sebelumnya. Yang pertama tadi dan karena prihatin terhadap sikap pengunjung kita ketika di sebuah tempat. Apalagi tempat yang punya sejarah bagus seperti ini. Yang hanya foto-foto, selesai. Itupun selfie.

Padahal, banyak cerita yang sangat berharga di tempat seperti ini. Misalnya tentang keraton Surakarta yang mampu bekerjasama dengan Belanda membangun pabrik gula. Contoh lain bisa diamati dari teknologi peralatan yang digunakan pada waktu itu. Mesin uap dan gerigi-gerigi besar menggambarkan kemampuan bangsa kita menguasainya.

Foto-foto di ujung ruangan juga bernilai sejarah. Beberapa mengungkapkan kondisi bangunan yang belum di restorasi. Hampir 20 tahun dibiarkan terbengkalai. Pengelola terakhir, PTPN tidak mampu lagi mengoperasikannya. Tidak seekonomis dulu.

Cerita tentang ruangan yang lain saya lanjutkan di tulisan yang akan datang ya.

*Tulisan ini adalah bagian ke 1. Bagian ke 2 : Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe. Bagian ke 3 (terakhir) : Tembok Berakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *