Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe

Melanjutkan tulisan sebelumnya, di Stasiun Gilingan ini terdapat beberapa foto. Saya tertarik kepada foto-foto yang menampilkan ruang stasiun gilingan ketika masih terbengkalai, belum di restorasi. Lantai dan mesin berantakan. Perdu tumbuh di sana sini. Beberapa atap jebol. Untungnya saya datang saat kawasan ini sudah diremajakan, jika seperti yang difoto-foto itu makin ciut nyali ini.

Saya jadi makin penasaran dengan pabrik gula ini. Satu-satunya pengetahuan tentang pabrik gula adalah cerita tentang anak kecil yang dimasukkan karung untuk dijadikan tumbal saat akan musali musim giling. Entah benar atau tidak. Itulah yang disampaikan tetangga saya di kampung jika anak-anak sedang bertingkah nakal.

Untungnya penasaran saya bisa terjawab dengan adanya Museum De Tjolomadoe, sebuah ruang khusus yang pintu masuknya dari ruang Stasiun Gilingan. Desain pintu masuknya minimalis. Hanya berupa lorong berwarna merah yang kemudian berbelok ke kanan. Dari luar tidak akan tampak apa yang ada di dalam. Seakan-akan pengunjung ditarik ke sebuah dunia yang lain.

Dunia itu berisi tentang banyak hal yang bisa membentuk gambaran tentang kondisi pergulaan pada masa itu. Arsitektur pabrik, pengaruh Mangkunegara, Colomadu di masa lalu, proses produksi gula dan pabrik gula yang ada di Pulau Jawa. Semuanya dapat dilihat informasi yang di cetak di dinding, foto, maket, buku administrasi, buku SOP mesin, serta sisa bangunan tungku yang terbuat dari batu bata.

Bagi saya sisa tungku ini paling berbeda dengan yang lain. Karena satu-satunya sisa dari bangunan lama yang ada di ruangan itu. Agar nampak menyatu dengan ruang museum pengelola memasang kaca transparan disekelilingnya. Tata cahaya di sini dibuat agak redup dengan beberapa spotlight.

Buku administrasi adalah hal lain yang berkesan buat saya. Dari halaman yang terbuka menunjukkan jumlah penjualan harian pabrik gula Colomadu dan keterangan lain yang ditulis tangan. Tulisan dengan huruf latin yang konsisten kemiringan serta sambungan antar hurufnya. Saya yakin penulisnya adalah orang yang mahir dalam menulis halus.

Jaman sekarang, menulis halus adalah keahlian yang langka. Beruntung saya sempat mencicipi pelajaran menulis tersebut di kelas 1 Sekolah Dasar dulu. Walau jadi pelajaran yang paling tidak saya sukai. Karena motorik halus saya yang lemah. Garis sambung antar huruf tidak pernah berhasil saya goreskan dengan tipis. Setebal alis Pak Raden. Kalaulah akan dihapus, kertasnya sobek. Karena karet penghapus ditekan ke permukaan kertas sekuat-kuatnya.

Museum memang menyimpan banyak hal menarik. Saya ingin berlama-lama disana tapi karena masih harus melanjutkan perjalanan, saya segera menuju pintu keluar museum yang ternyata terhubung ke Stasiun Penguapan masih didalam gedung pabrik. Dari sini saya melihat ada ruangan lain yang dijadikan cafe. Entah kenapa awalnya ingin masuk kesana namun saya batalkan. Entah kenapa, pokoknya ndak sreg aja. Apalagi setelah mendengar cerita menarik dari petugas jaga pintu keluar. Saya ceritakan di tulisan berikutnya saja ya.

*Tulisan ini adalah bagian ke 2. Bagian ke 1 : Ciut Di Stasiun Gilingan De Tjolomadoe. Bagian ke 3 (terakhir) : Tembok Berakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *