Terima Kasih Eyang Habibie

Terlibat dalam sebuah proses pada masa anak-anak adalah cara terbaik untuk memberikan pengertian terhadap makna sebuah pekerjaan. Karena dia akan merekamnya dalam-dalam dan berkesan lama. Tapi namanya juga anak, saat pertama kali diminta untuk ikut serta membantu bawaanya sudah bete.

Dulu saya juga begitu. Sedang enak-enaknya main bola, Bapak memanggil agar membantunya melepas roda mobil. Secara berkala Bapak memang melakukan tukar posisi ban agar tapak di permukaan habis dengan merata. Reaksi pertama adalah menggerutu tapi tetap dikerjakan juga.

Bapak meminta saya mengendurkan mur pengunci dengan menginjak kunci roda. Setelah itu beliau memompa dongkrak hidrolik yang sebelumnya sudah dipasang di bawah as roda belakang. Dengan begitu mur bisa dilepas seluruhnya dengan lebih mudah karena cukup dengan memutar ban yang sudah di posisi melayang.

Rangkaian pekerjaan sederhana ini yang ingin Bapak perlihatkan kepada saya. Dengan melibatkan kedalam proses, memastikannya di dalam kendali, dan sambil menjelaskan saya menjadi paham alat apa yang harus disiapkan, bagaimana urutannya, dan lain sebagainya.

Diilhami dengan pengalaman tersebut, minggu lalu saya mendapatkan momentum istimewa. Pengibaran bendera setengah tiang. Sebagai wujud bela sungkawa meninggalnya Presiden RI ke 3, Pak Habibie pada tanggal 11 September 2019 pukul 18.

Malam itu juga saya mengajak anak untuk mengubah posisi bendera satu tiang penuh —bendera Agustusan kemarin belum sempat kami turunkan menjadi setengahnya. Untuk tiang bendera kami memanfaatkan potongan pipa PVC yang masih lumayan panjang sekitar 2 meter. Kemudian diikatkan ke penyangga kanopi.

Ternyata anak saya sedang memikirkan ide tercepat membuatnya jadi setengah tiang. Lalu mengusulkan untuk memotong saja pipa PVC menjadi setengahnya. Saya terdiam. sempat kehabisan kata-kata sejenak. Kadang ketidaktahuan malah membuat solusi-solusi kreatif.

Tapi akhirnya saya coba meluruskan. Bahwa yang ingin dilakukan adalah mengubah benderanya menjadi setengah tiang. Dan bukan memperpendek tiang. Walau dari sudut pandang posisi bendera ke tanah menjadi sama, keduanya berbeda jika dilihat dengan sudut pandang posisi bendera pada tiang. Dan benderapun sudah berhasil menjadi setengah tiang.

Saya senang, momentum dapat kami manfaatkan dengan baik. Kami jadi lebih mencintai bendera dan bangsa. Kami jadi memahami cara bekerja bersama.

Terima kasih Eyang Habibie.

Sumber gambar : freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *