Numpang Dengar

Ini cerita tentang kampung tempat saya pernah tinggal dulu. Sebuah kampung di kota kecil di Jawa Timur sana. Sekitar tahun 85-an.

Untuk menuju ke sini harus masuk gang yang hanya cukup untuk lalu lalang motor saja. Kira-kira sepanjang 50 meter dari jalan aspal yang tidak begitu ramai. Kendaraan hanya satu dua saja karena bukan jalan utama.

Sebelah kanan gang ada beberapa petak sawah yang tak lagi ditanami. Sisi kirinya bertembok tinggi. Sebenarnya itu adalah pagar pembatas halaman sebuah rumah dengan halaman besar. Kabarnya milik orang keturunan Tionghoa.

Rumah itu berbeda sekali dengan rumah-rumah yang ada di balik pagar tingginya. Berderet kecil-kecil tanpa halaman dan berdempet berhadapan. Ditengah deretan itu jalan akses kampung saya.

Rumah saya urutan ke 7 deretan sebelah kiri. Alhamdulillah sudah bertembok dan bercat. Masih ada beberapa rumah disana yang bertembok tapi belum dicat. Beberapa setengah bagian depan berdinding tembok dan belakang berdinding bambu. Bahkan ada yang kesemuanya berdinding bambu dengan warna putih dari kuasan kapur yang dicampur air. Kuas yang digunakan adalah segenggam batang jerami yang diikat.

Tetangga sebelah kanan juga sudah tembok. Rumah Pak Imam. Begitu saya menyebutnya karena pemilik rumah sering menjadi imam di mushollah. Tetangga seberang juga tembok. Rumah Pak Budi. Beliau tidak mempunyai telapak tangan kanan karena harus merelakannya saat masa perjuangan dulu.

Tetangga sebelah kiri setengah tembok. Saya lupa nama pemiliknya. Yang saya ingat beliau adalah pedagang. Penampilannya mirip Bang Haji Rhoma Irama. Rambut, jambang, janggut, dan wajah dibuat mirip. Saya menduga beliau fans setia Raja Dangdut tersebut. Yang pada tahun-tahun itu memang sedang naik daun.

Pemilik rumah ini memiliki sebuah cassette player lengkap dengan salonnya. Suaranya bisa menjangkau hingga beberapa rumah sekitarnya. Walau sumber suara ada di ruang tamunya. Saya dan tetangga sering mendapat hiburan gratis. Jenis hiburan tidak terlalu banyak dan gampang didapat pada masa.

Kalau saya jadi familiar dengan lagu-lagu Bang Haji Rhoma itu karena sering ikut numpang dengar. Sebut saja Piano, Begadang, Lari Pagi, 135 juta dan banyak lagi yang lainnya. Tetangga yang satu ini benar-benar seorang fans berat.

Selepas Isya biasanya hiburan itu dimulai. Setau saya tidak pernah ada yang mengeluhkannya. Kami penduduk gang ini rata-rata bukan orang berada. Hiburan sungguh jauh dari urutan atas dari daftar kebutuhan yang harus dipenuhi. Maka ketika ada tetangga yang sedang ingin berbagi hiburan, kami juga ikut menikmati. Soal selera, cukup mengikuti pilihan si empunya cassete player saja.

Tetangga saya ini selain suka dengan dangdut khususnya Bang Haji Rhoma, juga gemar memutar kaset Jula-Juli Cak Kartolo CS. Humor berbahasa Jawa Timuran dengan lakon berbeda-beda. Biasanya satu kaset satu lakon. Saya ikutan tertawa jika mendengarnya. Bahkan hingga saat ini, berselang 20 tahun lebih.

Bedany sekarang tidak perlu lagi menunggu tetangga yang memutar kasetnya. Sudah banyak orang yang memasukkan rekaman Cak Kartolo di Youtube. Saya hanya perlu memutarnya disana. Sungguh menjadi pengobat kangen pada masa kecil dulu.

Bagi saya pribadi, baik Bang Haji maupun Cak Kartolo sudah menjadi legenda. Termasuk tetangga saya itu. Berkat numpang dengar dari beliau masa kecil saya terhibur.

Sumber gambar : freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *