Solusi Andai-Andai

Dari tulisan Rest Area kemarin, saya jadi berandai-andai menjadi pemilik tempat itu. Ancaman dari kemunculan jalan tol itu nyata. Pengelola rest area di kawasan Puncak dan Pantura sudah merasakan.

Karena jalan tol tidak bisa jadi dalam semalam maka sudah semestinya dampak negatif yang mengancam juga bisa diantisipasi dari awal.

Menyadari bahwa ada ancaman dan perlu dilakukan antisipasi adalah langkah awal yang akan saya lakukan. Berkawan keadaan istilah saya sambil memperkirakan dampaknya.

Berikutnya membangun alternatif. Orang bisnis pasti lebih paham ini. Peluang sekecil apapun pasti dicari dan dihitung peluang keberhasilannya.

Karena saya sedang berpura-pura jadi pemilik rest area, maka alternatif pertama adalah membuka merk yang sama di rest area jalan tol.

Merk yang sudah dikenal luas adalah keuntungan. Salah satu senjata untuk bersaing. Mie Baso SR sudah dikenal luas orang-orang yang sering melintas di jalur selatan Jawa Barat.

Saya menemui merk Pringsewu di rest area jalan tol Pantura saat mudik lebaran lalu. Merk ini sudah cukup dikenal dan banyak cabangnya.

Alternatif lain adalah menggeser usaha. Memanfaatkan lokasi saat ini untuk usaha lain yang tidak mengandalkan bisnis model yang sama.

Misalnya jadi tempat wisata jika geografis memungkinkan seperti adanya sungai yang indah atau sumber air panas.

Areal pergudangan juga bisa jadi alternatif jika ada daerah industri di dekat situ. Tapi lewat Google Map saya tidak melihatnya di sekitar sana.

Alternatif-alternatif tersebut tentu datang bersama dengan biaya tambahan. Pastinya seorang pengusaha sudah memahaminya sebagai konsekuensi logis.

Ide ini masih jauh dari implementasi karena tentu harus ada hitung-hitungan bussiness plan yang sungguhan. Bukan cuma andai-andai.

Seperti saya sedang berandai-andai jadi pemilik rest area ini.

(Rumah) Tetangga Masa Gitu

Setiap hari saya rumah ini. Semakin menyedihkan saja. Saya hitung sudah 10 tahun kosong. Tak terurus.

Sambungan air sudah tidak ada. Listriknya malah lebih dulu diputus. Perlu tali untuk mengikat pintu supaya tertutup rapat.

Tapi ada keindahan disana. Pohon kamboja tumbuh dan berbunga. Padahal hanya dilempar tetangga ke tumpukan pasir di halaman itu.

Tidak juga ada yang menyirami. Hanya dari air hujan. Yang sudah beberapa bulan ini tidak turun.

Rest Area

Weekend kemarin saya mampir di rest area Mie Baso SR di Jl Raya Rajapolah Tasikmalaya. Dua kali. Yang pertama Jumat tengah malam. Kedua kalinya Minggu sore.

Arealnya luas, bisa menampung banyak rombongan bis antar kota maupun pariwisata. Tempat duduknya menyebar. Ada yang indoor, teras, outdoor.

Makanan yang disediakan juga banyak. Pop Mie, sosis bakar, ice cream, prasmanan sunda, dan andalannya adalah Mie Baso SR.

Awalnya ketika tengah malam tiba di sana saya penasaran. Dengan area yang sangat luas itu, apa banyak yang datang dan makan disitu ?

Ternyata memang banyak. Saya dapat jawabnya di Minggu siang. Bus yang parkir lebih dari 10 buah. Ditambah lagi beberapa minibus.

Suasananya sudah mirip pasar. Antrian makanan mengular. Mungkin mereka ini yang ikut paket makan dari bus.

Yang ke toilet juga banyak. Maklum perjalanan panjang rute selatan Jawa Barat.

Yang antri Mie Baso SR juga tidak pernah sepi. Setelah cek di Google, rupanya menu ini favorit pengunjung dan terkenal.

Sebenarnya banyak mie baso yang lebih enak. Tapi kelelahan, kebosanan, dan jalan yang meliuk-liuk mengikuti alur gunung berkongsi membuat badan lelah.

Kondisi ini butuh penyegaran. Makanan berkuah panas cocok sekali. Sedap dan segera tandas.

Tapi apakah kondisi ini akan tetap sama setelah jalan tol selatan Jawa jadi ? Akan terjawab nanti setelah tolnya jadi. Ruas Gede Bage Bandung ke Tasikmalaya ditargetkan siap 2024.

Sebagai perkiraan sepertinya bisa berkaca pada pengaruh tol trans Jawa. Kalau mau yang lebih lama lagi adalah tol Purbaleunyi. Coba baca artikel Kompas ini atau artikel CNN ini.

Dampak Tol bagi pemasukan pedagang sebagian besar negatif. Omset berkurang karena pembelinya makin sedikit.

Sampai saat ini saya belum mendapat kisah sukses mereka yang berhasil survive. Mestinya ada. Mungkin saya saja yang belum tahu.

Jika Anda tahu, tolong tulis di komentar ya … Insyaallah akan jadi studi yang bagus buat kita semua.

Saya masih ingin merasakan Mie Baso SR dan juga tidak mau repot berlama-lama di jalanan jalur selatan itu. Saya pikir Tol akan jadi pilihan menarik.

Ke 100

Alhamdulillah ini tulisan ke 100. Milestone buat saya. Bisa mengumpulkannya di sini butuh perjuangan —sedikit lebay.

Konsistensi adalah musuh terbesar saya. Kehabisan ide adalah alasan klasiknya. Padahal masalah utamanya adalah lemahnya prioritas.

Menulis adalah membagi ide melalui cerita. Bercerita itu perlu alur dan data. Ditambah dengan memantaskan data apa dipasang disebelah mana.

Seperti menghias ruangan. Meja diletakkan di sebelah mana. Kursinya pakai yang model apa. Warna dindingnya bagaimana. Kesan yang ingin ditangkap oleh orang yang masuk ke ruangan ini apa.

Itu semua memerlukan tahapan. Dan setiap tahapan membutuhkan waktu. Ini yang saya sering teledor.

Awalnya ingin setiap hari bisa menghasilkan satu tulisan. Tidak terwujud. Ganti jadi 2 hari sekali. Tidak juga. Seminggu sekalipun pernah terlewat.

Maka saya tempatkan prioritas menulis menjadi paling wahid di daftar tantangan dalam menulis yang harus saya hadapi kedepan.

Nomer duanya adalah data. Ini penting agar tulisan menjadi berdasar. Tidak hanya kira-kira atau katanya orang.

Mencari data membutuhkan waktu untuk mencari sumber. Ketika sudah menemukan, membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri apakah data tersebut relevan dengan isi tulisan yang saya susun.

Dalam kelas Art Writing-nya Pakdhe Prie GS menjadikan data adalah hal wajib yang harus disertakan dalam sebuah tulisan.

Nomer ketiga adalah ejaan yang benar. Meskipun tulisan-tulisan di web ini hanya blog bukan berarti ejaan bisa sembarangan.

Sudah seharusnya saya belajar mengikuti ketentuan menulis yang benar. Setidaknya saya menjadi lebih siap ketika mau menyusun naskah. Kapan-kapan.

Ya saya memang belum berpikir untuk itu. Rasanya kok saya masih ingin menulis hanya untuk diri sendiri. Sebagai terapi membiasakan menata pikiran dan kata.

Menuangkan pikiran dalam tulisan membuat saya lebih runut dalam berkomunikasi. Hingga ide bisa disampaikan dengan lebih baik.

Jika ada yang merasa kesulitan dalam menyampaikan ide atau maksud, cobalah banyak-banyak menulis. Dan segera lakukan. Karena 100 tidak akan ada jika yang pertamapun belum.

Bagai berharap bikin nasi goreng tanpa pernah menyalakan kompor.

Tembok Berakar

Tulisan ini adalah lanjutan dari perjalanan mampir ke bekas pabrik gula yang sekarang sudah di revitalisasi. (Baca: Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe)

Bulan sabit masih menggantung di langit hitam Kabupaten Karanganyar saat saya keluar dari ruang museum ke Stasiun Penguapan. Ruangan yang juga besar dengan deretan ketel di atas yang disangga dengan tiang baja.

Ruangan ini dilengkapi dengan lampu jalan retro. Pengunjung seperti sedang berada pedestrian sambil menikmati orang yang lalu lalang. Sayangnya karena malam, waktu itu saya tidak bertemu banyak orang.

Di ujung ruang ini, di sebelah kanan ada ruangan yang cukup terang. Rupanya cafe. Besali Cafe namanya. Sempat saya terpikir untuk istirahat sambil mencicip kopinya. Tapi saya batalkan. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman.

Di dinding luarnya menempel akar pohon yang berkelok-kelok dari atas kebawah. Silang menyilang. Sebuah pohon pernah tumbuh di atas tembok tersebut saat gedung ini terbengkalai dulu.

“Tapi sekarang pohon itu sudah dimatikan. Akarnya tidak akan tumbuh lagi,” kata staf keamanan yang saya temui di pintu keluar 50 meter dari situ.

Bagi saya tembok berakar itu bagai cerita sejarah. Bahwa area ini sudah berumur panjang dan telah lama ditinggalkan.

Saya pernah melihat seperti ini di salah satu gedung di kawasan kota tua. Saat hunting foto bersama teman-teman komunitas fotografi.

Spot seperti ini memang jadi favorit fotografer. Nuansa jaman dahulunya akan terekam bagus di hasil jepretan.

Tapi tidak dengan anak saya. Dia makin kelihatan tidak nyaman dan ingin segera menjauh dari gedung besar ini. Berdirinya tidak tenang. Bergerak gelisah.

Sementara saya dan istri masih menyimak lanjutan cerita petugas penjaga pintu keluar.

“Memang saat proses restorasi, area pohon itu jadi tempat yang paling dihindari oleh para pekerja. Katanya ada yang mengganggu mereka. Tapi sudah berhasil pula diselesaikan.”

Sepertinya memang lebih baik saya tidak masuk ke ruangan itu dulu deh. Mungkin lain kali saja saat berkunjung ke sini siang hari. Kapan-kapan, pikir saya dalam hati.

Sambil berjalan keluar gedung, anak saya masih belum juga surut gelisahnya. “Lain kali nggak usah lama-lama ditempat kaya gini.”

Dan memang hari sudah malam. Kami juga harus segera melanjutkan perjalanan 1,5 jam lagi ke Jogja.

Sumber gambar : freepik.com

*Tulisan ini adalah bagian ke 3 (terakhir). Bagian ke 1 : Ciut Di Stasiun Gilingan De Tjolomadoe. Bagian ke 2 : Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe

Radar Hidup

Hidup ini komplek. Gabungan dari variabel intelektual, emosional, dan spiritual menyusun perilaku.

Idealnya adalah ketiganya harus dikedepankan bersama-sama. Tapi bukan untuk saling jago, melainkan untuk digunakan secara harmonis.

Membiasakan ketiganya berjalan bersama susahnya bukan main. Di negara kita intelektual dibangun di sekolah-sekolah.

Sekarang ini sudah banyak sekolah yang menambahkan dengan emosional dan spiritual.

Agar anak menjadi seimbang. Agar remaja menjadi stabil. Agar pemuda menjadi pembawa kebaikan bagi semua orang dan lingkungannya.

Apa jadinya jika intelektual, emosional, dan spiritual berjalan masing-masing ? Terlalu pintar atau terlalu mudah terharu atau terlalu mudah fanatik.

Saya takut itu terjadi pada diri, istri, keluarga, dan anak. Yang terakhir ini penting bagi saya.

Saya ingin anak saya bisa memainkannya harmonis. Sanggup memahami kapan waktu untuk menggunakan intelektual atau emosional, atau spiritual.

Atau malah ketiganya digunakan bersama namun dengan kombinasi mana yang harus lebih besar, sedang, dan kecil saja.

Kepala saya langsung membayangkan tampilan grafik radar dengan tiga variabel tersebut.

Dengan memahaminya saya berharap tidak ada lagi orang tua (apalagi berumur hampir 90 tahun) yang mendapat perlakuan tidak sopan dari generasi mudanya —Jangan pernah meniru!.

Seperti yang terjadi di televisi beberapa waktu lalu. Oleh publik figur. Yang katanya wakil rakyat. Yang katanya dari partai besar pemenang pemilu kemarin.

Untungnya saya bukan wakil rakyat itu.

Sumber gambar: Freepik.com

Jadi Bawahan Enak, Jadi Atasan Gajinya Banyak

Jadi bawahan itu enak. Bisa ngomongin bawahan yang lain. Bisa ngomongin Office Boy. Bisa ngomongin tukang koran. Bisa ngomongin atasan.

Kadang yang terakhir ini bisa cukup panjang. Meski sudah ngomongin saat makan siang sampai berbusa-busa, kalau perlu disambung di group Whatsap (WA). Group yang sudah pasti atasan tidak terdaftar disitu. Hehe.

Pernah seorang atasan dianggap tidak mau dikalahkan dalam sebuah diskusi. Semua percobaan untuk membelokkan keyakinan beliau berakhir dengan kandas. Saya perhatikan dalam diskusi itu beliau lihai dalam memahami informasi dan paham betul kapan waktunya harus mengeluarkan informasi yang mana.

Kalau sudah seperti ini bawahan cuma bengong-bengong saja dan berusaha memahaminya. Rupa-rupanya cara pandang kami yang belum seluas beliau atau memang penggalian kami yang kurang. Pemegang informasi lebih banyak akan lebih berpeluang berhasil mengarahkan diskusi sesuai keinginannya.

Sebagai atasan, memahami lebih banyak hal adalah sudah sewajarnya. Ini ditunjang dengan akses ke sumber informasi yang lebih luas dan mudah daripada bawahan. Kelebihan kewenangan ini pada akhirnya memperbanyak sudut pandang beliau pada suatu masalah.

Ini juga yang membuat atasan mampu menetapkan sasaran dan cara untuk mencapainya. Tim dibawah tinggal menjalankan sambil sesekali memberikan feedback yang dibutuhkan. Maka dengan pertimbangan yang matang bisa saja atasan menetapkan strategi jual rugi pada satu produk ke seorang konsumen. Dengan pertimbangan konsumen tersebut punya potensi yang besar untuk melakukan transaksi yang lain dalam waktu dekat.

Bawahannya melaksanakan. Jika ada yang tidak paham tinggal bertanya ke atasan. Jika sudah selesai laporkan hasilnya untuk dievaluasi bersama.

Jadi bawahan itu enak. Tidak perlu mikir banyak-banyak. Jadi tanggung jawabnya tidak banyak juga. Cuma ya gajinya juga tidak akan sebanyak atasan. Mau yang enak atau yang gajinya banyak ?