Tembok Berakar

Tulisan ini adalah lanjutan dari perjalanan mampir ke bekas pabrik gula yang sekarang sudah di revitalisasi. (Baca: Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe)

Bulan sabit masih menggantung di langit hitam Kabupaten Karanganyar saat saya keluar dari ruang museum ke Stasiun Penguapan. Ruangan yang juga besar dengan deretan ketel di atas yang disangga dengan tiang baja.

Ruangan ini dilengkapi dengan lampu jalan retro. Pengunjung seperti sedang berada pedestrian sambil menikmati orang yang lalu lalang. Sayangnya karena malam, waktu itu saya tidak bertemu banyak orang.

Di ujung ruang ini, di sebelah kanan ada ruangan yang cukup terang. Rupanya cafe. Besali Cafe namanya. Sempat saya terpikir untuk istirahat sambil mencicip kopinya. Tapi saya batalkan. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman.

Di dinding luarnya menempel akar pohon yang berkelok-kelok dari atas kebawah. Silang menyilang. Sebuah pohon pernah tumbuh di atas tembok tersebut saat gedung ini terbengkalai dulu.

“Tapi sekarang pohon itu sudah dimatikan. Akarnya tidak akan tumbuh lagi,” kata staf keamanan yang saya temui di pintu keluar 50 meter dari situ.

Bagi saya tembok berakar itu bagai cerita sejarah. Bahwa area ini sudah berumur panjang dan telah lama ditinggalkan.

Saya pernah melihat seperti ini di salah satu gedung di kawasan kota tua. Saat hunting foto bersama teman-teman komunitas fotografi.

Spot seperti ini memang jadi favorit fotografer. Nuansa jaman dahulunya akan terekam bagus di hasil jepretan.

Tapi tidak dengan anak saya. Dia makin kelihatan tidak nyaman dan ingin segera menjauh dari gedung besar ini. Berdirinya tidak tenang. Bergerak gelisah.

Sementara saya dan istri masih menyimak lanjutan cerita petugas penjaga pintu keluar.

“Memang saat proses restorasi, area pohon itu jadi tempat yang paling dihindari oleh para pekerja. Katanya ada yang mengganggu mereka. Tapi sudah berhasil pula diselesaikan.”

Sepertinya memang lebih baik saya tidak masuk ke ruangan itu dulu deh. Mungkin lain kali saja saat berkunjung ke sini siang hari. Kapan-kapan, pikir saya dalam hati.

Sambil berjalan keluar gedung, anak saya masih belum juga surut gelisahnya. “Lain kali nggak usah lama-lama ditempat kaya gini.”

Dan memang hari sudah malam. Kami juga harus segera melanjutkan perjalanan 1,5 jam lagi ke Jogja.

Sumber gambar : freepik.com

*Tulisan ini adalah bagian ke 3 (terakhir). Bagian ke 1 : Ciut Di Stasiun Gilingan De Tjolomadoe. Bagian ke 2 : Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *