Ke 100

Alhamdulillah ini tulisan ke 100. Milestone buat saya. Bisa mengumpulkannya di sini butuh perjuangan —sedikit lebay.

Konsistensi adalah musuh terbesar saya. Kehabisan ide adalah alasan klasiknya. Padahal masalah utamanya adalah lemahnya prioritas.

Menulis adalah membagi ide melalui cerita. Bercerita itu perlu alur dan data. Ditambah dengan memantaskan data apa dipasang disebelah mana.

Seperti menghias ruangan. Meja diletakkan di sebelah mana. Kursinya pakai yang model apa. Warna dindingnya bagaimana. Kesan yang ingin ditangkap oleh orang yang masuk ke ruangan ini apa.

Itu semua memerlukan tahapan. Dan setiap tahapan membutuhkan waktu. Ini yang saya sering teledor.

Awalnya ingin setiap hari bisa menghasilkan satu tulisan. Tidak terwujud. Ganti jadi 2 hari sekali. Tidak juga. Seminggu sekalipun pernah terlewat.

Maka saya tempatkan prioritas menulis menjadi paling wahid di daftar tantangan dalam menulis yang harus saya hadapi kedepan.

Nomer duanya adalah data. Ini penting agar tulisan menjadi berdasar. Tidak hanya kira-kira atau katanya orang.

Mencari data membutuhkan waktu untuk mencari sumber. Ketika sudah menemukan, membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri apakah data tersebut relevan dengan isi tulisan yang saya susun.

Dalam kelas Art Writing-nya Pakdhe Prie GS menjadikan data adalah hal wajib yang harus disertakan dalam sebuah tulisan.

Nomer ketiga adalah ejaan yang benar. Meskipun tulisan-tulisan di web ini hanya blog bukan berarti ejaan bisa sembarangan.

Sudah seharusnya saya belajar mengikuti ketentuan menulis yang benar. Setidaknya saya menjadi lebih siap ketika mau menyusun naskah. Kapan-kapan.

Ya saya memang belum berpikir untuk itu. Rasanya kok saya masih ingin menulis hanya untuk diri sendiri. Sebagai terapi membiasakan menata pikiran dan kata.

Menuangkan pikiran dalam tulisan membuat saya lebih runut dalam berkomunikasi. Hingga ide bisa disampaikan dengan lebih baik.

Jika ada yang merasa kesulitan dalam menyampaikan ide atau maksud, cobalah banyak-banyak menulis. Dan segera lakukan. Karena 100 tidak akan ada jika yang pertamapun belum.

Bagai berharap bikin nasi goreng tanpa pernah menyalakan kompor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *