Solusi Andai-Andai

Dari tulisan Rest Area kemarin, saya jadi berandai-andai menjadi pemilik tempat itu. Ancaman dari kemunculan jalan tol itu nyata. Pengelola rest area di kawasan Puncak dan Pantura sudah merasakan.

Karena jalan tol tidak bisa jadi dalam semalam maka sudah semestinya dampak negatif yang mengancam juga bisa diantisipasi dari awal.

Menyadari bahwa ada ancaman dan perlu dilakukan antisipasi adalah langkah awal yang akan saya lakukan. Berkawan keadaan istilah saya sambil memperkirakan dampaknya.

Berikutnya membangun alternatif. Orang bisnis pasti lebih paham ini. Peluang sekecil apapun pasti dicari dan dihitung peluang keberhasilannya.

Karena saya sedang berpura-pura jadi pemilik rest area, maka alternatif pertama adalah membuka merk yang sama di rest area jalan tol.

Merk yang sudah dikenal luas adalah keuntungan. Salah satu senjata untuk bersaing. Mie Baso SR sudah dikenal luas orang-orang yang sering melintas di jalur selatan Jawa Barat.

Saya menemui merk Pringsewu di rest area jalan tol Pantura saat mudik lebaran lalu. Merk ini sudah cukup dikenal dan banyak cabangnya.

Alternatif lain adalah menggeser usaha. Memanfaatkan lokasi saat ini untuk usaha lain yang tidak mengandalkan bisnis model yang sama.

Misalnya jadi tempat wisata jika geografis memungkinkan seperti adanya sungai yang indah atau sumber air panas.

Areal pergudangan juga bisa jadi alternatif jika ada daerah industri di dekat situ. Tapi lewat Google Map saya tidak melihatnya di sekitar sana.

Alternatif-alternatif tersebut tentu datang bersama dengan biaya tambahan. Pastinya seorang pengusaha sudah memahaminya sebagai konsekuensi logis.

Ide ini masih jauh dari implementasi karena tentu harus ada hitung-hitungan bussiness plan yang sungguhan. Bukan cuma andai-andai.

Seperti saya sedang berandai-andai jadi pemilik rest area ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *