Guru-Guruku

Sudah sewajarnya jika Hari Guru menjadi penghargaan tertinggi buat orang-orang di negeri ini yang mengabdikan diri mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. 

Bahkan mungkin kurang, mengingat tugas dan efek yang mengikutinya kemudian. Bagi diri murid, bagi orang tuanya, bagi keluarganya, bagi kampungnya, bagi desanya, bagi kotanya dan bagi bangsanya.

Ini jika guru yang dimaksud adalah seseorang, lembaga, ataupun profesi. Maka tepat kiranya yang muncul adalah bapak ibu guru yang telah mengajar ketika sekolah dulu. Eh, dosen masuk dalam sebutan ini nggak ya?

Jika guru yang dimaksudkan adalah fungsi mengajarkan sesuatu sehingga kita bisa mendapatkan pengetahuan baru (belajar) maka yang muncul lebih banyak. Bukan hanya siapa tapi juga apa.

Karena belajar tidak berbatas. Selama hidup. Kapan saja, dimana saja, dari siapa atau apa saja. Apalagi teknologi memudahkannya.

Saya bisa tahu bagaimana kehidupan kota-kota modern di Cina lewat channel National Geographic. Anak saya bisa belajar menganalisa teknik memanah dari rekaman-rekaman video di Youtube channel World Archery. Sementara ibunya meracik infused water dari panduan yang dipasang instagram kawannya.

Bahkan saya bisa belajar banyak dari kematian! Saya menemuinya pagi tadi. Seorang kawan berpulang. Menyisakan ketabahan luar biasa dari orang-orang dekatnya.

Di hari guru ini saya menetapkan hati untuk merasakan syukur tidak hanya dari seseorang namun juga semuanya. Semua yang menjadi penyebab bertambahnya pengetahuan.  Dan tentu saja Dzat Yang Maha Tahu.

Juga dari si Micil. Kucing manja yang jarang mandi. Yang membuat saya tahu berapa kocek yang harus disediakan untuknya setiap bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *