Melukis Sejarah Menyusun Kenangan

Beberapa bulan belakangan ini Kami hampir selalu melepas tugas rekan senior. Bahkan beberapa kali ada lebih dari seorang dalam satu waktu. Dua tahun ini memang puncak dari panen pensiunan. Rata-rata beliau itu sudah mengabdi sekitar 30 tahunan.

Jika menilik kebelakang memang di periode tersebut, tempat saya bekerja ini sedang banyak merekrut orang. Mungkin waktu itu bisnis sedang mempersiapkan masa tumbuh. Juga ekonomi sedang membaik. Dalam kondisi normal, sekitar 30 tahunan setelahnya mereka-mereka ini memasuki masa pensiun.

Masa dimana pengabdian kepada perusahaan sudah mencapai waktu yang maksimal sesuai peraturan yang berlaku. Ini juga berarti juga berakhirnya interaksi kerja dengan beliau-beliau. Untuk kemudian yang tersisa adalah kenangan. Cieeeee…

Disetiap acara pelepasan senior, saya selalu bertanya-tanya. Apakah nanti ketika saat saya berada diposisi itu akan dikenang baik ? Apakah nanti rekan-rekan kerja akan melepas saya dengan senyum gembira ? Gembira karena apa ? Entahlah…

Tentu semua orang selalu berharap meninggalkan kenangan terbaik. Dilepas dengan senyum gembira rekan-rekan karena bangga. Bukan gembira karena ‘pengacau’ akan segera pergi. Sungguh bukan situasi yang bagus jika ternyata selama ini keberadaan kita ternyata menjadi ‘pengacau’ bagi yang lainnya.

Tapi ada yang lebih parah lagi. Yaitu jika ternyata situasi itu tidak disadari oleh yang dianggap ‘pengacau’. Amit-amit… Masih untung jika ketahuan saat-saat menjelang pensiun. Apa jadinya jika sampai kebawa mati, tidak sempat memohonkan maaf dan memperbaiki kesalahan ? Sengsara di akhirat.

Maka waktu sebelum pensiun itu menjadi penting. Ya… masa dimana saya dan Anda semua masih aktif bekerja di perusahaan ini. Karena berarti kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala kekeliruan dan membangun kenangan baik untuk masa mendatang. Ini adalah investasi masa depan.

Bentuk investasinya berupa menjadi pribadi yang baik, yaitu menjadi seorang yang bermanfaat bagi semua yang ada disekitarnya. Ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad (HR Ahmad dan Thabrani ), “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. lainnya.”

Beruntung, di perusahaan ini, untuk menjadi sosok seperti itu tidak sulit. Karena sudah disediakan panduan bagaimana bersikap dan bertindak yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan. Para ahli manajemen menyebut budaya perusahaan.  

Mengikuti panduan tersebut sama dengan mendukung pencapaian sukses perusahaan. Studi menemukan bahwa budaya perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pribadi dan perusahaan.

Melaksanakan panduan tersebut juga akan memudahkan dalam menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang. Karena kita semua memiliki kesamaan pandangan terhadap karakter dasar yang selalu dimiliki oleh setiap karyawan. Tidak ada lagi rasa curiga. Sehingga kerja sama mudah dijalin.

Pribadi dengan karakter yang baik sudah pasti akan melukis sejarah yang baik pula. Ini akan dikenang hingga kapanpun. Tidak cuma saat pelepasan pensiun, bahkan setelah mati. Tengok saja para pahlawan kita. Harum namanya hingga kini dan kemudian nanti. 

Saya teringat nasehat bagus dari Iron Lady Inggris –Margaret Thatcher yang berbunyi  “Watch your thoughts, for they will become actions. Watch your actions, for they’ll become… habits. Watch your habits for they will forge your character. Watch your character, for it will make your destiny.”

Karakter dibangun dengan kehati-hatian terhadap pikiran, tindakan, dan kebiasaan. Sekali lagi beruntung kita karena perusahaan ini punya panduan untuk melakukannya.

Saya tidak perlu lagi khawatir dengan kenangan apa yang tersisa nanti. Cukup dengan memastikan mengikuti panduan-panduan itu setiap saat.

Sumber gambar : Freepik.com kstudio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *