Radio Dan Saya

Radio satu-satunya hiburan saya dulu di kampung. Memang ada TV, tapi lebih sering mati. Sesekali menyala. Yaitu saat Ayah menonton Dunia Dalam Berita. Jam 21:00. Itu pun kadang-kadang.

Waktu itu, radio relatif lebih gampang saya operasikan. Pasang catuan listriknya dan pencet tombol ON Off, suaranya langsung terdengar. Dangdut.

Jenis musik itu yang sering di putar di beberapa stasiun radio swasta AM. Seingat saya cuma ada 2 stasiun swasta waktu itu.

Menemani stasiun negeri, Radio Republik Indonesia (RRI) dan Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD). Sementara stasiun radio FM baru ada belakangan, akhir 80-an.

Tapi saya tidak hafal nama-namanya. Karena memang juga jarang mendengarkan. Ibu melarang anaknya mendengarkan radio ketika belajar. Mengganggu fokus belajar, menurut beliau.

Maka radio berbentuk kotak warna perak lebih sering tak bersuara. Apalgi saat musim ujian sekolah tiba. Tapi tidak sehening TV. Karena ketika ujian selesai, radio boleh menyala kembali.

Tapi tidak terus menerus dari pagi hingga petang. “Bisa panas,” kata Ibu. Apalagi saat menggunakan catuan listrik. Ibu sangat takut dengan yang satu ini.

Saya pernah meraba bagian belakang dekat pangkal kabel listriknya. Memang lebih panas dari yang lain.

Selain panas, radio ini ada tempat pemutar kasetnya. Tapi lebih sering bikin pita kaset kusut. Kombinasi roda karet dan tuas-tuas dimakan usia yang jadi aktornya.

Sekalinya berhasil memutar kaset bolak-balik (side A dan side B) tanpa kusut saat bapak dapat pembagian kaset kampanye Golkar.

Saya yang waktu itu belum tahu apa itu Golkar bergoyang joget mendengarnya. Masa bodoh dengan maksud pembagian kaset itu ke seluruh PNS.

Saya yakin, sekarang sudah tidak musim lagi. Karena sudah tidak ada radio cassete.

Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/8e0EHPUx3Mo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *