Kenal Garuda

Ada tiga garuda yang saya kenal sampai sekarang. Semuanya menarik untuk diceritakan. Ihwal perkenalan saya dengan Garuda.

Yang pertama adalah Garuda Pancasila lambang negara kita. Pelajaran pertama yang harus saya hafalkan dalam rangka belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Khususnya sebagai murid SD inpres.

Pada waktu itu Indonesia memang harus punya lambang negara karena Saya lihat negara lain punya. Lambang negaranyapun harus binatang yang besar, gagah, dan tidak terkalahkan.

Burung Garuda adalah pilihan yang tepat. Seekor burung yang berkalung tameng dan bertali rantai baja. Sayap, paruh dan cakar yang besar. Kombinasi pertahanan yang kuat dan penyerang yang hebat.

Keyakinan saya ini semakin kuat ketika suatu saat Ayah membawa oleh-oleh patung ukiran kayu dari Bali. Patung itu diletakkan di pojok ruang tamu. Tingginya sekitar 50 cm saja. Itulah perkenalan saya dengan Garuda yang kedua kali.

Kata Ayah itu adalah ukiran patung Garuda Wisnu Kencana. Berbentuk seekor burung yang sedang dikendarai seorang lelaki gagah. Sayapnya mengembang, cakarnya mencengkeram ular. Saya merasa ular itu jahat.

Lelaki yang mampu menunggangi burung yang besar pastilah orang sakti. Bukan orang sembarangan. Menurut kisah, dia adalah Dewa Wisnu. Garuda memang menjadi kendaraannya.

Tapi saya tidak tahu lagi dimana sekarang patung ukir itu berada. Patung yang pernah saya patahkan salah satu ujung sayapnya.

Garuda yang ketiga saya kenal adalah yang mengangkasa di langit Indonesia. Burung besi. Beberapa kali saya punya kesempatan menaikinya. Airline kebanggaan Indonesia.

Pesawat Garuda Indonesia adalah kendaraan yang tergagah di negeri ini. Begitu pandangan saya. Nama besar Indonesia tersemat disana. Dibawa terbang menghampiri banyak negara di dunia.

Kendaraan tergagah adalah kendaraan bagi orang-orang yang besar dan sukses. Seperti Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda. Mungkin ini juga yang mendasari perusahaan Garuda Indonesia mengkhususkan diri melayani segmen menengah atas.

Bahwa pelanggannya adalah orang-orang hebat yang harus di service dengan memuaskan. Diberikan pengalaman yang berbeda jika dibandingkan terbang dengan airline lain. Dijaminkan keamanan kendaraan dan bawang bawaannya. Serta ketepatan waktunya.

Tapi sayang, Garuda sedang diterpa badai. Yang sebetulnya saya yakin tanda-tanda badainya sudah bisa dikenali jauh sebelumnya. Perusahaan sudah bisa melakukan antisipasi. Seharusnya.

Tapi tak tahulah. Saya hanya kenal Garuda. Tidak paham. Setidak paham saya dengan Kacang Garuda. Yang dalam bungkusnya kebanyakan kacang kulit berbuah kecil. Padahal Garuda adalah nama yang besar.

Setidaknya buat saya.

Sumber gambar : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/goresan-tinta-dullah-sebagai-penyempurna-lambang-garuda/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *