Baling-Baling

Awal bulan yang lalu saya dapat kesempatan naik pesawat baling-baling. ATR 72-600 milik Wings Air dari Jogja ke Bandung. Entah kenapa kursi yang kosong mencapai setengahnya.

Apa memang banyak yang menghindar naik pesawat baling-baling? Saya tidak tahu. Tapi beberapa kawan memang demikian. Jika ada pilihan pakai jenis jet, maka baling-baling tidak diliriknya.

Saudara saya lebih ekstrim. Memang sama sekali tidak mau. Apalagi harus mendarat di Bandung. Yang bandaranya tidak jauh dari kota dan deretan gunung.

Memang landing di Bandung bisa bikin pengalaman tersendiri bagi penumpang. Beberapa kali saya merasakan betapa tidak nyamannya menembus awan. Isi perut seperti diaduk. Bandung selalu berkawan gunung. Dan gunung selalu berkawan dengan awan.

Awan kadang jadi musuh penumpang pesawat. Walau tidak bersentukan langsung, awan mampu mengaduk perut orang yang ada di dalam pesawat. Penumpang yang tidak terbiasa sudah pasti pucat.

Saya mengalaminya saat pertama kali naik ATR dengan tidak sengaja. SUB ke BDO transit 30 menit di JOG. Tidak sengaja karena yang beli tiketnya istri saya. Kebetulan waktu itu awan cukup tebal ketika akan mendarat di Bandung. Goncangannya sangat terasa. Mungkin sebenarnya goncangan normal mengingat badan pesawat yang tidak sebesar pesawat jet.

Tapi berbeda dengan yang terakhir saya alami. Semuanya berjalan mulus. Langit Jogja dan Bandung cerah meskipun malam. Sepanjang perjalananpun tanpa goncangan berarti. Nyaman dan perut aman. Apakah ini karena ATR 72-600 punya teknologi baru yang lebih tahan goncangan atau karena awan memang tidak ada? Keduanya mungkin.

Barangkali kawan-kawan saya yang masih takut perlu mencoba tipe ini dan bertemu dengan cuaca yang bersahabat. Supaya hilang ketakutannya. Karena pesawat jenis ini saya pikir sangat dibutuhkan Indonesia yang berpulau dan bergunung.

Penerbangan antar kota atau antar pulau yang cuma memakan waktu 1 atau 2 jam cukup nikmat dengan pesawat baling-baling. Mungkin ini juga yang membuat PT Dirgantara Indonesia (DI) fokus memproduksi pesawat di kelas ini dulu. CN-235 yang menghebohkan dunia waktu itu.

Entah apakah akan ada kesempatan untuk mencoba menaiki pesawat buatan dalam negeri itu. Tapi saya berharap ada.

Sumber gambar: http://www.atraircraft.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *