Disemprot Atau Tidak ?

Apa saja bisa jadi polemik. Terlebih di masa kini. Setuju dan tidak setuju adalah hal biasa. Seharusnya begitu. Social media mempercepat penyebarannya. Memperbanyak pesertanya. semakin kencang berisiknya.

Disemprot atau tidak, itu yang jadi perdebatan di komplek saya. Group WA riuh saling kirim referensi perlu atau tidaknya penyemprotan lingkungan dengan desinfektan dalam rangka mengurangi penyebaran virus Corona.

Yang setuju menggangap penyemprotan dapat mengurangi potensi penyebaran karena virus dapat bisa mati. Tepatnya diharapkan mati. Penyemprotan kabut desinfektan ini biasa digunakan di industri peternakan maupun makanan. Begitu kata satu tetangga saya. Dia memang banyak berkecimpung dikeduanya, sebagai pengusaha.

Di sisi yang lain, beberapa orang menggunakan jarinya untuk meneruskan screenshoot sebuah artikel yang menyatakan penyemprotan tidak efektif untuk membunuh virus Corona yang gampang menyebar ini. Sudah, itu saja. Usulannya hanya social distancing. yang sebenarnya sudah dijalankan bersama di komplek.

Continue reading “Disemprot Atau Tidak ?”

Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut

Saya mulai mengenal nama Kisah Tanah Jawa untuk pertama kali dari Youtube Channelnya. Berisi tentang pengalaman travelling ke tempat-tempat bersejarah dan penggalian kisah-kisah yang tidak tampak. Semuanya direkam dalam video dan buku.

Kreatifitas anak-anak muda sekarang ini selalu membuat saya kagum. Penulis buku ini termasuk didalamnya, yaitu Mada Zidan (Mbah KJ), Bonaventura D. Genta. Saya yang kadang suka penasaran terhibur dengan karya ini.

Buku ini berisi tentang kumpulan profil makhluk-makhluk tak kasat mata yang penulis temui ketika berkunjung ke tempat-tempat penelusuran mereka. Sudah barang tentu anda yang termasuk golongan penakut tidak perlu membaca buku ini. Tapi jika anda termasuk penakut yang penasaran, bolehlah beli satu dan baca.

Continue reading “Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut”

Review Buku: Strawerry Generation

Saya mendapatkan buku ini sudah cetakan ke tiga tahun 2017. Ini berarti fenomena yang dibahas oleh Pak Rhenald Kasali Ph.D. —penulisnya sudah ada dan dikenali beliau. Judulnya Strawberry Generation.

Buah yang berpenampilan menarik, merah merona tapi sangat rapuh terhadap gangguan. Begitu generasi muda yang saat ini ada dianalogikan di kumpulan tulisan beliau. Keberadaannya sangat menarik untuk perubahan ke depan yang lebih baik tapi perlu di tangani dengan hati-hati.

Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai yang mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Rhenald Kasali, Strawberry Generation, p264

Bagi saya yang sudah punya anak tulisan yang ada di buku ini memberikan banyak insight tentang bagaimana penanganan itu harus dilakukan dengan mengenali sifat-sifat generasi strawberry yang inginnya serba cepat (instan) dan gampang menyerah.

Mengapa sampai ada generasi yang seperti itu ? Selain perkembangan teknologi yang sudah cukup pesat dan memanjakan, orang tua juga berperan dalam membentuknya. Lha … saya termasuk didalamnya juga dong. Jadi banyak tulisan yang menohok saya di buku ini.

Dari hal yang sepele saja misalnya menyediakan gadget untuk anak-anak. Dulu dari layar sekecil itu hanya sedikit informasi yang bisa didapat. Pengetahuan baru didapat anak-anak dari sekolah, guru, buku, teman, orang-tua, dan media. Gadget masa kini banjir informasi 24/7. Bahkan hanya cukup berteman dengan satu gadget, anak-anak kita berkembang lebih cepat dari orang-tuanya.

Perubahan terjadi dengan dahsyat. Pengaruhnya di kehidupan saat ini tak kalah dashyat. Rasanya masa depan sudah makin cepat menghampiri. Orang tua seperti saya harus banyak belajar memahami perubahan yang terjadi.

Lewat buku ini Pak Rhenald Kasali mengajak semua pihak untuk dapat melihat, mengidentifikasi, dan mensikapi perubahan yang terjadi. Orang tua, guru, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah sebagai regulator diajak untuk terus memahami dan melakukan perubahan.

Karena yang pasti adalah perubahan.

Optimisme Corona

Gemparnya virus Corona sudah sedunia. Tercatat 109 negara yang sudah melaporkan warganya terserang. Ini berarti 45,23% dari total negara yang ada di dunia atau 56,47% negara anggota PBB.

China, Korea Selatan, Italia, dan Iran sudah mengkonfirmasi lebih dari 5000 kasus di negaranya. Yang disebut pertama malah sudah lebih dari 80 ribu. Karena dari salah satu provinsinya virus ini dikabarkan berasal. Yaitu Provinsi Hubei dengan ibukota Wuhan.

Bersyukur karena sampai saat ini —Saya menulis ini— Indonesia hanya ada 6 kasus. Beberapa minggu yang lalu banyak pihak meragukan jika di Indonesia tidak ada kasus ini. Mengingat begitu luas wilayah, banyak penduduk, dan lalu lintas keluar masuknya.

Yang menarik buat saya adalah gegap gempitanya kabar tentang virus ini. Hampir setiap hari dikabarkan jumlah total penderitanya. Di TV dan media online. Bahkan kalau perlu jumlah total sedunianya. Angkanya tentu besar. Efeknya sangat kuat.

Panic buying terjadi. Ketakutan menyusup ke aliran darah paling dalam. Masker habis. Hand Sanitizer lenyap di pasar. Mie instan dikabarkan lebih laris dari biasanya. Mungkin untuk stok jika diberlakukan kondisi darurat.

Saya jadi teringat dokumentasi National Geographic beberapa tahun lalu yang mengulas komunitas orang-orang yang percaya bahwa hari akhir sudah dekat. Mereka harus mempersiapkan diri dengan life support berupa makanan, minuman, dan survival skill.

Akankah terjadi di Indonesia ? Saya berharap tidak! Allah masih melindungi kita. Selama masih ada orang-orang yang baik di sebuah kawasan, Allah akan menghindarkannya dari bahaya. Insyaallah. Keyakinan sangat penting dibangun sebagai landasan untuk dapat berpikir lebih jernih.

Selain itu, jika melihat jumlah yang sembuh dan yang meninggal, optimisme bisa tumbuh. Per sore ini 62 ribu berbanding 3.800 dari total 110 ribu kasus. Optimisme akan naik lebih tinggi lagi jika melihat bahwa yang dilaporkan meninggal adalah mereka-mereka yang tingkat kondisinya memang sedang tidak fit dan tua.

Dan akan lebih naik lagi dengan melihat laju pertambahan kasus baru setiap harinya yang cenderung mengecil peningkatannya. Ini berarti penanganan sudah dilakukan dengan baik. Tidak ada lagi yang melewatkan begitu saja.

Sayangnya, cukup jarang media yang menyampaikannya dengan bombastis. Entah kenapa cuma jumlah total penderita yang sering di ekspose. Padahal jika data-data tersebut juga disampaikan dengan expose yang bagus, ketakutan bisa sirna. Optimisme tumbuh bersama sedunia.

Kalau mau menggenapi optimisme, bisa dengan mengenali profil dari virus Corona ini. Banyak sumber informasi yang sudah menyediakannya. Komparasi dengan wabah-wabah mendunia lainnya juga sudah banyak yang mengupload. Ini salah satunya.

Jadi mari membangun optimisme dengan memperbanyak pengetahuan dan filtering. Hal-hal yang berbau ketakutan tidak perlu disebar. Biarkan mengendap di hp masing-masing. Untuk kemudian dilupakan. Insyaallah mentari esok kan bersinar lagi.

Photo by 🇨🇭 Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash