Mimpi Damai Kota Kecil

Jam handphone saya baru menunjukkan pukul 20 tapi jalanan sudah lebih banyak gelap. Lampu tempat-tempat publik sudah banyak padam. Tanda mereka sudah mengakhiri layanannya.

Istri saya sempat berkomentar seperti sedang kemalaman di jalan. Saya tahu, dia sedang rindu mudik. Membelah malam melewati belasan kota kearah pulau Jawa bagian timur.

Padahal kami cuma membelah kota ini dengan bermobil. Mengobati kangen melihat dunia luar rumah. Kebetulan istri rehat sejenak, tidak menyalakan kompor malam ini.

Jalanan sepi sungguh kontras dengan padatnya lalu lintas 3 bulan lalu. Saat pandemi belum ditetapkan.

Saya justru nyaman dengan keadaan ini. Kota besar ini laksana kota kecil yang tidak ada aktifitas malamnya. Sebagian besar orang lelap dalam istirahatnya. Untuk kesegaran bekerja esok hari.

Ini hikmah pembatasan gerak yang sudah berjalan 2 bulan ini. Orang lebih punya banyak waktu beristirahat.

Ketika esoknya bekerja kembali, kondisinya lebih bugar. Bekerja dengan kondisi ini peluang produktifitasnya meningkat.

Saya lalu membayangkan damainya hidup di kota kecil. Sedikit sekali tekanan-tekanan kebutuhan yang tidak jelas. paling-paling hanya kebutuhan dasar hidup.

Tiba-tiba anak saya berseru, “Pak McD-nya hampir terlewat!”

Walah… mau bermimpi hidup damai sebentar tanpa banyak kebutuhan susah ternyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *