Kucing Tiga

Saya merasa bersalah dengan ketiga kucing kami. Mereka sekeluarga awalnya berdelapan. Bapak, Ibu, dengan 6 anak. Yang 5 ekor sudah diadopsi –semoga mereka sehat.

Tersisa 3 sudah berkandang masing-masing. Hari-harinya lebih banyak disana. Makan dan tidur. Si anak suka mengeong saat sendirian.

Mendengarnya berkali-kali sering membuat saya merasa dia sedang menyampaikan sesuatu. Mengingat usianya yang baru 6 bulan.

Usia segitu adalah usia bermain. Kejar sana sini. Tangkap ekor saudaranya. Atau bahkan main Ucing sumput. Haha…

Dan memang begitulah dia jika dilepas di dalam rumah Kami. Lari sana sini. Kadang tabrak kaki meja. Sedetik kemudian sudah memanjat selambu ruang tamu.

Akibatnya, saya sering kena omel pemilik selambu itu –istri saya. Mungkin hatinya tercabik-cabik setiap kali kuku kucing menancap disana.

Lantai rumah tak kalah berantakan. Ada saja rambut kucing bertebaran. Belum lagi jika mereka mengeluarkan isi kolong lemari yg biasanya penuh debu.

Habis tuntas stok omelan istri saya. Untungnya masih mau jadi tenaga pembersihan kekacauan itu. Tapi si ucing harus balik kandang.

Dan bisa berhari hari mereka berdiam disana. Terkadang saya terlalu malas membereskan kekacauannya. Makan, minum, beol di kandangnya.

Demi ketenangan saya, mereka harus berkandang. Egoisnya saya, berkurangnya kebebasan mereka.

Maaf ya Cing…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *