TV Umum Ibu Kos

Di sekitar akhir tahun 90 sampai awal 2000an fasilitas kos paling mewah adalah telepon umum. Telepon yang bisa dipakai oleh penghuni kos untuk menerima saja.

Fasilitas yang agak lazim adalah TV umum. Boleh dihidupkan dan ditonton oleh siapa saja. Anak maupun ibu kos dan keluarganya.

Jika anak kos nonton bersamaan dengan keluarga ibu kos, kebebasan memilih channel akan sedikit hilang. Sebagai anak kos yang sopan –tampil sopan sudah sewajarnya menyerahkan remot ke tuan rumah.

Jika pilihan ibu jatuh pada channel sinetron, kami anak kos ikutan ber melow ria. Jika siaran berita, kami ikutan jadi seperti pemikir negara. Tapi jika kebetulan siaran sedang tidak sesuai selera, ya sudah ditinggal pergi saja.

Youtube masih belum ada pada tahun-tahun itu. Cewek-cewek joged di Tik Tok juga tidak ada. Malah mungkin merekanya juga belum lahir. Seperti Instagram dan Facebook, masih di angan-angan penciptanya.

Pada tahun-tahun itu sumber hiburan di rumah berpusat di TV. Tak jarang benda yang satu ini sengaja di atur menjadi center of interest pada ruang keluarga. Mengingat keajaibannya, satu benda yang bisa membawa dunia datang ke rumah kita.

Kabar dari benua manapun bisa sampai ke rumah berupa suara dan gambar bergerak. Film-film seru bisa dinikmati sambil pakai daster atau sarung.

Di kos saya TV umum ada di ruang keluarga ibu Kos. Ruangan ini jadi tempat kegiatan bersama anak-anak dan juga anak kos. Karena dekat dengan dapur dan dua kamar mandi yang juga bisa dipakai oleh siapapun penghuni rumah.

Sebenarnya ada satu lagi TV di ruang depan. TV tabung kuno yang bentuknya mirip meja hias. Kotak berkaki dan di bagian depannya punya dua pintu geser untuk membuka dan menutup.

Tabung kaca baru terlihat setelah pintu geser itu terbuka. Dan butuh beberapa waktu menyala agar gambarnya sedikit lebih jelas dan tidak menggulung.

Warna gambarnya hanya 2, hitam dan putih (entah kenapa hitam yang disebut duluan). Jika ingin lebih berwarna, dibagian depan tabung bisa dipasang selembar plastik keras berwarna biru. Jadilah hitam biru.

TV ini lebih sering mati. Sama sekali tidak ada yang berminat nonton di TV yang ini. Termasuk saya.

Tapi sekali waktu pernah mencoba untuk mengobati penasaran. Hasilnya saya malah dibuat bingung. Waktu itu siaran Liga Italia pertandingan antara AC Milan vs Inter Milan.

Pola seragamnya sama, garis- garis vertikal. Hitam merah melawan biru merah. Tapi di TV itu jadinya 20 pemain paki kostum mirip. Hitam abu tua. Kecuali kiper, wasit, hakim garis. Dan tentu saja penonton.

Mungkin ini yang menyebabkan ibu kos tidak pernah nonton di TV ini. Tapi eh … beliau juga nggak suka nonton sepak bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *