Terkenang Pakde

Saya tersendat di tahap ke lima, menyisipkan humor. Empat tahapan sebelumnya bisa dilalui dengan lancar. Tapi tugas ke lima dari Pakde ini cukup bikin pusing.

Sampai-sampai saya harus menjadi serius memikirkan humor apa yang nyambung dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Semakin serius berpikir, semakin tidak humor yang muncul. Haha humor kok serius.

“Untunglah nyadar,” begitu balasan chat Pakde Prie GS merespon curhat saya karena terlalu serius. Saya cuma bisa tersenyum kecut.

Continue reading “Terkenang Pakde”